Kumuh, Cagar Budaya Petilasan Nyi Mas Gamparan Butuh Sentuhan Tangan Pemerintah

oleh -101 views

Kumuh, Cagar Budaya Petilasan Nyi Mas Gamparan Butuh Sentuhan Tangan Pemerintah

 

ANTERO.CO BANTEN – Tahun 1836 Nyi Mas Gamparan (Nyi Gamparan) memimpin pemberontakan terhadap kolonial Belanda di daerah Pandeglang dan Rangkasbitung. Meskipun pemberontakan dapat dipadamkan namun banyak pejuang kita yang meloloskan diri, yakni Gong Suprayoga, Gambang Caning, Sumur Ciwasiat.

H. Suhandi sebagai Kuncen di tempat Ziarah Nyi Mas Melati dengan sebutan Nyi Mas Gamparan, sedangkan Aki Maung sebagai Pendamping dengan sebutan Macan Putih.

Letak wilayah tempat Ziarah Nyi Mas Gamparan ini berada di Desa Tanjungsari Kecamatan Pabuaran, bersebelahan perbatasan sebelah Timur dengan Desa Sindangmandi Kecamatan Baros.

Kelebihan dari air Ciwasiat ini, sebenarnya untuk mengobati penyakit bagi yang membutuhkan, tentunya bukan untuk di salah gunakan.

Menurut keterangan dari berbagai sumber, terkadang Ciwasiat (Air Wasiat) air yang keluar dari dalam lubang tersebut bisa penuh, kalau Aura badan kita bersih. Kadang juga surut, jikalau niat dan tujuan kita kurang pas.

Menurut Ratu Siti Khodijah (Ojah), seorang tabib di Kampung Cisitu RT01/RW04 Desa setempat yang sudah termashyur dan di percaya bisa mengobati jenis penyakit.

“Akan tetapi kalau untuk keyakinan tetap pada Allah Taalla, saya hanya sifatnya menjalankan syare’at dan berusaha,” ucap Ratu Siti Khodijah, kepada ANTERO.CO ketika ditemui di kediamannya, Sabtu (29/12/2020).

Ratu Siti Khodijah, beliau juga mengaku termasuk masih keturunan dari karuhun Nyi Mas Gamparan. Ia mempersilahkan bagi siapa saja yang mau ziarah kubur asalkan dengan tujuan baik dan positif.

Adapun Monografi lokasi Ziarah tersebut, sebelah utara Desa Pabuaran, sebelah selatan Desa Cemplang Kecamatan Ciomas, sebelah barat Desa Telaga Warna,
sebelah timur Desa Sindangmandi Kecamatan Baros. Luas wilayah 434 Hektar dengan jumlah jiwa 3.457 orang.

Sementara itu Kepala Desa (Kades) Tanjungsari, Zaenal Arifin ketika ditemui ANTERO.CO sedikit menceritakan sejarah Patilasan Nyi Mas Gamparan seorang Pemimpin Perang Abad XVIII ini, menurutnya pada waktu itu perang surosowan melawan Kolonial Belanda yang menyerang bangsa Islam habis-habisan.

Kata Zaenal, pada saat ini sungguh sangat memprihatinkan Cagar Budaya Patilasan Nyi Mas Gamparan kondisinya kurang terpelihara serta terkesan kumuh.

Oleh karena itu, pihaknya berharap kepada Dinas Pemerintah Kabupaten Serang, terkait Cagar Budaya yang ada di Desa Tanjungsari, untuk di perhatikan dan dapat dilestarikan.

“Kami sangat berharap besar bantuan pemerintah agar Cagar Budaya Patilasan Nyi Mas Gamparan ini tidak lagi kumuh,
Karena cagar budaya memiliki nilai sejarah yang sangat berarti bagi Bangsa, Negara dan Agama,” pinta Zaenal. (Bahrudin/Red)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *