Petani Di Kesemen Keluhkan Kurangnya Alat Pertanian

oleh
Petani Di Kesemen Keluhkan Kurangnya Alat Pertanian
Loading...

ANTERO.CO, KOTA SERANG – Petani Di Desa Terumbu Kampung Sidomampir, Kecamatan Kesemen Kota Serang Banten mengeluh atas kurangnya bantuan alat pertanian, dan gencarnya industrialisasi dan infrastruktur yang mengguras lahan-lahan pertanian, Senin ( 05/02/2018)

Indonesia sebagai negara agraris perlu menjamin penyediaan lahan pertanian pangan secara berkelanjutan, sebagai sumber pekerjaan dan penghidupan yang layak bagi kemanusiaan,

dengan mengedepankan prinsip kebersamaan, efisiensi berkeadilan, berkelanjutan, berwawasan lingkungan, dan kemandirian, serta dengan menjaga keseimbangan, kemajuan, dan kesatuan ekonomi nasional.

Menurut Direktur Eksekutif LSM Daya Tani Humaedi Kusuma Negara “petani di Kesemen sejak tahun 2015 belum mendapatkan bantuan dari pemerintah, Brigade dari dinas menangkap bantuan-bantuan dari pusat namun tidak sampai ke para petani.

Humaedi menambahkan “Petani sudah memiliki Undang-undang No 19 tahun 2003 tentang perlindungan dan pemberdayaan petani, saat ini para petani butuh mesin, sekarang mesin di tumpuk di gudangnya H.Ela, ada 30 unit bantuan dari jakarta di tumpuk di sana, jadi besi tua tidak berguna, sekarang perlindungan dan pemberdayaan itu di kemanakan”, ungkap Humaidi.

Ia pun menambahkan “Pembangunan irigasi begitu marak namun di sisi lain pemerintah kurang memperhatikan terjadinya alih fungsi sawah irigasi, meskipun Undang-undang RI No 41 tahun 2009 tentang perlindungan lahan pertanian pangan berkelanjutan sudah pernah ada, hingga alih fungsi marak terjadi baik kecil-kecilan maupun besar-besaran, bukankah prasarana irigasi satu-kesatuan dengan eksistensi sawah irigasi, buat apa membangun milyaran triliunan sawahnya tidak ada”. Sesal Humaedi.

Direktur Eksekutif LSM Daya Tani, Humaidi berharap pemerintah memborong hasil panen rakyatnya, dan di jual kembali dengan harga murah oleh negara di subsidi oleh APBN, “jangan membebankan subidi ke petaninya, petani menjadi korban karena harganya tidak boleh naik sementara yang lain naik” ungkapnya.

Tb Najarudin Aktifis LSM Penjara berungkap pemerintah diharapkan bisa mencegah alih fungsi lahan. Pasalnya, selama ini ditengarai semakin bertambahnya sejumlah lahan pertanian yang sudah beralih fungsi, seperti untuk menjadi kawasan Industri dan Perumahan

Menurutnya, dengan semakin banyak alih fungsi lahan pertanian, maka program perlindungan lahan akan sangat terkendala.

Ia mengharapkan pemerintah pusat dan daerah memberi perhatian serius untuk menghentikan alih fungsi lahan pertanian untuk kebutuhan nonpertanian. Ungkap Najarudin.

Maman alias Toni salah satu Aktifis LSM Laskar Siliwangi mengungkapkan, sampai sekarang ini banyak sekali terjadi perubahan lahan-lahan pertanian menjadi perumahan.

Menurut Toni, alih fungsi lahan pertanian sawah itu terjadi karena masyarakat memilih lahannya diolah untuk usaha lain, seperti untuk pembangunan rumah toko karena dinilai lebih menjanjikan dibandingkan dengan pertanian.

Selain persoalan alih fungsi, permasalahan lainnya yang dihadapi pemerintah di dalam mengembangkan lahan pertanian adalah mengajak generasi muda untuk mau bertani.

Sekarang ini, semakin sedikit pemuda yang tertarik masuk ke dunia pertanian. Menurut Toni, minimnya ketertarikan generasi muda terhadap bidang pertanian dapat berpotensi mengancam ketahanan dan kedaulatan pangan Indonesia.

Toni juga mengingatkan pemerintah bisa memberikan kemudahan hingga pendidikan atau pelatihan bagi generasi muda yang tertarik masuk ke pertanian.

“Perlu ada penyuluhan supaya ada ketertarikan pada para pemuda, dan ada kampanye untuk bertani pada para pemuda, untuk mencegah fenomena alih fungsi lahan. ” ujarnya. (AD/RED)

Loading...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *