Tsunami Selat Sunda – Lemari Pendingin Tiba, Jenazah Membusuk Mulai Teratasi

oleh -1 views
Tsunami Selat Sunda - Lemari Pendingin Tiba, Jenazah Membusuk Mulai Teratasi

ANTERO.CO SERANG – Kontainer pendingin jenazah di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Berkah Pandeglang sempat kekurangan, sehingga jenazah hampir membusuk.

Namun, Kepala Disaster Victim Identification (DVI) Polri Kombes Pol Lisda Cancer mengatakan, RSUD Berkah Pandeglang kini sudah menerima satu unit lemari pendingin untuk menyimpan jenazah.

Baca juga: BNPB: Tsunami Selat Sunda Banten dan Lampung Jadi Bencana Kabupaten

“Masalah pembusukan sudah bisa ditangani. Tadi malam (RSUD Berkah Pandeglang) sudah mendapat cooler container untuk menyimpan jenazah dengan suhu -20 derajat,” kata Lisda seperti dilansir kantor berita Antara, Selasa (25/12).

1. Lemari pendingin bisa menampung sekitar 50 jenazah

Lisda menjelaskan satu unit lemari pendingin ini bisa menampung sekitar 50 jenazah.

“Sekarang jenazah yang tersisa sudah tersimpan di sana (cooler container),” kata dia.

Lemari pendingin ini adalah pinjaman dari Perhimpunan Rumah Sakit (Persi) Provinsi Banten, untuk mengatasi masalah pembusukan jenazah yang belum tertangani di RSUD tersebut.

2. Sebanyak 84 jenazah korban tsunami Selat Sunda mulai membusuk

Sebelumnya, diberitakan 84 jenazah korban tsunami Selat Sunda yang belum teridentifikasi di RSUD Berkah Pandeglang, mulai membusuk karena jenazah disimpan di ruangan tanpa pendingin akibat pengelola RSUD tidak memiliki lemari pendingin jenazah yang berkapasitas besar.

Direktur RSUD Berkat Pandeglang Firmansyah membenarkan sebagian jenazah korban tsunami Selat Sunda hampir membusuk, karena tidak ada lemari pendingin. Kendati, bantuan lemari pendingin dari Perhimpunan Rumah Sakit Seluruh Indonesia (Persi) sudah tiba Senin (24/12) pukul 16.00 WIB.

“Sudah tiba kemarin jam 16.00,” ujar Firmansyah saat dikonfirmasi Wartawan, Selasa (25/12).

3. Lebih dari 400 orang meninggal dunia akibat tsunami Selat Sunda

Kepal Pusat Data dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Sutopo Purwo Nugroho sebelumnya mengatakan, tsunami yang disebut-sebut akibat fenomena naiknya gelombang laut dan erupsi Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda, menghancurkan lima kabupaten di wilayah Provinsi Banten dan Lampung, yakni Pandeglang, Serang, Lampung Selatan, Tanggamus dan Pesawaran.

Baca juga: Peduli Bencana Selat Sunda, FPI Jawilan Galang Dana

Sementara, korban jiwa di masing-masing kabupaten yakni Pandeglang 290 orang, Serang 29 orang, Lampung Selatan 108 orang, serta Tanggamus dan Pesawaran masing-masing satu orang. Total korban meninggal hingga Selasa (25/12) pukul 13.00 WIB, 429 orang.

4. Wilayah Kecamatan Sumur masih terisolir

Wilayah terisolir dari tujuh desa di Kecamatan Sumur yang semua berada di pesisir Pandeglang, Banten, baru Dusun Panilis dan Tanjung Male di Desa Tamanjaya, yang dapat dijangkau tim evakuasi gabungan. Enam desa lain yang memerlukan bantuan berada di Kecamatan Sumur.

“Desa Cigorondong, Kertajaya, Sumberjaya, Tunggajaya, Ujungjaya, dan Desa Kertamukti,” kata Sutopo, Selasa (25/12).

Selain Provinsi Banten, Sutopo melanjutkan, daerah terisolir lainnya adalah Pulau Sabesi dan Pulau Sebuku, di Kabupaten Lampung Selatan, Lampung.

Baca juga: Akankah Anak Krakatau Meletus Sedahsyat Induknya? Simak Faktanya

Sutopo menyebutkan tim gabungan masih berusaha menjangkau wilayah terisolir melalui udara, darat, dan laut.

“Masih kita coba jangkau, tapi kita belum bisa memastikan rampung kapan,” kata dia.

5. Dua faktor alam diduga menjadi penyebab tsunami

Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menyebutkan tsunami yang terjadi di wilayah pesisir barat Provinsi Banten dan Lampung Selatan itu disebut-sebut akibat dua faktor alam dan fenomena langka.

Pertama, karena naiknya gelombang akibat bulan purnama. Kedua, akibat erupsi Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda, yang memicu terjadinya longsor tanah bawah laut.

Alat pendeteksi tsunami yang menjadi alarm peringatan dini tsunami tidak berfungsi, sehingga masyarakat tidak mengetahui datangnya tsunami. BMKG awalnya menyebut datangnya gelombang laut akibat laut pasang, namun pada Minggu (23/12) dini hari, meralat kejadian tersebut sebagai gelombang tsunami.

Sementara, BNPB maupun BMKG menyebutkan, Indonesia belum memiliki alat pendeteksi tsunami yang disebabkan erupsi gunung. Indonesia hanya memiliki alat pendeteksi tsunami akibat gempa bumi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *