Melambungnya Harga Gas Elpiji 3 Kg Diduga Ulah Agen dan Pangkalan

oleh -4 views

Melambungnya Harga Gas Elpiji 3 Kg Diduga Ulah Agen dan Pangkalan

 

ANTERO.CO LEBAK – Sudah bukan rahasia umum lagi, terkait melambungnya harga gas elpiji subsidi 3 Kilogram (Kg) yang tidak sesuai Harga Eceran Tertinggi (HET), Akibat nakalnya salah satu Pengusaha Oknum Agen dan Pangkalan yang menjual tabung gas subsidi tidak sesuai ketentuan pemerintah HET, sehingga masyarakat merasa tercekik.

Ketua LSM Benteng Aliansi Rakyat (Bentar), Ahmad Yani mengatakan, Agen Elpiji PT Surya Wana Jaya yang terletak di depan pos polisi mandala, agen beserta para pangkalannya jual harga gas Elpiji itu di atas HET, dan pangkalannya itu menjual ke pengecer atau ke warung dengan harga Rp 22 ribu yang seharusnya HET pangkalan itu Rp 17 ribu menjual ke warung.

“Tapi, agen sendiri menjualnya juga langsung ke warung pengecer dan pengecer itu bawa mobil besar di Mandala, dia langsung belanja ke agen PT Surya Wana Jaya, dan oleh agen diterima dan harganya juga sama Rp 22 ribu per isi tabung gas,” ungkap Yani saat ditemui media, Jum’at (22/05/2020).

Di eceran, jelas dia, jual ke konsumen melambung menjadi Rp 30 ribu, salah satu faktor yang dianggap setiap pengecer atau warung, setiap dia belanja ke pangkalan ataupun belanja langsung ke agen tidak diberikan struk belanja atau tanpa nota.

“Dan itu masalah juga, setiap pengecer mau belanja ke pangkalan ataupun ke agen tidak pernah diberikan struk belanja, dimana-mana kalau kita belanja selalu diberikan struk belanja itu kenapa sampai melambung tinggi harga gas elpijinya,” ujarnya.

Yani menambahkan, disinilah ada terkesan pembiaran yang dilakukan oleh PT Pertamina Hiswana Migas Banten jadi seolah olah tutup mata.

“Entah kenapa, kita juga tidak tahu. Meskipun ada pengawasan dari Disperindag dan Disperindag sendiri kewenangannya tidak terlalu jauh dalam gas Elpiji, memang ada pengawasan dari Disperindag dan kewenangan penuh ada di Pertamina dan Hiswana migas dari sisi pengawasan, kontroling ke tiap tiap atau Pangkalan harus bisa melakukan tindakan tegas terhadap agen ataupun pangkalan yang nakal,” imbuhnya.

Yani menegaskan, jika agen atau pangkalan melakukan pelanggaran, sanksinya harus dicabut izin usahanya untuk memberikan efek jera pada siapapun yang melanggar aturan dari Pertamina ataupun Hiswana dan sanksi untuk pangkalan pemutusan hubungan usaha oleh agen.

“Karena agen yang memberikan SK, karena ini kerjasama agen dan pangkalan, untuk agen harus di cabut izin usahanya oleh Pemerintah Daerah, yaitu Bupati,” terang Yani.

Yani, Ketua LSM Bentar

Sementara Maskur dalam aksinya mengatakan, langka dan melambungnya harga gas elpiji subsidi 3 kg, diduga akibat nakalnya para Agen dan Pangkalan PT Surya Wana Jaya yang berlokasi di mandala Kabupaten Lebak yang menjual ke warung pengecer tidak Sesuai HET yang telah di tentukan oleh pemerintah.

“Agen gas elpiji PT Surya Wana Jaya yang berlokasi di Mandala, para Pangkalan milik PT Surya Wana Jaya telah menjual Gas elpiji subsidi 3 kg ke warung pengecer dengan harga Rp.22.000 pertabung, dan yang lebih ironisnya Agen PT Surya Wana Jaya tidak tanggung tanggung langsung menjual ke warung pengecer dengan harga yang sama denagn Pangkalan yaitu Rp.22.000, sehingga warung pengecer menjual ke masyarakat berkisar antara 27.000 sampai 30.000 per tabung,” ucapnya.

Kata Maskur, ketentuan Pemerintah bahwa penjualan gas elpiji subsidi 3 kg di tingkat Agen sesuai HET adalah sebesar Rp14.500 pertabung ke Pangkalan.

“Sedangkan tingkat penjualan pangkalan ke warung pengecer sesuai HET sebesar Rp17.000 per tabung,” tukasnya.

Namun fakta dilapangan, sambung Maskur, bahwa warung pengecer yang membeli ke Agen ataupun Pangkalan tidak diberikan bukti Struk belanja (Nota pembelian), sehingga Agen dan Pangkalan berlomba lomba mengeruk keuntungan yang besar dari penjualan gas elpiji 3 kg bersubsidi, meskipun masyarakat menjerit dan menjadi korban.

“Dalam situasi merebaknya wabah Virus Covid 19 ini, Rakyat jangan dibebani dengan mahalnya pembelian gas elpiji subsidi 3 kg, masyarakat kecil yang menjadi korban kenakalan Agen dan Pangkalan,” tuturnya.

Untuk itu, pihaknya mewakili masyarakat Lebak, mengecam tindakan Agen dan Pangkalan yang menjual gas elpiji 3 kg subsidi di atas HET, dan meminta kepada Agen dan Pangkalan untuk menurunkan harga jual ke warung pengecer yaitu sesuai HET.

“Kami mendesak kepada PT Pertamina dan Hiswana Migas Banten untuk melakukan tindakan konkrit terhadap Agen dan Pangkalan yang Nakal dengan menjual di atas HET ( tidak sesuai ketentuan pemerintah), dan meminta kepada DPRD Lebak untuk segera menyikapi keluhan warga Lebak terkait penjualan gas 3 kg yang tidak sesuai HET,” pintanya.

Selain itu, pihaknya juga meminta kepada Bupati Lebak agar mengevaluasi Keberadaan Agen dan Pangkalan tersebut yang tidak manut kepada aturan.

“Bila perlu mencabut ijin usahanya, dan meminta kepada para Agen melakukan Pemutusan Hubungan Usaha (PHU), kepada Pangkalan yang Nakal. Jika hal ini tetap dibiarkan, maka kami dari LSM Bentar tidak segan segan akan kembali melakukan aksi besar-besaran,” pungkasnya. (ade/bud)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *