Selasa, Februari 18, 2020
Beranda Quotes 1000 Kumpulan Puisi Cinta Romantis Pendek yang Bikin Baper

1000 Kumpulan Puisi Cinta Romantis Pendek yang Bikin Baper

Puisi Cinta Penuh Makna Bikin Baper

  • 1 Puisi Cinta
  • 2 Puisi Cinta Romantis
  • 3 Contoh Puisi Cinta Sejati
  • 4 Contoh Puisi Cinta
  • 5 Contoh Puisi Cinta Sedih
  • 6 Puisi Cinta Pendek
  • 7 Contoh Puisi Cinta Pendek Menyentuh Hati
  • 8 Puisi Romantis
  • 9 Puisi Romantis Buat Pacar Halal
  • 10 Contoh Puisi Romantis Pendek
  • 11 Contoh Puisi Cinta Romantis Pendek
  • 12 Kata kata Puisi Cinta
  • 13 Contoh Puisi Jatuh Cinta
  • 14 Puisi Cinta Sedih Menyentuh Hati

Puisi Cinta

Kasih, kita adalah satu

Menatap indah langit kelabu
Seakan terbayang wajah indah di mataku
Sedikit rasa rindu itu kini jadi candu
Duhai kasih,
Apakah ada rindu di hatimu?

Kasih, belum cukupkah ini bagimu
Apa kau tak merasakan detak jantungku
Irama setiap hembusan napasku
Bahkan derasnya setiap aliran darahku?
Semuanya menyebut namamu; di hatiku

Duhai terkasih
Lantunanmu begitu indah
Merasuk ke dalam jiwa
Membuat diri terpaku merana
Merasakan kebahagiaan tanpa tara

Terpikir sejenak olehku
Ketika kau tak ada lagi untukku
Akan jadi seperti apa hidupku?

Oh kasihku
Begitu pun dengan aku,
Saat tak ada dirimu di sampingku,
Dunia tak lagi semanis madu

Sungguh, betapa beruntungnya diriku
bisa menggenggam hatimu
Kasihku, percayalah kita ini satu
Sebab aku dan kamu adalah cinta yang utuh
yang tak terpisahkan oleh jarak dan waktu

Dimanakah Dirimu

sesak berbilang
kau menghilang
aku melapang
namun hati masih,
saja mengenang

aku pasrah
mencoba lupa
pada relung jiwa,
tersimpan luka
belum sembuh juga

ah, sungguh nyeri rasanya
hati mendesak
meminta lapak untuk sesaat rebah
resah berlanjut pasrah
namun perihal melupa ia tetap ogah

lalu harus bagaimana
luka dalam dada masih tetap ada
mencoba menghilangkannya
tak semudah berkata; kau pasti bisa
semua butuh waktu lama

Khianatmu

Tentang hati yang tergores.
Berkelukur kini hati,
terhembas oleh khianat.
Dan kini wajah terlukis air mata.

Perihal hati yang kembali disakiti,
kini dalam dada kurasa perih.
Percuma dulu kau mengikat janji,
jika nyatanya tak lagi peduli.

Janji yang kau ikat pada merpati.
Kini, kau dusta pada jiwamu yang khianat.
Sungguh; kalbuku kini terkoyak,
teriris oleh ribuan belati dari pandangmu.

Lelah sudah hati ini;
sudah waktunya aku membenahi hati.
Agar tak melulu disakiti.
Terlukai berkali-kali telah membuatku ingin berhenti mencintai.

– Celoteh Luka –

Semua kisah tentang kita sudah jauh berbeda
ketika kita sepakat untuk tak lagi bersama
ketika kita sepakat untuk saling melepaskan genggaman
sebab kita tak lagi sejalan.

Kau memilih melangkah terlebih dulu
untuk meninggalkanku
sedangkan aku masih tetap pada posisiku
yang berusaha sekuat hati melepaskanmu

Entah, waktu akan mengijinkan aku
atau malah menolak untuk melepasmu
dari memoriku.

Apa aku bisa?
terkadang pikiran itu sedikit meracuni otakku

Seandainya semua bisa berbalik
apa kau bisa sekuat aku?
dan bagaimana jika aku yang berhenti mencintaimu terlebih dulu
apa kau akan merasakan kehilangan aku
seperti aku kehilangan kamu
yang tak lagi mencintaiku saat itu?

Puisi lainnya:

Puisi Cinta Romantis Bikin Baper

Dirimu dan Dustamu

Kau pernah berdiri tepat dihadapanku
Merayuku dengan kata-kata indahmu
Kau bilang, aku wanita yang teristimewa
Sejenak kau berhasil membuatku bahagia

Dunia seperti milik berdua
Aku, kamu dan Cinta kita
Hingga akhirnya; waktu kembali
membangunkanku dari tidur panjangku

Semua kebahagiaan yang telah terjadi
ternyata semu
Dan kau hanyalah fatamorganaku
yang kubiarkan berlalu
Sebab aku sadar, menggapaimu adalah ketidakmampuanku

Cintaku

Dunia adalah fana
Semesta dicipta bukan untuk dinikmati saja
Jika sang pencipta sudah bicara
Semua akan sirna dalam kedipan mata

Sama seperti ketika
aku mengetahui ternyata
cintamu hanyalah semu belaka

Kau tahu;
bagaimana rasanya hati karena ulahmu?
Setelah beribu harap kulayangkan padamu
Sakitnya hingga merobek bilik jantungku

Tampaknya aku salah memberi hati pada
dirimu yang hanya singgah sementara,
bukan berniat menjadikanku rumah
Dan inilah; kenyataan yang menyesakkan dada

Ruang Khayal –

Kali ini malam merangkak tanpa bintang
Hanya bersenandung ria bersama sunyi
Angin berbisik lirih perihal hati
yang terkoyak sepi

Terjebak aku diruang khayal
Berhalusinasi pada sosok yang tak kukenal
Lelah aku menerawang;
namun nyatanya ia hanyalah sebuah bayang

Bayang yang selalu menghampiriku
bersama rindu yang terus mengiba
Bahkan, terkadang ia menjelma bahagia
namun bisa pula duka nestapa

Apa selama ini hadirmu memang semu?
Pasrah aku pada sebuah pengharapan
akan kebahagiaan, yang tak berkesudahan
meski telah berkali-kali aku semogakan

PENANTIAN

Dingin serasa menguliti penantianku
Dulu dalam kelam kau pernah menabur janji
Bila malam akan kau tepati
Selarut sunyi tak jua kau berempati

Kemana kau yang selama ini berparas jelita?
Apakah kau telah tenggelam didasar samudera?

Aku masih terdiam disini menatap wajah senja
dengan penuh tanya;
akankah penantianku ini berujung sia-sia,
atau berakhir bahagia?

Hanya seucap kata yang mungkin bisa meyakinkan
Bahwa kau pantas diberi keyakinan
Kau tak akan biarkan aku larut dalam penantian
Hingga kau katakan : untukku kebahagiaan

Puisi Lainnya:

Datang dan Kembali

Pada ruang paling sunyi
Aku merasakan hadirmu disini
Menemaniku, bahkan saat sendiri
Kau bawa sebongkah kenangan terperih

Aku kembali teringat perihal hati
yang telah kau sakiti
Kau tancapkan sebilah belati
tepat didadaku sebelah kiri

Cukuplah, bila kau hanya datang menghampiri;
lalu pergi lagi
Hati ini bukan untuk sembunyi;
lalu pergi lagi

Cinta yang pernah kau beri;
telah hilang ditelan sunyi
atau bahkan, kini sudah mati
dan tak akan kembali

Contoh Puisi Cinta Sejati Romantis

Mengapa Kau Berubah

Kopiku kini menjadi dingin
Sama seperti sikapmu

Kopiku kini menjadi basi
Sama seperti ucap janjimu

Sapamu tak sehangat dulu
Kini terasa hambar ditelingaku

Tatapan itu kini bukan lagi milikku
Sebab telah ada yang merebutnya dariku

Genggaman itu juga bukan lagi milikku
Sebab ia berhasil merayumu

Pelukan itu bukan lagi untukku
Sebab sudah ada yang memberikan kenyamanan melebihiku

Kopi yang terseduh tetap akan meninggalkan ampas
Sama seperti kenangan saat bersamamu yang akan selalu membekas

Perihal Perasaan

Pada sunyi malam sosokmu terus membayangiku
Kuterka gambar wajahmu yang terlintas dibenakku
Kau, si pemilik senyum tipis dengan rona pipi merah berhasil memikatku
Serta tatapan tajam yang membuat tenang hatiku

Kau si pemikat senyum
Pesonamu telah memicu andrenalinku
Untuk berani berucap bahwa : aku mengagumimu

Namun lidahku terasa kaku
Perasaan takut selalu menghinggapiku
Akankah kau mengacuhkanku? atau
Kau mempunyai rasa yang sama denganku?

Entah kekagumanku ini pertanda cinta
Sebab malam selalu menjelma bayangmu
Mengetuk pintu syaraf sadarku
Agar bernyali ungkapkan satu kata

Bahwa; Aku Mencintaimu.

MEMOAR KERINDUAN –

langkah merangkak begitu senyap
asaku menguap, terhapus lalu-lalang tangis yang menolak henti barang sejenak
dan di antara rintik rindu yang berkeretap
aku menemukanmu
dalam genggam harap yang telah menjadi retak

dalam detak waktu yang melaju begitu pesat
ku melihat kau, seperti bersiap
menolak ‘tuk kembali, dan
berlalu meninggalkan jejak-jejak rindu,
yang masih menetap pada ruang tengkorak
meski sesekali ia mengawang-awang
dan bergejolak

selimut langit telah diturunkan
mentari mengalah pada gugusan awan yang menghadirkan jingga
pada tepi cakrawala
mengantar resah doa-doa kembali pada ranjang raya
memulangkan segala kenang tetap terlelap di dalam jiwa

tentang segala rasa,
yang masih tertinggal pada tiap jengkal semesta
berputar dalam hingar bingar celoteh sang camar
bersama awan-awan pengiring ia menujumu; meski terlihat samar
menyampaikan bergumpal riuh tanya

akankah ia kembali pada pelukmu, yang pernah menjadi rumah?

Kembali aku berdialog dengan senja;
sore itu, aku menatap langit
ia menyapaku dengan hangat
yaa dia senja, yang selalu kunantikan
kehadirannya

Aku tertawa kecil,
melihatnya yang begitu menawan
menatapnya lekat
begitu dalam

Kemudian, dibalik jingganya ia bertanya;
mengapa kau begitu mengagumiku?

Untukmu senja; tak ada alasan
untukku menjelaskan,
telah habis kata ‘tuk memaparkan
kekagumanku padamu!

Puisi Lainnya:

Contoh Puisi Cinta Buat Pacar

Pada hening malam
Kutatap lekat binar rembulan
Sembari kulangitkan
sebuah harapan

Perihal angan
yang selalu aku semogakan
Namun dengan
mudahnya mereka patahkan

Hatiku sigap melawan
menepis opini mereka yang beranggapan
perihal ketidakmungkinan
“Tenang saja, mereka bukan Tuhan
yang bisa menghentikan
langkah kita menuju Kesuksesan

Teruslah berjalan
hingga angan (mu)
berhasil kau wujudkan
dan berada dalam genggaman
tangan (mu)”

Senja Perenung Jiwa

Dalam senja ku ukir sebuah kisah
Kisah bukan tentang cinta ataupun dusta
Ini semua tentang hidup yang tak lagi sama
Bagaikan senja yang tak pernah lama
Menampilkan keindahan sekejap saja

Kita hidup di dunia yang penuh fana
Penuh derita, juga sandiwara
Tak pernah kita berpikir hidup ini sekejap saja
Masih saja kita terlena oleh dunia

Banyak dari mereka berharap pada sesama
Yang sebenarnya sama saja tak pernah punya daya
Tak pernah kah kita sadar sejenak saja
Kalau sejatinya Tuhan itu Maha Kuasa
Maha pemberi segalanya

Lantas untuk apa kita menduakan-Nya?
Masihkah kita akan terus berdusta?
Kuharap sadarlah kalau kita hanyalah makhluk yang tak bisa apa-apa

Panorama Senja

Kala petang tiba;
mataku tertuju pada
panorama indah,
bertabur hamparan jingga
di cakrawala

Senja;
yang selalu aku nantikan kedatangannya
begitu sederhana,
namun terlihat memesona

Senja;
betapa kau terlihat sempurna

– Bukan Aku –

Bahasanya begitu elok ;
Begitu Sopan
Begitu Sholeh
Begitu idaman
Dan begitupun itu; bukan aku.

Parasnya yang rupawan berhasil memikatmu;
aku kalah kosong satu
Meskipun aku,
yang selalu ada untukmu

Namun itu,
tak bisa membuat hatimu luluh

– Bisikan Alam –

Pada pagi yang gigil kala itu
Tetesan rintik hujan berbisik syahdu;
tidakkah kau rindu padaku?

Kabut lembut membelaiku,
membasuh peluh diwajahku
Semilir angin mendekap erat tubuhku
Lagi-lagi ia berbisik;
tidakkah kau rindu padaku?

Mataku berkaca; menahan haru
Perlahan bulir itu menetes,
mengendap dipipi serupa embun;
begitu bening

Tak perlu kau berbisik, pasti
aku merindumu; wahai alamku
Suara gemerisik dedaunan
mengingatkanku pada tenangnya rimba

Pun mengingatkanku akan kenangan
dan keindahan yang ia suguhkan

Dan disetiap hembusan angin
yang menerpaku; aku merindumu

Maafkan aku, yang hanya menghampirimu
disaat jenuh merasuki pikiranku.

Aku pulang

Pada sebuah rumah
Tak ada atap penghalang masuknya cahaya
Beberapa tembok sudah pecah
Pondasi rumahpun patah
Dalam hatinya tetaplah berteguh
Sampai matipun aku tetap merindu

Pada sebuah jalan menuju rumah
Terlintas sekelebat bayangan menyapa
Kucoba menerka,
ku kenali ia; tanpa rupa
Anganku tertuju pada kau yang jauh dimata
Beginilah, ketika rindu sedang meraba

Puisi Cinta Sedih Menyentuh Hati

Bayangan Tentangmu

Kita dipertemukan dalam mata
yang saling tatap
Kau berikan senyum terbaikmu untukku,
hingga aku berani menjatuhkan harap

Kita berbincang dengan rasa,
seolah sedang merangkai cerita

Namun semua hanyalah keindahan sementara,
sebelum akhirnya kau memilih pergi untuk selamanya

Semoga kau bahagia dalam pelukannya,
tak perlu kau peduli sedalam apa aku terluka

Tapi setidaknya,
ajari aku untuk ikhlas melepasmu..

Malam yang malang

Pagi datang
menyapa malam dengan
sinarnya

Tiba-tiba;
Pagi beranjak menghilang
dan siang akan menyambutnya
dengan riang

Pagi berpamitan;
berbincang dengan malam,
mengucapkan selamat tinggal
dengan bibir kaku penuh kepalsuan

Pagi telah memilih pergi,
dengan langkah pasti
meninggalkan malam

Mendung datang, dengan
diiringi rintik hujan, yang
perlahan menggenang
dipelupuk mata malam

Kini, malam hanya
tinggallah kenangan
yang perlahan dilupakan
dan digantikan siang

Sungguh malang, nasib sang malam..

Malam yang Sunyi

Pada malam ingin kuceritakan,
Tentang resah yang tertahan
Melalui goresan pena kujelaskan
Aksara kususun rapi perlahan

Pada malam ingin kusampaikan,
Tentang sepi yang kian mencumbui
tanpa perasaan
Begitu pun bayangmu, mengusik ingatan
Tanpa peduli lelah memeluk pikiran

Pada malam ingin kutanyakan,
mengapa kau begitu hening, bahkan
sedari tadi tak ada perbincangan,
sedang disampingmu ada rembulan?

Tatapan Rasa

Degup ini makin kencang,
Tak kunjung reda menghilang,
Senyum mungil mataku terpanggil
Rona pipi beku bibir menggigil

Masih terbayang simpul tipis,
Terkenang di ingatan begitu manis
Membawaku melayang hingga ke awan
Sembari bait bait romantis kupuisikan

Wahai engkau,
Bolehkah kau beri aku sebuah nama,
Untuk kusematkan pada ingatan jiwa,
Paras elok secerah purnama,
Sambut tanganku bawamu turut serta,

Akan kurajut mimpi bertemakan kita
Kuluapkan angan pada bisikan aksara
Untuk sebuah ikatan kutembus asa
Hanya bersamamu yang selalu kudamba

– Menanti Hadirmu –

Kubiarkan jemariku menari
Diatas lembaran kertas putih
Melukis namamu dengan teliti
Merangkai bait bait puisi dari hati

Ku tuliskan tentangmu dalam bait bait puisi
Jemariku lincah menari dalam alunan sunyi
Sembari berimajinasi hadirmu disini
Temani diri sampai terlelap dalam mimpi

Hingga menunggu tiba waktunya pagi
Aku masih disini dengan hati yang sepi
Merindu hadirmu untuk kembali lagi
Sekedar mengisi hatiku yang kosong ini

Rembulan kini berganti mentari
Saatnya bangun dari indahnya mimpi
Suara burung menyemangati diri
Untuk bertemu dirimu lagi dan lagi

- Advertisment -