Jadi Narasumber Pada Rakor Penggunaan Tanah Wakaf, H Asep Sunandar : Agar Masyarakat Faham Aturan Wakaf

oleh -13 views

Kasie Wakaf Kemenag Provinsi Banten, H Asep Sunandar (pertama dari kanan)

 

ANTERO.CO LEBAK – Badan Pentanahan Nasional (BPN) Kabupaten Lebak, Badan Wakaf Indonesia (BWI) Banten, Dinas PUPR Lebak, Balai Besar Provinsi Banten dan Kementerian Agama (Kemenag) Provinsi Banten menggelar Rapat Koordinasi (Rakor) Penggunaan Tanah Wakaf dalam Pembangunan Bendungan Karian, di Gedung Tekad Waras, Rangkasbitung, Lebak, Banten, Jum’at (26/06/2020).

Rapat ini diikuti oleh warga dari Dua Kecamatan, yakni Kecamatan Sajira dan Cimarga yang menghadirkan H Asep Sunandar sebagai Pembicara atau Narasumber dari Kantor Kemenag Provinsi Banten sekaligus Kasie Wakaf.

Sebagai Narasumber, H Asep memaparkan, masyarakat yang terkena dampak pembangunan waduk karian di dua Kecamatan mengikuti Rapat Koordinasi Penggunaan Tanah Wakaf dalam Pembangunan Bendungan Karian ini agar faham tentang aturan Wakaf.

“Ini harus diselesaikan secara aturan yang biasa dilakukan dalam aturan Wakaf, dan hal ini juga harus didorong berkaitan dengan beberapa hak alas karena waduk karian sudah lama. Sehingga wakaf juga, alhamdulillah sudah nyambung keseluruhan intansi supaya dipercepat untuk pergantian tanah wakaf yang terkena proyek waduk karian,” tandasnya.

Dijelaskannya, terkait keinginan masyarakat yang sudah membangun mushola dengan pinjaman dari masyarakat itu di luar aturan pemerintah, kalau mengaitkan dengan aturan pemerintah tetap berpatokan mengandalkan aturan.

“Bahwa pemerintah, baik pengganti tanah wakafnya maupun mengganti bangunannya. Kalau manfaatnya tergantung masyarakat yang nanti menggunakan dan relokasinya semua,” ujar Asep.

Menurutnya, pemerintah sesuai dengan appraisal dan tidak ada istilahnya nilai ganti uang bayar, mesjid yang sudah tidak ada, ini dalam aturan regulasi wakaf, pemerintah itu mengganti lahan membangunnya yang ada bangunannya, baik madrasah maupun mushola atau mesjid, juga relokasi kuburan.

“Itu semua dibiayai oleh pemerintah dan aturannya juga dari pemerintah sesuai dengan appraisal itu, nilai yang dikeluarkan oleh KJPP harga tanah dan yang lainnya,” pungkas H Asep Sunandar.

Mutasim, Tokoh Masyarakat (Tokmas) Desa Tambak Kecamatan Cimarga mengatakan, mengenai wakaf mushola dan yang lain lainnya, menurutnya itu sesuai dengan kebutuhan yang ada, masyarakat sangat perlu, biaya yang di keluarkan pengganti dari pemerintah belum ada, nominalnya sudah ada.

“Sehingga kami berembuk, semua masyarakat yang terkena imbas waduk karian, kami mencari si pemborong yang bisa mengeluarkan dana tersebut,” tukasnya.

Sehingga, jelas dia, apabila pencairan mushola dananya sudah cair, baru dibayarkan sesuai dengan hasil musyawarah masyarakat setempat.

“Kami memberanikan diri membangun mushola di Kampung Babakan satu dan di Kampung Pasir Bungur Desa Tambak, yang satu sudah selesai dan yang satunya lagi baru 40 persen, itupun di sandang oleh dana pemborong karena sampai saat ini belum juga cair,” terang Mutasim.

Diungkapkan Mutasim, dalam
Rapat Koordinasi Penggunaan Tanah Wakaf dalam Pembangunan Bendungan Karian ini, katanya akan di bangun oleh pemerintah, sehingga bagaimana kelanjutan kedepannya dengan dana yang sudah dikeluarkan oleh pemborong tersebut.

“Jadi, itu saja harapan masyarakat pada pemerintah memohon jangan sampai membangun mushola yang sudah dinominalkan oleh pemerintah,” imbuhnya.

Mutasim berharap agar sesegera mungkin dikeluarkan saja uangnya sesuai nominal yang ada.

“Kami masyarakat, intinya dengan adanya ganti rugi pembangunan mesjid dan mushola segera terealisasi dengan cepat, seperti yang sudah dilaksanakan di desa yang lain,” pintanya.

Kemudian, sambung dia, diserahkan langsung nilai uang dan dibayarkan pada pemborong yang sudah membangun dari dana talangan. Selanjutnya oleh masyarakat untuk dilanjutkan pembangunannya. Karena di masing masing kampung yang terkena dampak waduk karian.

“Sebagian masjid sudah berdiri di bangun dengan dana pinjaman dari masyarakat, dengan berdirinya mushola, masyarakat dalam menjalankan beribadah dengan khusuk tanpa ada pemikiran yang lain-lain,” katanya. (Bud)

 

Print Friendly, PDF & Email

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *