Perjuangan Muhamad Zaki Santoso “Gowes Sepeda” Yogyakarta Tujuan Pulang Ke Bengkulu, Begini Kisahnya

oleh -287 views

Perjuangan Muhamad Zaki Santoso “Gowes Sepeda” Yogyakarta Tujuan Pulang Ke Bengkulu, Begini Kisahnya

 

ANTERO.CO SERANG –  Seorang remaja, Muhamad Zaki Santoso (19) asal Bengkulu Desa Padang Sialang RT02/RW00, Kecamatan Pasar Manna, Kabupaten Bengkulu Selatan, Provinsi Bengkulu, nekat pulang kampung ke Bengkulu dari Prambanan Sleman DIY Djogjakarta dengan Gowes alias Mengayuh Sepeda.

Muhamad Zaki Santoso merupakan anak ke tiga dari lima bersaudara, dirinya ditinggalkan bapaknya semenjak berusia dua tahun, dan saat ini ayahnya bekerja di Kalimantan sebagai pengawas Tambang, hingga sekarang ia tinggal bersama bundanya, bahkan dirinya tidak pernah melihat sosok seorang ayahnya tersebut, dirinya tahu bapaknya tinggal di Kalimantan dari saudaranya.

“Sesampainya saya di Serang Provinsi Banten, saya bertemu dengan pak Maulana dan menceritakan perjalanan mulai dari DI Yogjakarta ke Bengkulu hanya berbekal uang Rp100.000 (seratus ribu rupiah),” ungkap Zaki bercerita, Selasa 19/1/2021) malam.

Itupun, kata Zaki, temannya memberi tambahan Rp50.000, kalau ia sendiri mengaku hanya berbekal Rp50.000, baju 3 stel dan jaket 1 buah.

“Saya tidak menggunakan map atau peta,” ujarnya singkat.

Bahkan, terang Zaki, dalam perjalanan nya tersebut dirinya pernah nyasar hingga tiga kali, yaitu di Purworejo, Kebumen, dan Bumi Ayu Jawa Tengah.

“Perjalanan saya di mulai pada hari Selasa malam Rabu selepas Maghrib tanggal 12 Januari 2021. Dan, saat ini saya sampai di Serang Provinsi Banten malam Rabu tanggal 19 Januari 2021, berarti saya udah hampir 7 hari dalam perjalanan. Perjalanan saya hanya di malam hari, biar tidak kepanasan,” katanya.

Saat perjalanan di malam hari itu, dirinya hingga pernah menemukan preman yang baik hati dan memberinya rokok di hutan sebelum ke Kebumen.

“Kalau saya ceritakan semua perjalanan saya bisa seperti novel,” tutur Zaki

Masih cerita Zaki, untuk makan sehari-hari, dirinya mengaku jarang makan, hanya istirahat sebentar dan makan Cemilan Wafer.

“Alhamdulillah ada saja orang yang baik memberi saya makan, dan jujur saja untuk sekarang ini uang saya saja tinggal Rp15000,” ucapnya

“Saya senang, karena dalam perjalanan bisa menemukan orang-orang baru dan mendapatkan pengalaman yang tidak semua orang bisa menemukan pengalaman seperti yang saya alami,” tambahnya.

Namun, dirinya mengaku bingung ketika nanti sesampainya di Pelabuhan Merak.

“Dikarenakan saya tidak ada ongkos buat bayar kapal,” keluh Zaki.

“Cita-cita saya dari kecil ingin bersepeda lebih jauh lagi hingga ke Palestina,” kata Zaki menutup obrolan kisah perjalanannya.

Sementara itu, Ketua YLPK Perari DPC Cilegon Maulana mengatakan, ia merasa tergugah melihat anak se usia Zaki (19) tersebut, sudah berani melakukan perjalan, yang menurut nya sangat jauh, jika tidak dibarengi dengan tekat yang bulat.

“Mudah-mudahan di Pelabuhan Merak, Zaki mendapat kemudahan dalam menyeberangi kapal. Semoga pihak intansi terkait yang ada di pelabuhan merak Banten, memberikan kemudahan perjalanan Zaki yang ingin pulang ke Bengkulu,” harap Maulana, yang akrab dipanggil “Bang Buyung” ini. (messa/red)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *