Pisah Ranjang Apakah Solusi Terbaik Untuk Istri yang Membangkang?

Pisah Ranjang Apakah Solusi Terbaik Untuk Istri yang Membangkang
Pisah Ranjang

ANTERO.CO – Tidak ada rumah tangga yang selalu terhindar dari konflik. Mulai dari masalah kecil, hingga masalah besar sudah menjadi ‘bumbu’ dalam pernikahan, Ketika konflik begitu hebat sehingga salah satu dari suami dan istri tidak dapat menahan emosi, terkadang pisah ranjang dianggap sebagai solusi terbaik dalam rumah tangga.

Dalam Islam Bolehkah Suami Istri Pisah Ranjang?

Dalam mengarungi bahtera keluarga tentu ada selingan kehidupan manis, pahit, asam dan garamnya. Ibarat berpetualang pasti akan ada tantangan yang harus dihadapi dan dicari jalan keluarnya.

Baca juga: 7 Ciri istri soleha dan 5 Dosa istri terhadap suami

Islam memberikan panduan yang jelas ketika terjadi konflik dalam rumah tangga, dan itu harus diselesaikan persis sesuai dengan tahapan-tahapan yang telah ditetapkan oleh Allah SWT. Sebagaimana pisah ranjang yang sedang bapak/ibu alami itu disinggung oleh Allah dalam firmannya:

“Wanita-wanita yang kamu khawatirkan nusyuznya, Maka nasehatilah mereka dan pisahkanlah mereka di tempat tidur mereka, dan pukullah mereka. Kemudian jika mereka mentaatimu, Maka janganlah kamu mencari-cari jalan untuk menyusahkannya. Sesungguhnya Allah Maha Tinggi lagi Maha besar”. (Qs. Al-Nisa:34)

1. Istri Tidak Taat Kepada Suami

Nusyuz adalah sikap tidak taatnya istri kepada suami dan tidak mau melaksanakan kewajibannya, dalam bahasa modern dapat dipahami dengan ngambek atau purik. Esensinya adalah jika terjadi konflik dalam keluarga, maka hal yang harus dilakukan ada tiga tahap secara berurutan. Pertama, suami harus menasehati istrinya. Dengan adanya nasehat akan terbukanya pintu komunikasi dari suami ke istri atau sebaliknya, sehingga dapat mengurai masalah yang sedang dihadapinya.

2. Istri Tidak Bisa Di Nasehati

Apabila dengan nasehat atau komunikasi tidak mampu menyelesaikan masalah, maka suami melakukan pisah ranjang sebagai bentuk hukuman kepada istri yang masih belum patuh. Minimal pisah ranjang dapat dipahami sebagai bentuk menyendiri agar dapat menenangkan diri masing-masing dan diharapkan dapat menyelesaikan masalah yang sedang dihadapi keluarganya.

3. Menasehati Istri Dengan Dipukul

Memukulnya sebagai bentuk hukuman atas ketidak patuhannya terhadap suami. Bentuk pukulan di sini bukanlah pukulan yang menyiksa, namun pukulan biasa yang tidaak melukai badannya. Dengan pukulan ringan itu diharapkan dapat menyentuh psikologi dan jiwanya.

Sebagai catatan penting tiga tahap ini tidak harus dilakukan semua. Jika pada tahap pertama sudah dapat diselesaikan, maka tidak boleh melanjutkan ke tahap selanjutnya. Oleh sebab itu, diakhir ayat, jika sudah clear dan selesai masalahnya maka “janganlah kalian mencari-cari jalan untuk menyusahkannya”. Artinya jangan selalu melihat masalah tadi dijadikan sebab untuk selalu menyudutkan istri terus menerus. Seperti mengungkit-ungkit kejadian masa lalu, ini tidak boleh dilakukan agar tidak terus menerus berkonflik dengan masalah itu itu saja.

4. Pisah Ranjang

Pisah ranjang dibenarkan dalam agama sebagai bentuk mencari penyelesaian atau solusi dari masalah yang sedang dihadapi keluarga. Sehingga dapat menjadikan sadar kedua belah pihak untuk bersatu kembali dalam satu atap.

5. Talak mu’allak ( Talak gantung)

Kemudian membuat syarat-syarat tertentu untuk menjatuhkan talak kepada istrinya disebut dengan talak mu’allak (talak yang digantungkan pada sebuah peristiwa). Seperti ucapan “kalau kamu melakukan hal yang tidak kusuka, maka kamu bukan istriku”. Maka jelas syarat ini sah akan menjatuhkan talak jika sang istri melakukan hal yang tidak disukai suami.

Sebuah hadis laporan dari kakeknya Amr bin Auf al-Muzani, bahwa rasul bersabda:

والمسلمون على شروطهم إلا شرطا حرم حلالا أو حل حراما

“Orang-orang islam itu (boleh) melakukan berdasarkan syarat-syaratnya, kecuali syarat yang mengharamkan yang halal atau syarat yang menghalalkan yang haram”. (Hr. Abu Daud:1352).

Maka dari hadis di atas jika syarat itu bukan hal yang dilarang dalam agama, maka syarat talak itu pun tetap sah dan jadi jika dilakukan. Peristiwa ini juga pernah terjadi pada zaman sahabat sebagaimana atsar yang dilaporkan nafi’:

وَقَالَ نَافِعٌ طَلَّقَ رَجُلٌ امْرَأَتَهُ الْبَتَّةَ إِنْ خَرَجَتْ فَقَالَ ابْنُ عُمَرَ إِنْ خَرَجَتْ فَقَدْ بُتَّتْ مِنْهُ وَإِنْ لَمْ تَخْرُجْ فَلَيْسَ بِشَيْء

“Seorang pria menjatuhkan talak tiga sekaligus jika istrinya keluar dari rumah”. Ibnu Umar menanggapinya, jika wanita itu keluar maka ia langsung terkena talak tiga sekaligus, dan apabila wanita itu tidak keluar, maka tidak terjadi apa-apa”. (Hr. Bukhari: 5268)

Oleh sebab itu, jika istri tersebut melakukan sesuatu yang dibenci oleh suaminya, maka jatuhlah talak suaminya terhadap istrinya tersebut. Wallahu a’lam.

Baca juga: Pendapat Psikolog Tentang Pria Menduda

10 Adab Pisah Ranjang dalam Islam

Ada yang harus dipahami bagi pasutri, bahwa pisah ranjang itu dilaksanakan perlu dijatuhkan agar seorang istri mampu berfikir jernih dan bisa kembali kepada tabiat seorang istri, yaitu taat pada suami bukan malah sebagai ajang peruncing masalah.

Sehingga di saat suami menjatuhkan hukuman pisah ranjang, wajiblah suami berusaha untuk ada perbaikan menata kembali agar baik adanya, bukan malah dibiarkan sehingga si istri tidak ada efek jera dan malah menjadi-jadi tak karuan.

Apalagi pisah ranjang menjadi ajang buka-bukaan aib ke semua personel keluarga, sungguh ini adalah sebuah kesalahan dalam menjalani proses pisah ranjang.

Maka dari itu agar pisah ranjang yang sedang dijalani pasutri itu bisa mengambil hikmah maka haruslah dalam menjalani pisah ranjang mengindahkan akhlak dan adab yang ada.

  1. Pisah ranjang hanya dilakukan untuk pisah tempat tidur saja bukan pisah rumah.
  2. Seorang suami hanya menggunakan cara ini bila cara pertama gagal, yaitu proses nasehat.
  3. Cara ini digunakan bila dikhawatirkan sang istri membangkang.
  4. Hukum pisah ranjang ditinggalkan bila seorang seorang istri sudah meninggalkan akhlak buruknya, sudah bertaubat dan kembali taat kepada suaminya.
  5. Lama pisah ranjang tidak boleh lebih dari satu bulan setelah wanita melakukan pembangkangan, sebagaimana batasan waktu yang dijelaskan oleh para ulama. Kecuali kalau suami meyakini bahwa tambahan waktu di atas satu bulan akan membawa kebaikan bagi sitrinya, namun jangan sampai lebih dari empat bulan.
  6. Selama proses pisah ranjang sebaiknya pasutri sama-sama bermujanat pada Allah SWT untuk meminta bimbingan yang terbaik.
  7. Meminta nasehat para ulama yang sholeh serta perbanyak kebaikan.
  8. Tetap menunaikan kewajiban sebagai orang tua, tidak boleh dengan alasan sedang ada masalah kemudian anak diterlantarkan.
  9. Kewajiban seorang suami untuk menafkahi secara lahir yaitu uang belanja dan kebutuhan lainya tetap harus dipenuhi, karena masih berstatus sebagai seorang suami-istri yang sah.
  10. Ambil hikmah dari setiap peristiwa agar lebih bertakwa pada Allah SWT.

Pisah Ranjang Solusi Terbaik Masalah Rumah Tangga?

Apakah benar? Mari kita lihat dulu, apa yang terjadi ketika anda dan pasangan memutuskan untuk memisahkan ranjang.

1. Komunikasi Jarak Jauh

Saat pisah ranjang, itu berarti anda jauh dari pasangan dan komunikasi berjalan tidak seperti biasanya. Sebenarnya ada dua hal yang diuji di sini.

Pertama, dengan tempat tidur yang terpisah, bisa jadi masalah yang dialami bahkan lebih buruk, karena kurangnya komunikasi yang intens.

Tapi di sini ada yang lain, bisa jadi anda atau suami saling merindukan kehadiran satu sama lain, jadi ini bisa menjadi sarana untuk memulai pembicaraan.

2. Memulai percakapan

Jika anda sudah merasa tidak nyaman dengan ‘metode’ pisah ranjang. Tidak ada yang salah dengan menghilangkan sedikit gengsi untuk mulai berbicara melalui pesan teks.

Ini adalah cara yang cukup aman untuk meminimalkan pertengkaran daripada berbicara di telepon.

Mulailah percakapan dengan menanyakan berita dan pastikan anda tidak menggunakan kalimat yang menyulut emosi agar tidak memperburuk situasi.

3. Bicara tentang Masa Depan

Tujuan pemisahan tempat tidur sebenarnya untuk meningkatkan hubungan.

Jika masih ada harapan bahwa hubungan itu akan berlanjut, anda tidak akan ragu untuk bertanya rencana apa yang akan dilakukan dan bertanya apa peran anda untuk merealisasikan rencana tersebut.

4. Merasakan Ekspresi

Apakah anda adalah tipe orang yang sulit mengungkapkan perasaan kepada pasangannya? Saat dipisahkan tempat tidur, anda perlu ‘menyalakan kembali’ rasa cinta anda kepada pasangan.

Jangan ragu untuk mengungkapkan bahwa anda tidak bisa berlama-lama menjauh dari pasangan anda.

5. Selesaikan segera!

Jangan berlebihan, jika beberapa hari anda dan pasangan Anda merasa lebih baik. Kata maaf tidak lagi diucapkan melalui kata-kata.

Menjadi orang yang lebih baik dan memperbaiki kesalahan yang telah dibuat adalah sesuatu yang benar-benar perlu dibuktikan oleh anda bahwa kedewasaan dalam rumah tangga bukan dari seberapa besar anda dan pasangan mempertahankan ego mereka.

Tetapi betapa sederhananya alasan mengapa anda bertahan dalam ketidaksempurnaan kondisi pasangan anda.

Pisah ranjang seperti dua mata koin. Di satu sisi, jika dilakukan dengan kesadaran penuh risiko dan niat baik, itu bisa menjadi sarana untuk introspeksi diri dan meningkatkan hubungan. Namun, jika dibiarkan berlarut-larut, itu akan memperburuk masalah dan dapat berakhir dengan perceraian.

Itulah sebabnya, beberapa psikolog, salah satunya adalah Elly Nagasaputra, M.K., CHt, tidak merekomendasikan pisah ranjang ketika suami dan istri dalam konflik. Menurutnya, sebagai dua orang yang sama-sama dewasa, lebih baik menghadapi masalah dengan kepala dingin. “Ada fase kemarahan. Tapi setelah itu kamu harus bisa duduk diam memikirkan solusi jangka panjang terbaik yang bisa diambil,” kata Elly

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar Anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini