Ratna Sarumpaet : Saya Pencipta Hoaks Terbaik

oleh -39 views
Ratna Sarumpaet dipukuli di Bandung, wajah babak belur
Ratna Sarumpaet

Sekilas Tentang Biografi Ratna Sarumpaet

Menurut sumber Dari Wikipedia Ratna Sarumpaet (lahir di Tarutung, Tapanuli Utara, 16 Juli 1948; umur 70 tahun) adalah seniman berkebangsaan Indonesia yang banyak mengeluti dunia panggung teater, selain sebagai aktivis organisasi sosial dengan mendirikan Ratna Sarumpaet Crisis Centre. Ratna terkenal dengan pementasan monolog Marsinah Menggugat, yang banyak dicekal di sejumlah daerah pada era administrasi Orde baru.

Sarumpaet, lahir dalam keluarga Kristen yang aktif secara politis di Sumatera Utara, awalnya belajar arsitektur di Jakarta. Setelah melihat drama W.S. Rendra pada tahun 1969, ia memutuskan untuk keluar dan bergabung dengan grup drama tersebut.

Lima tahun kemudian, setelah menikah dan masuk Islam, ia mendirikan Satu Merah Panggung; grup tersebut melakukan sebagian besar adaptasi drama asing. Ketika ia menjadi semakin khawatir tentang pernikahannya dan tidak senang dengan adegan teater lokal, dua tahun kemudian Sarumpaet meninggalkan grup dan mulai bekerja di televisi; ia baru kembali pada tahun 1989, setelah menceraikan suaminya.

Pembunuhan Marsinah, seorang aktivis buruh, pada tahun 1993 menyebabkan Sarumpaet menjadi aktif secara politik. Dia menulis naskah pementasan orisinal pertamanya, Marsinah: Nyanyian dari Bawah Tanah, pada tahun 1994 setelah terobsesi dengan kasus ini.

Hal ini diikuti oleh beberapa karya politik lainnya, yang beberapa diantaranya dilarang atau dibatasi oleh pemerintah. Semakin kecewa dengan tindakan otokratik Orde Baru Soeharto, selama pemilihan umum 1997 Sarumpaet dan grupnya memimpin protes pro-demokrasi. Untuk salah satu di antaranya, pada Maret 1998, ia ditangkap dan dipenjara selama tujuh puluh hari karena menyebarkan kebencian dan menghadiri pertemuan politik “anti-revolusioner”.

Setelah dibebaskan, Sarumpaet terus berpartisipasi dalam gerakan pro-demokrasi; tindakan ini menyebabkan dia melarikan diri dari Indonesia setelah mendengar desas-desus bahwa dia akan ditangkap karena perbedaan pendapat. Ketika dia kembali ke Indonesia, Sarumpaet terus menulis stageplays yang bermuatan politik.

Ia menjadi kepala Dewan Kesenian Jakarta pada tahun 2003; dua tahun kemudian dia didekati oleh UNICEF dan diminta untuk menulis drama untuk meningkatkan kesadaran perdagangan anak di Asia Tenggara. Pekerjaan yang dihasilkan berfungsi sebagai fondasi untuk debut filmnya tahun 2009, Jamila dan Sang Presiden. Film ini dikirimkan ke ajang Academy Awards ke-82 untuk Film Berbahasa Asing Terbaik namun gagal masuk nominasi. Tahun berikutnya, ia merilis novel pertamanya, Maluku, Kobaran Cintaku.

Ratna Sarumpaet: Kali Ini Saya Pencipta Hoax

Ratna Sarumpaet mengaku telah memanipulasi berita penganiayaannya di Bandung. Ratna meminta maaf kepada banyak pihak, termasuk mereka yang telah dikritik sejauh ini.

“Saya juga meminta maaf kepada semua pihak yang selama ini mungkin dengan suara keras saya kritik dan kali ini berbalik ke saya. Kali ini saya pencipta hoaks terbaik ternyata, menghebohkan semua negeri. Mari kita semua mengambil pelajaran, bangsa kita dalam keadaan tidak baik. Segala sesuatu yang kita hebohkan, segala sesuatu yang tidak penting mari kita hentikan,” kata Ratna dalam jumpa pers, Rabu (3/10/2018).

Baca juga: Ratna Sarumpaet dipukuli di Bandung, Hingga babak belur

Ratna mengaku berbohong tentang penganiayaannya ketika bertemu dengan sejumlah orang, termasuk Prabowo Subianto, Fadli Zon, dan Amien Rais. Dia meminta maaf karena menciptakan suara yang terkait dengan berita tentang penganiayaan.

Baca juga: Ratna Sarumpaet Akui Bohong Terkait Penganiayaan Dirinya

Ratna mengaku, pada 21 September 2018, dia bertemu dokter bedah plastik di Jakarta. Ratna mengaku telah menjalani liposuction di pipi.

“Itu yang yang terjadi itulah yang terjadi, jadi tidak ada penganiayaan itu hanya cerita khayalan yang diberikan setan mana ke saya dan berkembang,” kata Ratna terbata-bata.

Polisi sebelumnya menegaskan fakta bahwa temuan investigasi berbeda dari informasi yang disampaikan oleh pihak-pihak yang terkait dengan Ratna Sarumpaet. Pertama, Ratna, menurut polisi, berada di Rumah Sakit Bina Estetika, Menteng, Jakarta Pusat, Jumat (21/9), tidak di Bandung, yang disebut lokasi penganiayaan.

“Fakta yang didapat, 21 September jam 5 sore sudah masuk di rumah sakit di Bina Estetika,” kata Dirkrimum Polda Metro Jaya Kombes Nico Afinta dalam jumpa pers, Rabu (3/10).

Baca juga: Polda Jabar Tidak Menemukan Jejak Ratna Sarumpaet di RS Bandung

Fakta kedua, polisi mengecek pernyataan yang dikutip media soal kegiatan internasional yang diikuti Ratna beberapa saat sebelum terjadinya penganiayaan.

“Kalau tadi merujuk kepada pemberitaan Ibu Ratna Sarumpaet berada di Bandung pada tanggal 21 September bersama dua orang rekannya dari konferensi internasional dan sudah kami cek tidak ada konferensi internasional,” sambung Nico.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *