Macam-macam Majas, Pengertian, dan Contohnya

oleh -7 views
Macam-macam Majas, Pengertian, dan Contohnya

Majas atau gaya bahasa adalah penggunaan kekayaan bahasa, penggunaan varietas tertentu untuk mendapatkan efek tertentu yang membuat karya sastra lebih hidup, seluruh karakter bahasa sekelompok penulis sastra dan cara khas untuk menyampaikan pemikiran dan perasaan , baik secara lisan maupun tertulis.

Majas digunakan dalam penulisan karya sastra, termasuk puisi dan prosa. Umumnya puisi dapat menggunakan lebih banyak master daripada prosa.

macam macam majas pertentangan, macam macam majas sindiran, macam macam majas ironi, contoh kalimat majas, jenis jenis majas, majas adalah, contoh majas interupsi, macam macam majas penegasan

Pengertian Majas

Memahami Majas Majas adalah gaya bahasa yang penulis gunakan untuk menyampaikan pesan imajinatif dan kuis. Hal ini bertujuan untuk membuat pembaca mendapatkan efek tertentu dari gaya bahasa yang cenderung emosional. Biasanya, tuannya bukan alias kias atau konotasi nyata.

Macam-macam Majas

Mengenai ragamnya, majas dapat dibagi menjadi empat kelompok besar, yaitu jurusan pembanding, kontradiksi, satir, dan afirmasi. Inilah ulasannya.

Majas Perbandingan

Jenis majas ini adalah gaya bahasa yang digunakan untuk mencocokkan atau membandingkan objek dengan obyek lain melalui proses persamaan, kelebihan muatan, atau penggantian. Dalam prolog perbandingan, teman-teman akan menemui beberapa sub-subyek.

1. Personifikasi

Gaya bahasa ini tampaknya menggantikan fungsi benda mati yang dapat bertindak seperti manusia.

Contoh Majas: Daun kelapa tampak melambai padaku dan mengajakku bermain di pantai segera.

2. Metafora

Itu adalah meletakkan sebuah benda yang sama dengan pesan yang ingin disampaikan dalam bentuk ekspresi.

Contoh: Karyawan adalah tangan kanan komisaris perusahaan. Tangan kanan adalah ekspresi untuk orang yang setia dan dipercaya.

3. Asosiasi

Yaitu membandingkan dua objek yang berbeda, tetapi dianggap sama dengan memberikan konjungsi seperti, suka, atau suka.

Contoh: Saudara kandung itu seperti tombak setengah. Artinya, keduanya memiliki wajah yang sangat mirip.

4. Hiperbola

Itu mengekspresikan sesuatu dengan kesan berlebihan, bahkan hampir tidak beralasan.

Contoh: Orang tuanya berkeringat keringat sehingga anak bisa terus bersekolah. Meremas keringat berarti bekerja keras.

5. Eufemisme

Gaya bahasa yang menggantikan kata-kata yang dianggap kurang baik dengan kecocokan yang lebih halus.

Contoh: Setiap universitas dan perusahaan sekarang diminta untuk menerima cacat. Difabel menggantikan frase “orang cacat”.

6. Metonimia

Itu menyandingkan suatu merek atau istilah sesuatu untuk merujuk ke objek umum.

Contoh: Agar haus cepat hilang, lebih baik minum Aqua. Aqua disini mengacu pada air mineral.

7. Simile

Hampir sama dengan asosiasi yang menggunakan kata bak relationship, like, atau like; Hanya saja simile itu tidak membandingkan dua objek yang berbeda, melainkan menyandingkan aktivitas dengan ungkapan.

Contoh: Perilakunya seperti anak perempuan kehilangan ibunya.

8. Alegori

Itu adalah penjajaran objek dengan kata-kata figuratif.

Contoh: Suami adalah nakhoda dalam menavigasi kehidupan pernikahan. Nakhoda yang dimaksud berarti pemimpin keluarga.

9. Sinekdok

Gaya bahasa terbagi menjadi dua bagian, yaitu sinekdok pars pro toto dan sinekdok totem pro parte. Sinekdok pars pro toto adalah gaya bahasa yang menyebutkan beberapa elemen untuk menunjukkan keseluruhan objek.

Sementara itu, totem pro parte syndrome adalah kebalikannya, yaitu gaya bahasa yang menampilkan keseluruhan untuk merujuk pada beberapa hal atau situasi.

Contoh:

Pars pro Toto: Sampai bel berbunyi, hidung Reni belum terlihat.

Totem pro Parte: Indonesia berhasil memenangkan All England hingga delapan kali berturut-turut.

10. Simbolik

Gaya bahasa yang membandingkan manusia dengan sikap makhluk hidup lainnya dalam ekspresi.

