Resep Gudeg Basah Makanan Khas Yogyakarta

oleh -16 views

Gudeg tak hanya jadi kuliner khas, atau ikon kuliner, atau makanan wajib yang wajib dicicipi saat menyambangi Yogyakarta. Gudeg adalah identitas sekaligus memiliki eksistensi yang sangat kuat, bahkan bisa disebut mendarah daging bagi warga Yogyakarta.

Gudeg (ejaan bahasa Jawa: Gudheg) adalah makanan khas Yogyakarta dan Jawa Tengah yang terbuat dari nangka muda yang dimasak dengan santan. Perlu waktu berjam-jam untuk membuat masakan ini. Warna coklat biasanya dihasilkan oleh daun jati yang dimasak bersamaan. Gudeg dimakan dengan nasi dan disajikan dengan kuah santan kental (areh), ayam kampung, telur, tempe, tahu dan sambal goreng krecek.

Ada berbagai varian gudeg, antara lain:

  • Gudeg kering, yaitu gudeg yang disajikan dengan areh kental, jauh lebih kental daripada santan pada masakan padang.
  • Gudeg basah, yaitu gudeg yang disajikan dengan areh encer.
  • Gudeg Solo, yaitu gudeg yang arehnya berwarna putih.

Asal-usul gudeg sudah ada sejak abad ke-16. Waktu itu, para prajurit Kerajaan Mataram sedang membuat hutan untuk membuat peradaban yang dikenal sebagai kawasan Kotagede. Di hutan tersebut, terdapat banyak pohon nangka dan kelapa.

“Para prajurit yang mencoba menyelesaikan itu kemudian mulai mempersiapkan nangka dan kelapa. Karena jumlah mereka yang sangat banyak, nangka dan kelapa dimasak di dalam ember besar yang dibuat dari logam. Pengaduknya pun besar, seperti dayung perahu,” tutur Murdijati Gardjito, seorang profesor segera mencari di Pusat Kajian Makanan Tradisional (PMKT), Pusat Studi Pangan dan Gizi UGM

Proses memasak gudeg ini mereka sebut hangudek, alias mengaduk. Dari hangudek, makanan terciptalah yang kemudian disebut gudeg.

Dari para prajurit Mataram, masakan gudeg kemudian dipraktekkan oleh keluarga para prajurit dan meluas ke masyarakat. Masakan ini disebut istimewa karena dapat dinikmati oleh semua kalangan.

“Masyarakat melihat gudeg itu sebagai makanan yang fleksibel. Bisa digabungkan hanya dengan tempe, tahu, bahkan hanya gudeg dengan areh (kuah) saja sudah bisa untuk makan. Warga yang punya uang bisa menyantapnya dengan telur atau ayam,” papar penulis buku menambahkan ‘Gudeg , Sejarah dan Sejarahnya ‘itu.

Secara umum, gudeg dibagi menjadi dua jenis yaitu basah dan kering. Gudeg basah merupakan hasil olahan gudeg yang hanya sampai perebusan, sehingga masih berair. Gudeg basah disajikan bersama areh (kuah santan).

Sementara gudeg kering adalah gudeg basah yang melalui proses penumisan jadi kering. Meski begitu, gudeg memiliki kipas masing-masing baik itu basah maupun kering.

Selain basah dan kering, gudeg juga bisa dibagi menjadi tiga jenis berdasarkan bahan bakunya. Murdijati menuturkan, tiga jenis gudeg ini adalah gori (nangka), rebung, dan manggar.

“Uniknya, setiap jenis seperti punya tempat masing-masing. Gudeg nangka selalu dapat ditemukan di penjual atau gerai makanan. Gudeg rebung tidak dapat ditemukan di warung atau restoran, hanya dibuat di rumah-rumah,” papar Murdijati.

Gudeg manggar, lanjutnya, adalah yang paling istimewa. Manggar sendiri merupakan bagian dari bunga kelapa yang masih muda.

“Gudeg manggar berstatus lebih tinggi, sangat elit. Gudeg jenis ini hanya disajikan dalam acara khusus, terutama pesta. Gudeg ini juga biasa disajikan di pernikahan anak Sultan,” tutur Murdijati.

Meski begitu, wisatawan yang berkunjung ke Yogyakarta juga bisa mengunjungi gudeg manggar. Salah satu penjual Gudeg Manggar adalah Warung Bu Jumilan yang berlokasi di Jalan Srandakan Km 8, Kabupaten Bantul.

Resep Gudeg Basah

Bahan :

  • 1/2 buah nangka muda ukuran sedang
  • 10 lembar kobis hijau, cuci bersih berulang
  • 5 lembar daun salam
  • 3 cm lengkuas, memarkan
  • 100 gram gula merah
  • Daging tetelan sapi 250 gram, potong-potong
  • 2 sendok teh kaldu sapi dan garam secukupnya
  • 1000 ml santan
  • 500 ml air kelapa ( agar warna gudeg cantik dan legit )

Bumbu halus :

  • 8 butir bawang merah
  • 3 siung bawang putih
  • 6 butir kemiri
  • 1/2 sendok makan ketumbar

Cara Membuat :

  1. Nangka di rebus sebentar di air mendidih sebentar biar getah hilang ( jangan sampai empuk duluan ya )
  2. Campur nangka dan semua bahan serta bumbu
  3. Masak hingga mendidih
  4. Koreksi rasa, jika sudah pas gurih manisnya ( namun jangan terlalu asin dulu ya ), tutup panci dan masak dengan api kecil sekali hingga matang selama minimal 5 jam…sekali2 di buka koreksi rasa kembali jika sudah empuk nangkanya
  5. Tandanya sudah matang akan tercium wangi aroma gudeg dan nangkanya sudah empuk
  6. Sajikan hangat berkuah, jika sudah bosan berkuah..nanti sering di panaskan akan jadi gudeg kering juga.

Selamat mencoba!

Jangan lupa sambal tomatnya.

Print Friendly, PDF & Email

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *