Survei Indikator: Jokowi-Ma’ruf Turun 2,8%, Prabowo-Sandi Naik 2,5%

ANTERO.CO – Pasangan Prabowo Subianto-Sandiaga Salahuddin Uno terus memangkas selisih elektabilitas dari pasangan Joko Widodo-Ma’ruf Amin, tetapi belum terlalu signifikan untuk menggoyahkan petahana.

Lembaga survei Indikator Politik Indonesia merilis hasil survei mengenai media sosial, hoaks, dan sikap partisan dalam Pilpres 2019, seperti isu-isu personal yang menyerang calon presiden. Baik capres nomor urut satu (01) Joko Widodo maupun capres nomor urut dua (02) Prabowo Subianto.

Isu yang menyerang Jokowi yang pertama yaitu orangtua Jokowi beragama Kristen. Hasilnya, sekitar 20 persen warga tahu atau pernah dengar tuduhan bahwa Jokowi terlahir dari orangtua yang beragama Kristen.

Baca juga: Survei LIPI: Jokowi 46%, Prabowo 17%

“Di antara yang mengetahui itu, 57 persen mayoritas tidak percaya, 20 persen percaya, dan 23 persen tidak bisa menilai,” papar Direktur Eksekutif Indikator Politik Indonesia Burhanuddin Muhtadi, di Kantor Indikator Politik Indonesia, Jalan Cikini V No.15 A, Menteng, Jakarta Pusat, Selasa (8/1).

Isu kedua yang menyerang Jokowi adalah kebangkitan PKI, yang 18 persen responden setuju saat ini paham komunis tengah bangkit kembali. Dari 18 persen, 85 persen bahkan merasa hal tersebut menjadi ancaman negara.

Ketiga, sekitar 23 persen warga tahu atau pernah mendengar, isu Jokowi beretnis Cina atau Tionghoa. Namun, 58 persen dari mereka tidak percaya bahwa Jokowi keturunan atau beretnis Cina.

“Di antara yang mengetahui, mayoritas tidak percaya 58 persen. Sekitar 24 persen percaya, dan selebihnya tidak bisa menilai, 18 persen,” jelasnya.

Terakhir, hasil survei isu yang menyerang Prabowo yakni isu dirinya terlibat penculikan aktivis 97/98.

“Sekitar 30 persen warga tahu atau pernah dengar isu keterkaitan Prabowo Subianto dalam kasus penculikan aktivis 97/98. Di antara yang mengetahui, lebih banyak yang percaya, 40 persen. Sekitar 33 perden pecata dan selebihnya tidak bisa menilai, 27 persen,” ungkapnya.

Baca juga: Survei Pilpres 2019: Jokowi Kalah di Banten, Unggul di Jawa Barat

Akses Media dan Internet

Indikator Politik Indonesia juga memaparkan hasil penggunakan media dan internet. Televisi mendapat peringkat pertama, media yang paling banyak digunakan publik untuk mencari informasi terkait masalah-masalah politik dan pemerintahan, disusul internet, koran, dan radio.

Namun, kelompok yang paling intens mengikuti berita tentang masalah-masalah politik melalui televisi, koran, dan radio mengalami penurunan, sementara internet semakin banyak yang mengakses, meningkat tiga kali lipat dalam empat tahun.

Penggunaan Internet

Jumlah pengguna internet di kalangan pemilih Indonesia mengalami lonjakan tajam dalam empat tahun terakhir. Pada Maret 2014 pengguna internet sekitar 20 persen, yang meningkat dua kali lipat menjadi sekitar 40 persen pada Maret 2018.

Berdasarkan DPT Pemilu 2019 dari KPU total pemilih dalam negeri sebanyak 190.770.329 juta pemilih. Jika di konversi maka pengguna internet di kalangan pemilih mencapai sekitar 95,4 juta.

Penggunaan media sosial

Indikator Politik Indonesia melakukan survei terhadap penggunaan media sosial diantaranya WhatsApp, Facebook, Youtube, Instagram, Line, Twitter, dan Telegram.

Diantara media sosial, Facebook mendapat peringkat pengguna paling banyak dan intensif. Sekitar 82 persen dari total pengguna internet adalah pengguna Facebook dan 43 persen di antara pengguna, menggunakannya hampir setiap hari.

Disusul pengguna Youtube sebesar 68 dari pengguna internet. 28 persen diantara pengguna tersebut mengakses Youtube hampir setiap hari.

Lalu pengguna instagram adalah 42 persen dari pengguna internet dan 23 persen diantanya mengakses hampir setiap hari. Terakhir pengguna Twitter hanya 11 persen dari pengguna internet dan hanya dua persen saja yang mengakses Twitter tiap harinya.

Untuk pesan instan, 90 persen pengguna internet menggunakan pesan WhatsApp dan 77 persen di antaranya menggunakan hampir tiap hari. Sementara hanya 12 persen saja pengguna internet yang menggunakan Line dan hanya lima persen yang mengaksesnya setiap hari.

Dukungan Capres Cawapres menurut Akses terhadap media

Secara keseluruhan, pasangan Jokowi-Ma’ruf unggul dari pasangan Prabowo-Sandi dari mulai dukungan capres-cawapres menurut pengguna internet, pengguna media sosial, dan akses berita sosial, politik, dan pemerintahan.

Namun, dukungan terhadap Prabowo-Sandi pun cenderung semakin tinggi pada kelompok yang paling intens mengaksesnya, terutama Facebook, Twitter, dan internet secara umum.

Isu-Isu Personal Capres menurut akses terhadap media

Dalam temuan survei nasional Indikator Politik Indonesia, isu-isu personal capres lebih banyak diakses pengguna internet ketimbang pengguna televisi.

“Dibanding dengan media mainstream, terutama televisi, isu-isu personal capres lebih banyak diakses oleh kalangan pengguna internet, terutama pada kelompok-kelompok yang semakin sering mengikuti informasi terkait masalah-masalah politik dan pemerintahan,” paparnya.

Sedangkan untuk temuan pengguna media sosial Facebook, Youtube dan Instagram, semakin sering pengguna menggunakan medsos terutama mengikuti berita politik dan pemerintahan, maka paparan isu-isu personal capres terhadap pemilih semakin tinggi.

Ketertarikan terhadap Masalah Politik dan Pemerintahan Masyarakat Rendah

Secara umum, mayoritas publik nasional kurang tertarik terhadap masalah-masalah politik pemerintahan. Mayoritas publik nasional yang kurang tertarik sebesar 38 persen, tidak tertarik sama sekali sebesar 25 persen, cukup tertarik atau sangat tertarik 33 persen, dan tidak bersikap sebesar empat persen.

Kesimpulan temuan kelompok yang lebih tertarik dengan masalah-masalah politik dan pemerintahan jauh lebih banyak terpapar oleh isu-isu personal capres, secara umum hampir dua kali lipat dibanding kelompok yang kurang tertarik.

Namun, paparan isu personal capres tampak tidak memiliki efek yang berbeda terhadap sikap publik baik yang lebih tertarik atau yang kurang tertarik dengan masalah politik dan pemerintahan. Kecuali, pada isu keterlibatan Prabowo dalam kasus penculikan aktivis, kelompok yang lebih tertarik pada persoalan politik dan pemerintahan cenderung lebih percaya.

Efek Partisan

Pada basis Jokowi-Ma’ruf, isu orangtua Jokowi Kristen, mayoritas tidak percaya akan isu tersebut yakni sebesar 84 persen, percaya enam persen dan tidak tahu atau jawab 10 persen. Sedangkan basis Prabowo-Sandi 39 persen tidak percaya isu orangtua Jokowi Kristen, 30 persen percaya, dan 31 persen tidak tahu atau jawab.

Isu lain, masih yang menghadap Jokowi yakni isu Jokowi beretnis Cina. Hasilnya, 82 persen basis Jokowi-Ma’ruf tidak percaya, tujuh persen percaya, dan 11 persen tidak tahu atau jawab. Untuk basis Prabowo-Sandi 39 persen percaya Jokowi beretnis Tionghoa, 35 persen tidak percaya isu tersebut, dan 26 persen tidak tahu atau jawab.

Soal isu kebangkitan PKI baik basis Jokowi-Ma’ruf (81 persen) maupun basis Prabowo-Sandi (54 persen) tidak percaya akan bangkitnya isu PKI. Sedangkan yang percaya basis Jokowi-Ma’ruf 17 persen dan basis Prabowo-Sandi 42 persen. Hanya dua persen basis Jokowi-Ma’ruf yang tidak menjawab dan empat persen dari basis Prabowo-Sandi.

Terkait isu personal yang menerpa Prabowo, yakni isu Prabowo terlibat penculikan aktivis 97/98, sebesar 65 persen basis Jokowi-Ma’ruf mempercayai isu itu. Sedangkan hanya 63 persen basis Prabowo-Sandi tidak percaya. Hanya 21 persen yang percaya dan 17 persen tidak tahu atau jawab. Basis Jokowi-Ma’ruf juga 16 persen tidak percaya dan 19 persen mengaku tidak tahu atau jawab.

Dari temuan tersebut, menurut Burhanuddin sikap publik yang terpapar isu-isu personal capres tampak sangat dipengaruhi oleh faktor partisan.

“Pada basis Jokowi-Ma’ruf, mayoritas tidak percaya dengan isu-isu persona Jokowi. Sebaliknya, basis Prabowo-Sandi mayoritas tidak percaya dengan isu personal Prabowo,” tukasnya.

Loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here