Contoh: Wanita itu adalah seekor merpati jinak.

  • contoh kalimat majas
  • contoh majas interupsi
  • macam macam majas pertentangan
  • majas antonomasia
  • macam macam majas sindiran
  • majas metafora
  • majas penegasan
  • majas pertautan

Majas Pertentangan

Mayoritas kontradiksi adalah gaya bahasa yang menggunakan kata-kata kuasi yang bertentangan dengan niat asli yang dicurahkan sang penulis dalam kalimat tersebut. Tipe ini dapat dibagi menjadi beberapa subtipe, sebagai berikut.

1. Litotes

Bertentangan dengan lebih banyak hiperbola dalam arah perbandingan, litotes adalah ekspresi untuk merendahkan diri, terlepas dari fakta bahwa kebalikannya benar.

Contoh: Selamat datang di pondok kami. Pondok memiliki makna rumah.

2. Paradoks

Yaitu membandingkan situasi asli atau fakta dengan situasi sebaliknya.

Contoh: Di tengah pesta Tahun Baru yang ramai, saya merasa kesepian.

3. Antitesis

Yakni menggabungkan pasangan kata yang artinya saling bertentangan.

Contoh: Film ini disukai oleh orang muda.

4. Kontradiksi Interminis

Gaya bahasa yang menyangkal pidato yang diungkapkan sebelumnya. Biasanya diikuti dengan konjungsi, seperti kecuali atau adil.

Contoh: Semua orang lebih makmur, kecuali orang-orang di perbatasan.

Majas Sindiran

Satian satire adalah kata kias yang merupakan tujuan untuk menyindir seseorang atau perilaku dan kondisinya. Jenis ini terbagi menjadi tiga subtipe, sebagai berikut.

1. Ironis

Itu menggunakan kata-kata yang bertentangan dengan fakta.

Contoh: Buat ruangan Anda begitu rapi sehingga sulit untuk menemukan tempat tidur yang bisa tidur.

2. Sinisme

Itu untuk menyampaikan satir secara langsung.

Contoh: Suara Anda sangat keras sehingga telinga saya berdering dan sakit.

3. Sarkasme

Itu untuk menyampaikan satir secara kasar.

Contoh: Anda hanya orang sampah yang tahu!

  • Contoh majas
  • Contoh kalimat majas
  • Jenis jenis majas
  • Majas pertentangan
  • Contoh majas interupsi
  • Majas penegasan
  • Majas sindiran
  • Majas metafora

Majas Penegasan

Majas penegasan (Speech affirmation) adalah jenis gaya bahasa yang bertujuan untuk meningkatkan efek pada pembacanya untuk menyetujui pidato atau acara.

Tipe ini dapat dibagi menjadi tujuh subtipe, yaitu sebagai berikut.

1. Pleonasme

Yaitu menggunakan kata-kata yang berarti sama sehingga terkesan tidak efektif, tetapi memang sengaja untuk menegaskan suatu hal.

Contoh: Dia memasuki ruangan dengan wajah semringah.

2. Repetisi (Pengulangan)

Gaya bahasa ini mengulangi kata-kata dalam sebuah kalimat.

Contoh: Dia pelakunya, dia pencuri, dia mengambil kalung saya.

3.Retorika (Retoris)

Yaitu memberikan afirmasi berupa kalimat pertanyaan yang tidak perlu dijawab.

Contoh: Kapan pernah terjadi harga barang pokok turun pada saat liburan?

4. Klimaks

Yaitu menyortir hal-hal dari tingkat rendah ke tinggi.

Contoh: Bayi, anak kecil, remaja, dewasa, hingga orang tua harus memiliki asuransi kesehatan.

5. Antiklimaks

Bertentangan dengan klimaks, gaya antiklimaks menegaskan sesuatu dengan menyortir level dari tinggi ke rendah.

Contoh: Masyarakat perkotaan, pedesaan, dan tinggi di dusun harus sadar akan kearifan lokal mereka sendiri.

6. Paralelisme

Gaya bahasa ini umum dalam puisi, mengulang kata dalam definisi yang berbeda. Jika pengulangannya di awal, itu disebut anafora. Namun, jika kata yang diulang adalah di akhir kalimat, itu disebut sebagai epiphany.

Contoh Mayor: Cinta itu sabar.

Cinta itu lemah lembut.

Cinta itu memaafkan.

7. Tautologi

Ini menggunakan kata-kata yang sama untuk menegaskan suatu kondisi atau ucapan.

Contoh: Hidup akan terasa damai, damai, dan bahagia jika semua anggota keluarga saling mencintai.

Kontributor
Teodora Nirmala Fau, S.Hum.
Alumnus UI Program Studi Bahasa Indonesia

Baca juga :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *