Sejarah Menara Suar Titik Nol Banten dan Letusan Gunung Krakatau 1883

oleh -3 views
Sejarah Menara Suar Titik Nol Banten dan Letusan Gunung Krakatau 1883
Sejarah Menara Suar Titik Nol Banten dan Letusan Gunung Krakatau 1883

ANTERO.CO, SEJARAH – Anyar atau anyer adalah nama sebuah kecamatan di Kabupaten serang, Provinsi Banten, Indonesia. Sebagai daerah pesisir pantai anyer tidak hanya terdapat wisata alam pantai yang indah, karena daerahnya yang dipesisir pantai maka anyer juga memiliki mercusuar yang pada saat itu digunakan untuk sarana bantu navigasi kapal di laut.

Menara suar ini diyakini sebagai titik nol atau titik awal dari pembangunan jalan Anyer-Panarukan oleh Gubernur Jenderal Hindia Belanda Daendels. Pada pintu masuk mercusuar terdapat tulisan bahwa mercusuar ini dibangun pada tahun 1885. Menurut penuturan penjaga mercusuar, pada awalnya mercusuar ini dibangun pada tahun 1806, proyek jalan Anyer-Panarukan baru dijalankan tahun 1825. Saat gunung krakatau meletus pada tahun 1883, mercusuar ini hancur, hanya menyisakan pondasinya saja. Dan, dua tahun kemudian, yaitu tahun 1885, di bawah pemerintahan Z.M Willem III mercusuar ini kembali dibangun. Sebagaimana terlihat dengan tulisan di atas pintu masuk, yaitu:

Onder De Regeering Van
Z.M. Willem III
Koning Der Nederlanden
.N.Z C.N.Z C.N.Z
OPGERICHT VOOR VAST LICHT 21 GROOTTE.
VER VERVANGING VAN DEN STEENEN LICHTTOREN
IN 1883 BV DE RAMP VAN KRAKATAU VERNIELD
1885

Bangunan mercusuar yang berdiri saat ini adalah bangunan baru. Dan lokasinya berbeda dengan bangunan awal. Mercusuar yang saat ini dibangun 500m lebih ke daratan, sementara untuk pondasi mercusuar lama saat ini dijadikan sebagai tugu nol kilometer. Bangunan setinggi 75,5meter ini masih kokoh berdiri hingga sekarang. Dinding bangunan terbuat dari baja setebal 2,5-3cm. Dinding bangunannya secara rutin di cat ulang sedangkan bagian dalam selalu dibersihkan agar tidak licin. Di bagian belakang bangunan tertera tulisan:

VERVAARDIGO DOOR DE FIRMA
L.I.E.N.T.H.O.V.E.N & c.o
‘s CRAVENHAGE
HOLLAND
1885

Tulisan tersebut menerangkan nama perusahaan yang membangun mercusuar ini, yaitu L.I.E.N.T.H.O.V.E.N & c.o. Di bagian tengah mercusuar terdapat bangunan kecil yang menjulang ke atas. Ini adalah sumbu atau penyangga dari mercusuar. Untuk mencapai puncak tertinggi mercusuar, pengunjung harus naik tangga manual 286 anak tangga dari 18 lanta

Sejarah Titik Nol Mercusuar Anyer Banten

Mercusuar Anyer yang menjulang setinggi 75,5 meter berdiri kokoh di Kampung Bojong, Desa Cikoneng, Anyer, Banten. Bangunan itu, yang biasa disebut Mercusuar Cikoneng, adalah bagian dari bukti besarnya letusan Gunung Krakatau pada 27 Agustus 1883.

Mercusuar Anyer memang dibangun pada tahun 1885, sebagai pengganti bangunan mercusuar sebelumnya yang dihancurkan oleh tsunami setinggi 40 meter akibat letusan Gunung Krakatau pada tahun 1883. Jadi, bangunan mercusuar yang berdiri saat ini adalah bangunan baru.

Bahkan lokasinya berbeda dari bangunan awal, 500 meter lebih ke daratan. Padahal fondasi mercusuar tua saat ini digunakan sebagai monumen nol kilometer. Dalam film Krakatau: The Last Days disutradarai oleh Sam Miller (1968), bangunan mercusuar tua yang dikenal sebagai Mercusuar ke-4 ini terletak di Anyer.

Narator Geologist Rogier Verbeek pada Mei 1883 mengunjungi keluarga Schuits dari Belanda yang bekerja dan tinggal di Mercusuar ke-4 di Anyer, 30 mil di sebelah timur Gunung Krakatau. Verbeek ingin menyaksikan dahsyatnya aktivitas Gunung Krakatau dari dekat.

Baca juga: 45 Tempat Wisata di Banten yang Wajib Dikunjungi Saat Liburan

Akhirnya pada Agustus 1883 bangunan Mercusuar ke-4 dihancurkan setelah dilanda tsunami setinggi 40 meter dan hanya menyisakan fondasinya. Tsunami besar ini terjadi setelah Gunung Krakatau meletus dengan hebat selama 20 jam.

Menurut Simon Winchester, seorang ahli geologi yang lulus dari Universitas Oxford di Inggris yang juga penulis National Geographic, ledakan Gunung Krakatau adalah yang terbesar. Suara paling keras dan peristiwa vulkanik paling dahsyat dalam sejarah manusia modern.

Menurut para peneliti di University of North Dakota, ledakan Krakatau dan ledakan Tambora (1815) mencatat nilai Volcanic Explosivity Index (VEI) terbesar dalam sejarah modern. Guinness Book of Records mencatat ledakan Krakatau sebagai ledakan paling kuat yang tercatat dalam sejarah. Suara letusan terdengar hingga 4.600 km dari pusat erupsi. Bahkan dapat didengar oleh 1/8 dari populasi bumi pada waktu itu.

Letusan Gunung Krakatau 1883

Letusan Gunung Krakatau 1883
Ilustrasi Letusan Gunung Krakatau 1883

Letusan Gunung Krakatau melemparkan batu apung dan abu vulkanik dengan volume 18 kilometer kubik. Semburan debu vulkanik mencapai 80 km. Benda-benda keras yang tersebar di udara jatuh di dataran Jawa dan Sumatra bahkan ke Sri Lanka, India, Pakistan, Australia, dan Selandia Baru.

Tsunami (gelombang laut) disebabkan oleh tingginya mencapai sekitar 40 meter. Tsunami ini timbul tidak hanya karena letusan tetapi juga longsoran bawah laut. Gelombang tsunami menghancurkan 295 desa atau desa di wilayah pesisir. Mulai dari Merak di Kota Cilegon hingga Cilamaya di Karawang, pantai barat Banten hingga Tanjung Layar di Pulau Panaitan (Ujung Kulon) dan Sumatera bagian selatan. Tercatat korban tewas mencapai 36.417 orang.

Gelombang tsunami yang dihasilkan bahkan menyebar ke pantai Hawaii, pantai barat Amerika Tengah dan Semenanjung Arab yang berjarak 7.000 kilometer (Km). Di Ujung Kulon, banjir mencapai 15 km ke barat. Keesokan harinya hingga beberapa hari kemudian, warga Jakarta dan pedalaman Lampung tidak lagi melihat matahari.

Kemudian dua tahun kemudian atau pada 1885 kekaisaran Belanda membangun mercusuar baru yang lebih tinggi, Mercusuar Anyer. Mercusuar ini dibangun pada masa pemerintahan ZM Willem III dan naik setinggi 75,5 meter dan terdiri dari 18 tingkat.

Baca juga: 10 Fakta Menarik tentang Gunung Everest

Saat ini bangunan baja setebal 2,5 cm lebih dari 170 tahun. Hingga saat ini, masih berfungsi untuk memandu kapal-kapal yang lewat di malam hari dan menjadi objek wisata.

Mercusuar juga diyakini sebagai titik nol atau titik awal untuk pembangunan jalan Anyer-Panarukan oleh Gubernur ke-36 Hindia Belanda, Herman Willem Daendels. Jalan yang membentang dari barat ke timur dari pantai utara Jawa dikenal sebagai De Grote Postweg atau Postal Highway.

Pembangunan jalan yang memakan waktu satu tahun pada periode 1808-1811 memiliki panjang lebih dari 1.000 Km atau sekitar 1.228 Km. Memang, bangunan mercusuar baru dibangun pada tahun 1885, tetapi bangunan mercusuar tua yang dihancurkan oleh tsunami diperkirakan didirikan pada tahun 1806.

Baca selengkapnya : Sejarah Letusan Gunung Krakatau – Wisata Gunung Anak Krakatau

Print Friendly, PDF & Email

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *