Panic Buying pandemic Covid-19, berdampak pada Perekonomian, mengakibatkan kenaikan Harga Bahan Pokok dan Pengangguran

oleh -55 views

Penulis : Neli Nurlaili (7775190013)

M.K. : Komunikasi Organisasi Publik ,Magister Administrasi Publik

Universitas Sultan Ageng Tirtayasa Serang Banten

Pandemi Covid -19 , mulai muncul awal bulan maret 2020, terus membawa dampak pada perekonomian Indonesia, Rantai penularan Covid-19 semakin meningkat yang mengakibatkan krisis kesehatan dunia bertambah, efeknya terhadap tenaga kerja dan harga bahan pokok mengalami inflasi.

Saat ini tanggal (22/12/2020), minyak goreng kemasan sederhana mengalami kenaikan 0,38%, seharga Rp.13.188 /Kg, untuk jenis cabai merah keriting juga mengalami kenaikan yang sangat lumayan tinggi mencapai 10% dari hari sebelumnya menjadi Rp.67.670 /Kg., sedangkan untuk cabai rawit merah naik 2%, Rp. 58.670/Kg.

Bahan pokok yang tengah menjadi sorotan adalah telur yang mengalami kenaikan, setelah turun dalam beberapa hari, harga telur kembali naik lagi Rp.28.892/Kg, naik dari harga normal 5% dan Cabe Merah biasa naik menjadi Rp.66.108/Kg, dari harga kemarin, Harga Bawang Merah Rogol Askip mengalami kenaikan Rp. 30.907/Kg, naik Rp. 1.849/Kg dari harga kemarin, dan daging sapi beku mengalami kenaikan berkisar Rp. 48.571/Kg naik dari harga kemarin Rp. 6.904/Kg.

Fluktuasi harga bahan pokok setiap harinya berubah mengalami fluktuasi naik turun tergantung kadar permintaan pasar dan banyaknya stok persediaan melimpah atau tidak, Faktor pemicu kenaikan harga bahan pokok salah satunya adalah faktor cuaca di musim penghujan, di samping juga menghadapi hari besar keagamaan dan tahun baru, sehingga bertambahnya permintaan pasar, dan keterbatasan pasokan.

Dengan merebaknya wabah Covid-19, di Indonesia telah menjadi pukulan keras bagi perekonomian RI, akibat wabah Cofid-19, terdapat beberapa perusahaan yang mengalami gulung tikar, konsumen menjadi pesimis memandang perekonomian, Sehingga daya beli cenderung turun dan konsumen cenderung menahan uangnya hingga terjadi masalah pengangguran yang sangat besar.

Asumsi Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) maka TPT bisa mencapai kisaran 4,8% – 5 % dari total angkatan kerja, namun jika masa pandemic tak kunjung teratasi, TPT di Indonesia pada tahun ini dikhawatirkan melambung lebih tinggi dari level 5%.

Di Seluruh dunia, organisasi perburuhan Internasional ILO memperkirakan sebanyak 1,25 miliar orang bekerja di sektor yang terdampak parah oleh corona dan dibayangi oleh resiko PHK. Sektor-sektor tersebut termasuk akomodasi dan jasa makanan; perdagangan retail dan besar, termasuk jasa reparasi kendaraan; manufaktur; dan property atau real estate.

Ledakan angka pengangguran yang tidak segera diatasi akan mengakibatkan semakin meroketnya angka kemiskinan. Pada pandemi Civid-19 saat ini juga bisa menyebabkan peningkatan kemiskinan hingga 1,1 juta orang, Bahkan pada skenario terburuk, tambahan kemiskinan bahkan bisa mencapai 3,78 juta orang.

Pemerintah harus segera melakukan langkah tegas dan konkret dalam upaya mengatasi masalah ekonomi, permasalahan harga bahan pokok yang melambung karena kurang adanya pasokan, serta jumlah pengangguran yang terus meroket, Efeknya apabila di biarkan terus menerus dapat menimbulkan jumlah angka kemiskinan yang bertambah dan pemulihan ekonomi yang akan semakin sulit.

Analisis permodelan ekonomi memproyeksikan sektor manufaktur dan industry terkena imbas yang parah. Demikian juga daerah-daerah basis industry seperti Banten, DKI Jakarta dan Jawa Barat, Analisis juga menyimpulkan bahwa sektor pertanian terkena dampak paling kecil dibandingkan sektor lain, Hal ini terjadi karena dampak dari pembatasan sosial akan relatif minimal pada sektor pertanian, walaupun masih ada resiko dari disrupsi rantai penawaran dan terpuruknya permintaan.

Panic Buying pandemic Covid-19, berdampak pada Perekonomian, mengakibatkan kenaikan Harga Bahan Pokok dan Pengangguran
Panic Buying pandemic Covid-19, berdampak pada Perekonomian, mengakibatkan kenaikan Harga Bahan Pokok dan Pengangguran

Selain imbas restriksi sosial yang dampaknya relatif kecil karena pusat produksi pertanian bukan di wilayah padat penduduk, sektor pertanian terutama tanaman pangan, secara alamiah tidak akan separah sektor lain ketika terjadi krisis. Ini terjadi karena sifat barang-barang pertanian tanaman pangan yang elastisitas permintaannya rendah. Sejarah krisis di Indonesia, misalnya krisis moneter 1997 – 1998 menyisakan catatan relatif tertahannya sektor pertanian dan bahkan menampung kembali tenaga-tenaga kerja yang kehilangan pekerjaan di perkotaan, Nampaknya peran sektor pertanian sebagai sektor penyandi masa krisis akan terulang di tahun ini.

Dibandingkan dengan berkurangnya ekspor karena resesi global dan menurunnya aktivitas pariwisata, dampak restriksi sosial terhadap aktivitas ekonomilah yang justru akan menjadi sumber pemicu utama resesi, Martin Ravallion, ekonom ahli kemiskinan ternama dari Amerika Serikat bahkan membuka kemungkinan resiko lockdown yang akan berdampak pada kelaparan di Negara-negara miskin.

Aktivitas-aktivitas perekonomian yang esensial dan rendah resiko pelakunya terpapar virus harus diberi perhatian lebih agar mendapat sentuhan kebijakan khusus. Dari berbagai aspek yang akan dibahas berikut, sektor pertanian adalah salah satu kandidat terkuat.

Pertama, dari sudut pandang urgensi pertanian adalah sektor penopang ketahanan pangan yang akan krusial di kala krisis ekonomi. Ini bukan hanya sebatas bertahan hidup tapi juga masalah asupan gizi masyarakat. Krisis moneter 1997/1998 meninggalkan generasi yang mengalami stunting dan malnutrition yang cukup parah dikalangan anak-anak dan ini mempunyai dampak permanen, Ada dua pertimbangan ekstra yang membuat urgensi sektor pertanian lebih tinggi, Pertama, Perdagangan internasional, termasuk sektor pertanian, sedang terganggu. Bahkan beberapa Negara melakukan restriksi ekspor produk pertanian, seperti yang dilaporkan oleh WTO.

Selain itu pandemi Cofid-19 belum menunjukkan kepastian kapan berakhir, sehingga pencabutan reaktriksi sosial PSBB tertunda-tunda. Urgensi yang kedua kemiskinan yang intensitasnya tinggi di pedesaan . Kedua, krisis membuka jendela kesempatan untuk merevitalisasi sektor pertanian, Kondisi ketertutupan penuh dari perdagangan internasional menguji sistem produksi pertanian internasional membantu kita mengidentifikasi titik-titik lemah untuk diperbaiki dalam konteks jangka panjang.

Sistem penyediaan pangan disaat krisis ternyata sektor pertanian bisa menjadi jaring pengaman sosial alamiah, Sektor pertanian dikala normal pun, masih merupakan sektor penyerap tenaga kerja terbanyak, apalagi ketika ada krisis ekonomi.

Kedua ,Solusi bersifat integrative dengan memasukkan sektor pendukung pertanian, Sektor yang terpenting diantaranya adalah sektor transportasi dan logistik yang menghubungkan produk pertanian ke pasar, juga sektor yang mengangkut input, baik bahan baku, maupun mesin-mesin atau alat berat yang penting dalam aktivitas produksi pertanian, Sektor Perkebunan seperti kopi diperparah oleh kondisi ekonomi global dan sifat yang tingkat esensialnya tidak setinggi bahan kebutuhan pokok. Sektor perkebunan kesulitan mencari pekerja untuk masa panen karena berkurangnya mobilitas sebagai dampak dari restriksi sosial.

Ketiga, fleksibilitas atau relaksasi aktivitas sektor pertanian dimasa pandemic Covid-19 tidak akan banyak bermafaat jika disrupsi permintaannya (demand) tidak diatasi, Dengan terbatasnya demand karena mobilitas berkurang dan masyarakat sedang menderita ekonominya, harga akan tertekan, Pada beberapa kasus terjadi anomaly ketika harga mengalami penurunan ditingkat petani tetapi mengalami kenaikan ditingkat konsumen.

Di saat krisis harus hadir lebih intensif dalam melakukan intervensi distribusi, Secara teori peran Negara , sah-sah saja bahkan bersifat meningkatkan efisiensi alokatif jikalau terjadi kegagalan pasar karena kasus luar biasa, Operasi pasar melalui pembelian langsung produk-produk pertanian bukan suatu yang diharamkan dalam kondisi seperti ini, Tentunya dibatasi oleh ketersedian anggaran, Selain bantuan-bantuan sosial ekstra yang dilakukan pemerintah bisa juga disalurkan dengan menyelaraskan pembelian produk-produk kebutuhan pokok yang diproduksi secara sentra-sentra pertanian disekitarnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *