Kumpulan Karya Puisi Sapardi Djoko Damono

oleh -6 views
kumpulan puisi sapardi djoko damono
kumpulan puisi sapardi djoko damono

ANTERO SASTRA – Puisi hujan bulan juni menceritakan tentang Romantika Puisi Hujan Bulan Juni Sebuah buku kumpulan puisi karya Sapardi Djoko Damono, akhirnya dijadikan menjadi sebuah novel dengan cerita yang utuh dan menyentuh. Novel tersebut pertama kali dicetak pada bulan Juni tahun 2015.

Kemunculannya pada bulan Juni tahun itu adalah sebuah momentum yang pas dan menyamakan dengan judulnya yakni hujan di Bulan Juni.

Novel tersebut menceritakan soal kisah cinta Pingkan dan Sarwono yang aneh.

Novel ini juga sudah diangkat menjadi sebuah film layar lebar, hal tersebut sesuai dengan keinginan pembaca dan khalayak ramai yang menginginkan agar ada versi visualisasi terhadap novel tersebut.

Mengingat banyak orang yang ingin mengetahui kisah di dalam Hujan Bulan Juni namun tidak memiliki minat yang kuat untuk membaca.

Puisi Sapardi Djoko Damono

Membaca kisah cinta Pingkan dan Sarwono, pembaca akan diajak untuk menyelami kisah yang sebenarnya senyap dan biasa, seperti kebanyakan kisah orang-orang lainnya namun dikemas secara luar biasa. Bait-bait puisi menjadi dialog dan kata dalam cerita.

Kisah cinta yang unik dan aneh sebenarnya, ketika dua orang saling malu-malu untuk mengungkap rasa namun sebenarnya saling suka.

Sarwono yang sudah yakin bahwa Pingkan juga memiliki rasa yang sama, memanfaatkan kesempatan dalam setiap perjalanannya, entah itu perjalanan pendidikan atau yang lainnya untuk dapat duduk berdua dan selalu bersama dengan Pingkan.

Di dalam novel yang tipis tersebut juga tertuang kisah Pingkan yang galau dengan status dirinya. Sebenarnya ia Jawa atau apa? Ayahnya orang Minahasa, namun ia merasa Jawa.

Pingkan dihadapkan pada kebimbangan, apalagi ditambah dengan mencintai Sarwono yang dari namanya saja sudah tertebak bahwa ia adalah seorang Jawa asli.

Hal itu cukup mengganggu pikirannya, namun pada akhirnya ia memutuskan tak ambil pusing dengan itu semua, Pingkan adalah seorang warga negara Indonesia yang juga mencintai Sarwono.

Sarwono sendiri adalah sosok yang sangat menyukai puisi, ia menulis puisi dan sering mengirimkan puisinya ke media cetak koran.

Puisi-puisi tersebut ia tujukan untuk Pingkan sebenarnya, namun dengan cara yang berbeda. Sarwono menganggap puisi adalah sebuah media komunikasi yang akan mengantarkan pesannya kepada orang yang dituju, yakni Pingkan.

Orang lain yang membaca puisi tersebut pun akan turut merasakan apa yang terkandung di dalam puisi. Puisi bagi Sarwono buka sekedar kata-kata semata, puisi itu medium dan medium itu adalah dukun bisik Sarwono pada dirinya sendiri.

Sarwono bukan lagi laki-laki muda yang bila jatuh cinta pengungkapannya luar biasa, seperti Hiroshima yang kejatuhan bom atom dan menimbulkan ledakan hebat.

Hati Sarwono tidak begitu, apabila ia jatuh cinta, pengungkapannya sangat sederhana, sesederhana puisi yang ia buat namun kaya akan makna.

Sarwono dan Pingkan sudah melangkah ke jenjang yang sangat tinggi, mereka berdua merencanakan akan menikah, hidup bersama dan membangun sebuah keluarga yang bahagia.

Akan tetapi hal itu masih harus menghadapi cobaan, yakni dengan kepergian Pingkan ke Kyoto untuk melanjutkan pendidikan.

Sarwono sangat gelisah dengan hal itu, namun mau tidak mau ia harus melepas Pingkan. Komunikasi keduanya berjalan lancar dan dilandasi dengan kepercayaan, mereka selalu berkirim pesan sesering mungkin untuk membagikan cerita dan hal-hal yang sudah mereka alami.

Sayangnya nasib berkata lain, Sarwono yang sangat mencintai Pingkan meninggal dunia akibat penyakit paru-paru basah yang ia derita.

Cinta memang tak ada yang tahu, meski sudah dijalani dengan sedemikian rupa dengan keyakinan yang luar biasa, namun semuanya tetap kembali pada Tuhan.

  • kumpulan puisi sapardi djoko damono pdf
  • puisi sapardi djoko damono aku ingin
  • puisi sapardi djoko damono yang fana adalah waktu
  • puisi sapardi djoko damono perahu kertas
  • puisi sapardi djoko damono tentang tuhan
  • puisi sapardi djoko damono dan maknanya
  • puisi sapardi djoko damono hujan bulan juni
  • puisi sapardi djoko damono tentang sahabat

Kumpulan Puisi dari Sang Maestro

“Perkara alam, zaman dulu memang tidak ada apa-apa kan? Saya kenal alam di situ, karena tempat tinggal saya di desa dan keluar masuk kampung bersama seorang teman yang akrab pada masa dulu. Jadi saya betul-betul memerhatikan alam.”

Aku Ingin

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
dengan kata yang tak sempat diucapkan
kayu kepada api yang menjadikannya abu

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
dengan isyarat yang tak sempat disampaikan
awan kepada hujan yang menjadikannya tiada

1989

Hatiku Selembar Daun

Hatiku selembar daun
melayang jatuh di rumput;

Nanti dulu,
biarkan aku sejenak terbaring di sini;
ada yang masih ingin kupandang,
yang selama ini senantiasa luput;

Sesaat adalah abadi
sebelum kausapu tamanmu setiap pagi.

Hujan Bulan Juni

tak ada yang lebih tabah
dari hujan bulan Juni
dirahasiakannya rintik rindunya
kepada pohon berbunga itu

tak ada yang lebih bijak
dari hujan bulan Juni
dihapusnya jejak-jejak kakinya
yang ragu-ragu di jalan itu

tak ada yang lebih arif
dari hujan bulan Juni
dibiarkannya yang tak terucapkan
diserap akar pohon bunga itu

Yang Fana Adalah Waktu

Yang fana adalah waktu. Kita abadi memungut detik demi detik, merangkainya seperti bunga
sampai pada suatu hari
kita lupa untuk apa
“Tapi, yang fana adalah waktu, bukan?” tanyamu.
Kita abadi.

1978

Pada Suatu Hari Nanti

Pada suatu hari nanti,
Jasadku tak akan ada lagi,
Tapi dalam bait-bait sajak ini,
Kau tak akan kurelakan sendiri.

Pada suatu hari nanti,
Suaraku tak terdengar lagi,
Tapi di antara larik-larik sajak ini.

Kau akan tetap kusiasati,

Pada suatu hari nanti,
Impianku pun tak dikenal lagi,
Namun di sela-sela huruf sajak ini,
Kau tak akan letih-letihnya kucari.

Kuhentikan Hujan

Kuhentikan hujan
Kini matahari merindukanku, mengangkat kabut pagi perlahan

Ada yang berdenyut dalam diriku
Menembus tanah basah
Dendam yang dihamilkan hujan
Dan cahaya matahari
Tak bisa kutolak

Matahari memaksaku menciptakan bunga-bunga

Hanya

Hanya suara burung yang kau dengar
dan tak pernah kaulihat burung itu
tapi tahu burung itu ada di sana

Hanya desir angin yang kaurasa
dan tak pernah kaulihat angin itu
tapi percaya angin itu di sekitarmu

Hanya doaku yang bergetar malam ini
dan tak pernah kaulihat siapa aku
tapi yakin aku ada dalam dirimu

Menjenguk Wajah di Kolam

Jangan kau ulang lagi
menjenguk
wajah yang merasa
sia-sia, yang putih
yang pasi
itu.

Jangan sekali-
kali membayangkan
Wajahmu sebagai
rembulan.

Ingat,
jangan sekali-
kali. Jangan.

Baik, Tuan.

Sajak Kecil Tentang Cinta

Mencintai angin harus menjadi siut
Mencintai air harus menjadi ricik
Mencintai gunung harus menjadi terjal
Mencintai api harus menjadi jilat

Mencintai cakrawala harus menebas jarak

Mencintai-Mu harus menjelma aku

Sajak Tafsir

Kau bilang aku burung?
Jangan sekali-kali berkhianat
kepada sungai, ladang, dan batu.
Aku selembar daun terakhir
yang mencoba bertahan di ranting
yang membenci angin.
Aku tidak suka membayangkan
keindahan kelebat diriku
yang memimpikan tanah,
tidak mempercayai janji api yang akan menerjemahkanku
ke dalam bahasa abu.
Tolong tafsirkan aku
sebagai daun terakhir
agar suara angin yang meninabobokan
ranting itu padam.

Tolong tafsirkan aku sebagai hasrat
untuk bisa lebih lama bersamamu.
Tolong ciptakan makna bagiku,
apa saja — aku selembar daun terakhir
yang ingin menyaksikanmu bahagia
ketika sore tiba.

Kita Saksikan

kita saksikan burung-burung lintas di udara
kita saksikan awan-awan kecil di langit utara
waktu itu cuaca pun senyap seketika
sudah sejak lama, sejak lama kita tak mengenalnya

di antara hari buruk dan dunia maya
kita pun kembali mengenalnya
kumandang kekal, percakapan tanpa kata-kata
saat-saat yang lama hilang dalam igauan manusia

1967

Akulah Si Telaga

akulah si telaga:

berlayarlah di atasnya;
berlayarlah menyibakkan riak-riak kecil

yang menggerakkan bunga-bunga padma;
berlayarlah sambil memandang harumnya cahaya;
sesampai di seberang sana, tinggalkan begitu saja

— perahumu biar aku yang menjaganya.

1982

Hujan Dalam Komposisi, 1

Apakah yang kautangkap dari swara hujan, dari

daun-daun bugenvil basah yang teratur mengetuk jendela?
Apakah yang kautangkap dari bau tanah, dari ricik air yang
turun di selokan?

Ia membayangkan hubungan gaib antara tanah dan

hujan, membayangkan rahasia daun basah serta ketukan
yang berulang.

“Tak ada. Kecuali bayang-bayangmu sendiri yang di

balik pintu memimpikan ketukan itu, memimpikan sapa
pinggir hujan, memimpikan bisik yang membersit dari titik
air menggelincir dari daun dekat jendela itu. Atau
memimpikan semacam suku kata yang akan mengantarmu
tidur.”

Barangkali sudah terlalu sering ia mendengarnya, dan

tak lagi mengenalnya.

1969

Print Friendly, PDF & Email

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *