PILKADA BANTEN – Marak Calon Tunggal di Banten, Pengamat: Politik Dinasti Masih Kuat

oleh
PILKADA BANTEN
Loading...

SERANG. PILKADA BANTEN Maraknya kemungkinan calon tungal di Banten dinilai sebagai kemunduran berpolitik dan berdemokrasi. Ada 3 daerah, yaitu Lebak, Tangerang, dan Kota Tangerang, yang berpotensi memunculkan calon tunggal.

Fenomena ini menunjukkan bahwa politik dinasti masih kuat dan cara berdemokrasi tidak sehat.

“Demokrasi seperti ini tidak sehat, elite politik kita belum siap berkompetisi dan belum siap untuk kalah. Ini menunjukkan bahwa politik dinasti masih kuat di Banten,” kata Dekan FISIP Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta) Banten Agus Safari, Kota Serang, Selasa (9/1/2018).

Agus mengatakan kondisi seperti ini justru tidak memberikan pendidikan politik yang baik untuk warga Banten. Elite partai politik dinilai menunjukkan sifat pragmatis yang tidak siap kalah dalam kontestasi politik pilkada Banten

Dari sisi masyarakat, selama ini ia menilai warga Banten belum melek politik dan masih melihat petahana dan keluarganya sebagai yang terbaik. Ini menunjukkan bahwa ada keterbatasan akses warga untuk mendapatkan informasi yang berimbang.

Agus menyebut akses-akses seperti sosialisasi dan promosi politik begitu mudah didapat oleh petahana, bahkan keluarganya.

“Paling kuat adalah media lokal dan tempat-tempat publik yang mudah mempromosikan dirinya,” ujarnya.

Jika dirinci, Agus mengatakan, beberapa organisasi masyarakat dan tokoh masyarakat sebagian besar juga sudah dalam pengaruh masing-masing calon petahana. Namun, menurutnya, jika calon petahana tersebut memang memiliki prestasi dan kinerja baik, hal tersebut tidak menjadi masalah.

Pemerhati politik UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten, Dedi Sunardi, menilai maraknya calon tunggal di Banten karena masing-masing petahana memiliki sejarah yang kuat. Dua daerah, yaitu Lebak dan Kabupaten Tangerang, adalah dua wilayah yang masing-masing keluarga calonnya pernah menjadi bupati.

Ia mengatakan calon Bupati Lebak Iti Octavia dan Ahmed Zaki Iskandar adalah calon bupati yang mengakar karena daerah tersebut pernah dipimpin ayah masing-masing.

“Satu hal, kenapa ada calon tunggal. Mereka akar sejarahnya kuat, turun-temurun dari bapak ke anak,” ujarnya.

Fenomena seperti ini, menurutnya, juga tidak sehat bagi demokrasi dan pendidikan politik warga Banten. Partai, menurutnya, telah gagal menciptakan dan mendidik calon pemimpin. Selain itu, warga tidak sadar akan politik daerahnya.

“Karena mereka sudah terlalu apriori, toh siapa pun calonnya itu-itu saja,” pungkasnya. ( Red)

Loading...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *