Sejak 2013 Aceh Larang Warganya Pesta Tahun Baru Masehi

oleh -1 views
Sejak 2013 Aceh Larang Warganya Pesta Tahun Baru Masehi
ilustrasi tahun baru 2019

ANTERO ACEH – Pemerintah Kota Banda Aceh kembali melarang warganya merayakan tahun baru 2019. Ini adalah larangan tahun ketujuh. Dalam dua tahun terakhir, konten banding yang dikeluarkan sedikit lebih longgar daripada tahun-tahun sebelumnya.

Baca juga: Aceh Nyatakan Siap Jadi Tuan Rumah O2SN 2019

Disimpulkan oleh AFP pada Selasa (18/12/2018), larangan pertama pada perayaan tahun baru dikeluarkan pada bulan Desember 2012. Pada saat itu, itu masih terbatas pada larangan meniup terompet dan kembang api. Tahun berikutnya, Pemerintah Kota memperketat aturan termasuk tidak diizinkan untuk zikir dan meyakinkan pada malam tahun ini.

Larangan perayaan tahun baru 2013 di Aceh

Menjelang malam pergantian tahun baru 2013, Majelis Permusyawaratan Ulama (MPU) Provinsi Aceh, mengeluarkan imbauan haram perayaan tahun baru. Kala itu, yang dilarang yaitu penyambutan dengan pesta pora seperti meniup terompet, membakar lilin, atau duduk berbaur pria dan wanita non muhrim. Hal itu dinilai sebagai perbuatan setan dan tergolong maksiat.

“Jangan rayakan pergantian tahun dengan hura-hura seperti bakar mercon, tiup terompet, dansa, serta tindakan yang melanggar syariat Islam. Penyambutan itu haram dilakukan oleh warga Aceh,” kata Faisal Ali pada wartawan, Senin (30/12/2012) lalu.

Setelah adanya imbauan tersebut, Pemerintah Kota Banda Aceh mengsosialisasikan larangan bagi para pedagang untuk tidak menjual terompet dan kembang api. Warga kota juga dilarang meniup terompet.

Larangan perayaan tahun baru 2014 di Aceh

Sedangkan jelang pergantian 2014, Pemko Banda Aceh membuat larangan mulai ketat. Majelis Permusyawaratan Ulama (MPU) Banda Aceh waktu itu sampai mengeluarkan fatwa haram perayaan tahun baru. Fatwa itu dikeluarkan untuk mengantisipasi terjadinya hal-hal yang menjurus kepada maksiat.

Artinya, pada malam pergantian tahun 2014 tidak boleh adanya perayaan dalam bentuk apapun. Namun fatwa ulama ketika itu tidak ditaati. Masyarakat tetap merayakan tahun baru dengan meriah.

Larangan perayaan tahun baru 2015 di Aceh

Pada Desember 2014, Pemko Banda Aceh menyebarkan 10 ribu SMS berisi larangan perayaan tahun baru. Pesan singkat yang dikirim Pemko Banda Aceh bekerja sama dengan Telkom itu berbunyi “WALI KOTA Banda Aceh beserta Forkompinda menghimbau seluruh warga kota agar tidak merayakan malam tahun baru 2015 M dalam bentuk apapun demikian dan terimakasih.”

Wali Kota Banda Aceh Illiza Saaduddin Djamal, mengatakan, pelarangan perayaan tahun baru merupakan bagian dari penegakan syariat Islam di Banda Aceh. Selain itu, larangan tersebut juga untuk menyelamatkan akidah umat Islam agar tak terjerumus ke dalam perbuatan yang melanggar syariat.

“Agar masyarakat tidak melakukan perbuatan yang bertentangan dengan syariat Islam,” kata Illiza waktu itu.

Larangan perayaan tahun baru 2016 di Aceh

Aturan ketat dibikin Pemkot Banda Aceh menjelang pergantian tahun 2016. Waktu itu, selain pesta kembang api, Pemko juga melarang masyarakat membuat kegiatan zikir di masjid atau pun tempat-tempat umum lainnya.

Seruan larangan itu kemudian ditempel ditempat-tempat umum. Salah satu isi poin tersebut yaitu melarang perayan tahun baru dalam bentuk apapun.

“Baik yang berbungkus dengan nuansa agama seperti zikir maupun yasinan, tausyiah dan lain-lain, atau yang bersifat hura-hura seperti pesta kembang api, terompet, permainan-permainan yang tidak bermanfaat dan bertentangan dengan norma-norma agama Islam, adat istiadat, kebiasaan dan etika masyarakat Aceh, serta balap-balapan yang bersifat membahayakan bagi orang lain dan diri sendiri,” isi larangan.

Meski demikian, warga tetap berkumpul di Simpang Lima Banda Aceh menjelang detik-detik pergantian tahun. Namun tidak ada pembakaran kembang api ataupun mercon.

Larangan perayaan tahun baru 2016 di Aceh

Menjelang tahun baru 2017, aturan semakin ketat diterapkan. Pemko Banda Aceh menambahkan poin larangan waktu itu. Pada malam pergantian tahun, masyarakat dilarang melakukan kegiatan dalam bentuk apapun.

Larangan tersebut di antaranya berisikan larangan pesta kembang api, mercon dan kegiatan berbungkus keagamaan seperti zikir, yasinan, tausyiah maupun lainnya. Selain itu, warung kopi juga diwajibkan tutup pada pukul 23.00 WIB hingga pagi hari.

Razia meningkat kala itu. Pedagang mercon dirazia, sementara warung kopi yang “bandel” disambangi polisi syariah. Tidak ada perayaan sama sekali waktu itu hanya ada sejumlah warga berkumpul di Bundara Simpang Lima Banda Aceh. Itupun tidak terlalu lama.

Larangan Rayakan Malam Pergantian Tahun 2018 di Aceh

Sementara pada malam pergantian tahun baru 2018, aturan yang dikeluarkan Pemko Banda Aceh mulai longgar kembali. Waktu itu, Pemko hanya melarang perayaan dalam bentuk pesta kembang api dan mercon. Selain itu, juga yang dinilai melanggar syariat Islam.

“Kegiatan seperti zikir dan kegiatan keagamaan tidak dilarang,” Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Kota Banda Aceh Arief Fadhillah kala itu.

Menjelang detik-detik pergantian tahun, sebuah sepanduk berisi imbauan dipasang oleh Satpol PP dan Wilayatul Hisbah (WH/Polisi Syariah) Aceh. Isinya, ajakan untuk tidak menabuh lonceng, hingga kembang api.

“Sukseskan! Aksi tidak keluar malam tahun baru 2018,” bunyi bagian atas baliho.

Larangan perayaan tahun baru 2019 di Aceh

Sementara pada Desember 2018, Pemkot Banda Aceh kembali mengeluarkan imbauan perayaan. Imbauan yang dikeluarkan Forkopimda itu yaitu melarang perayaan seperti pesta kembang api, mercon/petasan, meniup terompet, balap-balapan kendaraan dan permainan/kegiatan hura-hura lainnya yang tidak bermanfaat serta bertentangan dengan Syariat Islam dan Adat Istiadat Aceh

Aturan itu bukan hanya berlaku di tempat umum saja. Hotel yang membuat kegiatan bernuansa perayaan tahun baru akan dicabut izin.

“Tidak ada terkecuali hotel di mana saja tempat dilarang membuat acara apapun pada saat menyambut tahun baru. Kalau ada hotel yang melakukan itu, ini kita Insyaallah akan kita cabut izin,” kata Wali Kota Banda Aceh Aminullah Usman, Senin (17/12/2018).

Print Friendly, PDF & Email

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *