PENGARUH PENGGUNAAN TEKNOLOGI INFORMASI TERHADAP KINERJA PEGAWAI APARATUR SIPIL NEGARA DI PEMERINTAH PROVINSI BANTEN

oleh -46 views

Teknologi Informasi dalam Organisasi

Stres Konflik komunikasi Organisasi

Oleh Siti Rohayati NPM 7775190012

Mahasiswa Pascasarjana Prodi Magister Administrasi Publik 

Semester : 3 ( tiga )

Kelas : MAP A

Mata Kuliah : Komunikasi Organisasi Sektor Publik

Dosen : Dr.Ipah Ema Jumiati

Universitas Sultan Agung Tirtayasa Serang – Banten

 

Assalamualaikum wr.wb pada kesempatan kali ini saya akan membahas Peran Teknologi Informasi terhadap kinerja Pegawai Aparatur Sipil Negara di Pemerintah Provinsi Banten.

Teknologi informasi adalah sarana dan prasarana (hardware, software, useware) sistem dan metode untuk memperoleh, mengirimkan, mengolah, menafsirkan, menyimpan, mengorganisasikan, dan menggunakan data secara bermakna.

Hal yang sama juga di ungkapkan oleh Lantip dan Rianto (2011:4) teknologi informasi diartikan sebagai ilmu pengetahuan dalam bidang informasi yang berbasis komputer dan perkembanganya sangat pesat. Hamzah B. Uno dan Nina Lamatenggo (2011:57) juga mengemukakan teknologi informasi adalah suatu teknologi yang digunakan untuk mengolah data. Pengolahan itu termasuk memproses,mendapatkan, menyusun,menyimpan, memanipulasi data dalam berbagai cara untuk menghasilkan informasi yang berkualitas, yaitu informasi yang relevan, akurat, dan tepat waktu.

Menurut McKeown dalam Suyanto (2005:10) teknologi informasi merujuk pada seluruh bentuk teknologi yang digunakan untuk menciptakan, menyimpan, mengubah, dan menggunakan informasi dalam segala bentuknya. Teori yang lain juga diungkapkan oleh Williams dalam Suyanto (2005:10) teknologi informasi merupakan sebuah bentuk umum yang menggambarkan setiap teknologi yang membantu menghasilkan, memanipulasi, menyimpan, mengkomunikasikan, dan atau menyampaikan informasi.

Pengertian Technologi Acceptance Model (TAM) TAM (Technology Acceptance Model) merupakan teori yang menjelaskan minat berperilaku menggunakan teknologi. TAM dikembangkan untuk menjelaskan perilaku penggunaan dan penerimaan sistem teknologi informasi. TAM (Technology Acceptance Model) yang dikembangkan oleh Davis F.D (1989) merupakan salah satu model yang paling banyak digunakan dalam penelitian teknologi informasi karena model penelitian ini sederhana dan mudah penerapannya.

Pengertian Kinerja, Pengertian Kinerja merupakan suatu hasil kerja yang dihasilkan oleh seorang pegawai diartikan untuk mencapai tujuan yang diharapkan. Adapun pendapat para ahli mengenai pengertian kinerja, menurut Mangkunegara (2009 :67) yaitu: ”Kinerja adalah hasil kerja secara kualitas dan kuantitas yang dicapai oleh seorang pegawai dalam melaksanakan tugasnya sesuai dengan tanggung jawab yang diberikan kepadanya” kinerja adalah suatu hasil kerja yang dicapai oleh seorang pegawai sesuai dengan standar dan kriteria yang telah ditetapkan dalam kurun waktu tertentu.

B. Indikator Kinerja Menurut Mangkunegara (2009:75) mengemukakan bahwa indikator kinerja, yaitu:

1.Kualitas kerja adalah seberapa baik seorang karyawan mengerjakan apa yang seharusnya dikerjakan.

2. Kuantitas kerja adalah seberapa lama seorang pegawai bekerja dalam satu harinya.Kuantitas kerja ini dapat dilihat dari kecepatan kerja setiap pegawai itu masing-masing.

3. Pelaksanaan tugas Pelaksanaan Tugas adalah seberapa jauh karyawan mampu melakukan pekerjaannya dengan akurat atau tidak ada kesalahan.

4. Tanggung Jawab Tanggung jawab terhadap pekerjaan adalah kesadaran akan kewajiban karyawan untuk melaksanakan pekerjaan yang diberikan perusahaan.

C. Faktor yang Mempengaruhi Kinerja Tinggi rendahnya kinerja seorang pegawai tentunya ditentukan oleh faktor-faktor yang mempengaruhinya baik secara langsung ataupun tidak langsung.Mangkunegara (2009:67) menyatakan bahwa:“Faktor yang mempengaruhi pencapaian kinerja adalah faktor kemampuan (ability) dan faktor motivasi (motivation). Sedangkan menurut Keith Davis dalam Anwar prabu Mangkunegara (2009:67) Faktor Kemampuan Secara psikologis, kemampuan (Ability) pegawai terdiri dari kemampuan potensi (IQ) dan kemampuan reality (knowledge + Skill). Artinya, pegawai yang memiliki IQ rata-rata (IQ 110 – 120) dengan pendidikan yang memadai untuk jabatannya dan terampil dalam mengerjakan pekerjaannya sehari-hari, maka ia akan lebih mudah mencapai prestasi kerja yang diharapkan.

Oleh karena itu, pegawai perlu ditempatkan pada pekerjaan yang sesuai dengan keahliannya (the right man on the right place, the right man on the right job). b. Faktor Motivasi Motivasi terbentuk dari sikap seorang pegawai dalam menghadapi situasi kerja. Motivasi merupakan kondisi yang menggerakkan diri pegawai yang terarah untuk mencapai tujuan organisasi (tujuan kerja). Menurut Jackson dan Mathis (2009 :113), faktor yang mempengaruhi kinerja individu adalah sebagai berikut :

1. Kemampuan individu dalam melakukan pekerjaan tersebut meliputi bakat,minat, dan faktor kepribadian individu.

2. Tingkat usaha yang dicurahkan meliputi adanya motivasi, etika kerja, kehadiran, dan rancangan tugas.

3.Dukungan organisasi meliputi pelatihan dan pengembangan, peralatan dan teknologi, standar kinerja, manajemen dan rekan kerja. Kinerja juga terkait dengan sikap mental merupakan kondisi mental yang mendorong diri pegawai untuk berusaha mencapai prestasi kerja secara maksimal. Sikap mental seorang pegawai harus sikap mental yang siap secara psikofisik (sikap secara mental, fisik, tujuan dan situasi). Artinya seorang pegawai harus siap mental, mampu secara fisik, memahami tujuan utama dan target kerja yang akan dicapai serta mampu memanfaatkan dan menciptakan situasi kerja.

Stres Kerja Pengertian Stres Kerja Stres keja apabila di kelola dengan baik dapat menjadi pendorong dan meningkatkan intensitas kerja, sedangkan apa bila tidak di kelola dengan baik stres kerja akan menimbulkan permasalahan yang berdampak negatif bagi individu dan perusahaan.

Menurut Kreitner dan Kinicki (2005 :351) mendefinisikan stres sebagai respon adaptif dihubungkan oleh karakteristik dan atau proses psikologis individu, yang merupakan suatu konsekuensi dari setiap tindakan external, situasi atau peristiwa yang menempatkan tuntutan psikologis/fisik khusus pada seseorang. Sedangkan menurut Sondang siagian (2008 :300) menyatakan bahwa stres merupakan kondisi ketegangan yang berpengaruh terhadap emosi, jalan pikiran, dan kondisi fisik seseorang. Stres yang tidak bisa diatasi dengan baik biasanya berakibat ketidakmampuan orang berinteraksi secara positif dangan lingkungannya, baik dalam lingkungan pekerjaan maupun lingkungan luarnya.

Robbins (2006:793) mengemukakan stres merupakan kondisi dinamik dimana seorang individu menghadapi peluang, kendala, atau tuntutan yang terkait dengan apa yang diinginkannya dan yang hasilnya di persepsikan sebagai tidak pasti tetapi penting. Berdasarkan uraian di atas maka dapat disimpulkan bahwa stress kerja adalah suatu tanggapan seseorang atas kondisi yang terjadi biasanya berupa kelebihan tuntutan atau kemampuan individu dalam memenuhi tuntutan terutama mengenai aktivitas atau pekerjaan yang dilakukan. Istilah stres yang berkaitan dengan kondisi manusia pertama kali muncul dalam literatur ilmiah pada

Penggunaan teknologi informasi sangat mempengaruhi kinerja pegawai Aparatur Sipil Negara Pemerintah Provinsi Banten, artinya semakin baik penggunaan teknologi informasi maka kinerja pegawai semakin meningkat,bahwa penggunaan teknologi informasi dengan moderasi stres kerja mampu meningkatkan kinerja pegawai Aparatur Sipil Negara di Pemerintah Provinsi Banten. Artinya penggunaan teknologi informasi dengan di moderasi stres kerja yang terkendali mampu meningkatkan kinerja pegawainya.

Peran dan pentingnya Sumber Daya Manusia dalam organisasi adalah bahwa segala potensi Sumber Daya yang dimiliki manusia yang dapat dimanfaatkan sebagai usaha untuk meraih keberhasilan dalam mencapai tujuan baik secara pribadi individu maupun di dalam Organisasi.

Sumberdaya tersebut yaitu waktu,tenaga dan kemampuan manusia ( baik daya pikir serta daya fisiknya) benar-benar dapat dimanfaatkan secara terpadu dan secara optimal bagi kepentingan organisasi. Apabila di dalam organisasi tidak memiliki modal besar, teknologi canggih dengan sumber daya alam maka tidak akan mungkin dapat meraih keberhasilan dalam mencapai tujuan organisasi , Upaya untuk peningkatan tujuan organisasi mendapatkan dukungan dari penggunaan teknologi pada instansi. Kemampuan reality (knowledge dan skill) merupakan kemampuan kerja individu dalam menyelesaikan tugas yang ditanggungnya. Jadi kinerja yang optimal selain didorong oleh kuatnya kemampuan dan motivasi seseorang yang memadai, juga didukung oleh lingkungan yang kondusif.

Kemampuan kerja diperlukan mutlak karena dengan kemampuan pegawai sehingga tujuan organisasi dapat dicapai. Kemampuan kerja adalah suatu hasil kerja yang dicapai seseorang dalam melaksanakan tugas-tugas yang dibebankan kepadanya yang didasarkan atas kecakapan, pengalaman dan kesungguhan serta waktu (Hasibuan, 2003:94). Selain faktor kemampuan juga dipengaruhi oleh kondisi stress kerja pegawai dalam bekerja diinstansi.

Penyebab terjadinya stres dapat mencakup situasi di mana seseorang sering terpapar dengan kejadian yang menantang dan tidak menyenangkan, seperti kondisi kerja yang sulit, menuntut, atau tidak aman. Meskipun sebagian besar pekerjaan dan pekerjaan dapat menuntut banyak waktu, beberapa proses penyelesaian pekerjaan. Penyebab stres kerja yang dialami pegawai adalah beban pekerjaan yang berlebihan sehingga dampak dari stres kerja tersebut adalah banyak pekerjaan yang tidak dapat diselesaikannya dengan tepat waktu, dalam hubungannya dengan rekan kerja juga mengalami gangguan seperti subjek tidak ingin diajak bicara, marah, tegang dan sulit untuk berkonsentrasi pada pekerjaannya.

Stres kerja dan kinerja pegawai memiliki keterkaitan, dimana pengelolaan stres yang dilakukan oleh instansi akan selalu mempunyai hubungan dengan kinerja pada setiap pegawai. Sehingga, apabila organisasi mampu mengelola stres kerja dengan baik, maka kinerjanya dari pegawai akan meningkat sesuai dengan yang diharapkan oleh instansi, karena kinerja tersebut merupakan salah satu tujuan yang ingin dicapai oleh organisasi.

Stres adalah suatu kondisi dinamik yang didalamnya seorang individu dikonfrontasikan dengan suatu peluang, kendala (constraints), atau tuntutan (demands) yang dikaitkan dengan apa yang sangat diinginkannya dan yang hasilnya dipersepsikan sebagai tidak pasti dan penting. Stres adalah suatu kondisi dimana keadaan tubuh terganggu karena tekanan psikologis. Biasanya stres dikaitkan bukan karena penyakit fisik tetapi lebih mengenai kejiwaan. Akan tetapi karena pengaruh stres tersebut maka penyakit fisik bisa muncul akibat lemahnya dan rendahnya daya tahan tubuh pada saat tersebut.

PENGARUH PENGGUNAAN TEKNOLOGI INFORMASI TERHADAP KINERJA PEGAWAI APARATUR SIPIL NEGARA DI PEMERINTAH PROVINSI BANTEN
PENGARUH PENGGUNAAN TEKNOLOGI INFORMASI TERHADAP KINERJA PEGAWAI APARATUR SIPIL NEGARA DI PEMERINTAH PROVINSI BANTEN

Kondisi ini juga terjadi pada instansi yang bergerak dalam pelayanan umum seperti perijinan Pelaksana (UPT) Samsat merupakan instansi yang memberikan pelayanan publik, dimana instansi ini diharapkan mampu memberikan pelayanan secara maksimal kepada masyarakat juga memberikan kebebasan kepada pegawai untuk memaksimalkan potensi yang dimiliki para pegawai sehingga pelayanan kepada masyarakat dapat dilakukan secara maksimal.

Upaya nyata juga dilakukan oleh para pekerja di instansi tersebut dengan selalu memperhatikan kondisi pegawai dengan penggunaan teknologi dan kondisi stress kerja para pegawai dalam bekerja Adanya keterbatasan yang dimiliki oleh pegawai menjadikan beban kerja semakin meningkat sehingga menjadi salah satu penyebab terjadinya stress kerja, jadi dapat dikatakan bahwa penyebab stres kerja pegawai apabila ditinjau dari pemanfaatan teknologi informasi yaitu masih ada sebagian pegawai dalam penguasaan teknologi yang dimiliki oleh pegawai Pemerintah Provinsi Banten kurang.

Penyebab lain terjadinya stres kerja yaitu adanya kegiatan pelayanan yang diberikan kepada masyarakat memiliki intensitas tinggi sehingga mengakibatkan pekerjaan yang terlalu tinggi. Banyaknya komplain dari masyarakat terkait dengan pelayanan yang diberikan juga memicu terjadinya stres kerja yang dialami oleh pegawai. Selain itu stres juga terjadi karena adanya permasalahan antar pegawai yang menyebabkan terjadinya ketidakharmonisan, bentuk ketidakharmonisan tersebut dapat ditunjukkan dengan adanya perbedaan pandangan atau pendapat terkait dengan proses penyelesaian pekerjaan. Beberapa kondisi stress kerja ini memberikan dampak terhadap pencapaian kinerja pegawai.

Dapat diketahui bahwa stress kerja memperlemah pengaruh penggunaan teknologi terhadap kinerja, hasil tersebut menunjukkan bahwa dengan peningkatan stres kerja pada pegawai dapat memberikan dampak negatif terhadap upaya instansi dalam peningkatan kinerja pegawai. Hasil tersebut dapat diartikan bahwa dengan adanya peningkatan stress kerja karyawan yang mencakup mengenai ketidakpuasan dalam bekerja, adanya peningkatan ketegangan dalam menghadapi permasalahan dalam pekerjaan, kecemasan dalam menghadapi tekanan pekerjaan, mudah marah, mengalami kebosanan dalam bekerja dan melakukan penundaan dalam penyelesaian pekerjaan akan menjadikan penurunan kinerja meskipun dengan adanya dukungan dari penggunaan teknologi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *