Pendidikan Kewarganegaraan | Kode Etik Guru, Tujuan KTSP

oleh -4 views
Pendidikan Kewarganegaraan

Kode Etik Guru Indonesia

  1. Guru berbakti membimbing anak didik seutuhnya untuk membentuk manusia pembangun yang berjiwa Pancasila.
  2. Guru memiliki kejujuran Profesional dalam menerapkan Kurikulum sesuai dengan kebutuhan anak didik masing-masing.
  3. Guru mengadakan komunikasi terutama dalam memperoleh informasi tentang anak didik, tetapi menghindarkan diri dari segala bentuk penyalahgunaan.
  4. Guru menciptakan suasana kehidupan sekolah dan memelihara hubungan dengan orang tua murid sebaik-baiknya bagi kepentingan anak didik.
  5. Guru memelihara hubungan dengan masyarakat disekitar sekolahnya maupun masyarakat yang luas untuk kepentingan pendidikan.
  6. Guru secara sendiri-sendiri dan atau bersama-sama berusaha mengembangkan dan meningkatkan mutu Profesinya.
  7. Guru menciptakan dan memelihara hubungan antara sesama guru baik berdasarkan lingkungan maupun di dalam hubungan keseluruhan.
  8. Guru bersama-sama memelihara membina dan meningkatkan mutu Organisasi Guru Profesional sebagai sarana pengapdiannya.
  9. Guru melaksanakan segala ketentuan yang merupakan kebijaksanaan Pemerintah dalam bidang Pendidikan.

Menjaga Kewibawaan Pendidik

Pendidik ialah orang yang bertanggung jawab terhadap pelaksanaan pendidikan dengan sasaran peserta didik. Peserta didik mengalami pendidikannya dalam 3 lingkungan yaitu lingkungan keluarga, lingkungan sekolah dan lingkungan masyarakat. Sebab itu yang bertanggung jawab terhadap pendidikan ialah orang tua, guru, pemimpin program pembelajaran, latihan dan masyarakat/organisasi.

Pada prakteknya, pendidik harus mempunyai kewibawaan (kekuasaan batin mendidik) dan menghindari penggunaan kekuasaan lahir, yaitu kekuasaan yang semata-mata didasarkan kepada unsur wewenang jabatan. Kewibawaan justru merupakan sesuatu pancaran batin yang dapat menimbulkan pada pihak lain sikap untuk mengakui, menerima, dan menuruti dengan penuh pengertian atas kekuasaan tersebut.

Cara Memelihara Kewibawaan

Ibarat cahaya lampu, bagaimanapun juga kewibawaan dapat memudar jika tidak dirawat dan dibina. Ada 3 sendi kewibawaan yang menurut M. J. Langeveld harus dibina yaitu kepercayaan, kasih sayang dan kemampuan.

Kepercayaan

Pendidik harus percaya bahwa dirinya bisa mendidik dan juga harus percaya bahwa peserta didik dapat dididik.

Kasih sayang

Kasih sayang mengandung dua makna yakni penyerahan diri kepada yang disayangi dan pengendalian terhadap yang disayangi. Dengan adanya sifat penyerahan diri maka pada pendidik timbul kesediaan untuk berkorban yang dalam bentuk konkretnya berupa pengabdian dalam kerja. Pengendalian terhadap yang disayangi dimaksudkan agar peserta didik tidak berbuat sesuatu yang merugikan.

Kemampuan

Kemampuan mendidik dapat dikembangkan melalui beberapa cara, antara lain pengkajian ilmu pengetahuan kependidikan, mengambil manfaat dari pengalaman kerja dan lain-lain.

Membangun Karakter Guru

Guru merupakan faktor penting yang besar pengaruhnya terhadap proses dan hasil belajar, bahkan sangat menentukan berhasil-tidaknya peserta didik dalam belajar. Demikian halnya dengan pengembangan KTSP yang menuntut aktivitas dan kreativitas guru dalam membentuk kompetensi pribadi peserta didik.

Oleh karena itu, pembelajaran harus sebanyak mungkin melibatkan peserta didik agar mampu berekplorasi untuk membentuk kompetensi dengan menggali berbagai potensi, dan membangun guru agar mereka mampu menjadi fasilitator dan mitra belajar bagi peserta didiknya.

Agar guru mampu memerankan dirinya sebagai fasilitator pembelajaran, terdapat beberapa hal yang harus dipahami peserta didik yaitu kemampuan, potensi, minat, hobi, sikap, kepribadian, kebiasaan, catatan kesehatan, latar belakang keluarga, dan kegiatannya di sekolah.

Sehubungan dengan pengambangan KTSP, guru perlu memperhatikan perbedaan individual peserta didik, sehingga dalam pembelajaran harus berusaha untuk melakukan hal-hal sebagai berikut:

  1. Mengurangi metode ceramah;
  2. Memberikan tugas yang berbeda bagi setiap peserta didik;
  3. Mengelompokan peserta didik berdasarkan kemampuannya serta disesuaikan dengan mata pelajaran;
  4. Memodifikasi dan memperkaya bahan pembelajaran;
  5. Menghubungi spesialis bila ada peserta didik yang mempunyai kelainan;
  6. Menggunakan prosedur yang bervariasi dalam membuat penilaian dan laporan;
  7. Memahami bahwa peserta didik tidak berkembang dalam kecepatan yang sama;
  8. Mengembangkan situasi belajar yang memungkinkan setiap anak bekerja dengan
  9. Kemampuan masing-masing pada setiap pelajaran; dan
  10. Mengusahakan keterlibatan peserta didik dalam berbagai kegiatan pembelajaran.

Karakteristik dan Tujuan KTSP

Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) merupakan bentuk operasional pengembangan kurikulum dalam konteks desentralisasi pendidikan dan otonomi daerah yang akan memberikan wawasan baru terhadap sistem yang sedang berjalan selama ini.

Hal tersebut diharapkan dapat membawa dampak terhadap peningkatan efisiensi dan efektifitas kinerja sekolah, khususnya dalam meningkatkan kualitas pembelajaran. Salah satu perhatian sekolah harus ditujukan pada asas pemerataan baik dalam bidang sosial, politik, ekonomi, maupun bidang sosial. Ini disebabkan karena peserta didik datang dari berbagai latar belakang kesukuan dan tingkat sosial.

Di sisi lain, sekolah harus juga meningkatkan efisiensi, partisipasi dan mutu, serta bertanggungjawab kepada masyarakat dan pemerintah.

Karakteristik KTSP bisa diketahui antara lain dari bagaimana sekolah dan satuan pendidikan dapat mengoptimalkan kinerja, proses pembelajaran, pengelolaan sumber belajar, profesionalisme tenaga kependidikan, serta sistem penilaian.

Berdasarkan uraian di atas, dapat dikemukakan beberapa karakteristik KTSP sebagai berikut:

  1. Pemberian otonomi luas Kepala Sekolah dan satuan pendidikan
  2. Partisipasi masyarakat dan orang tua yang tinggi
  3. Kepemimpinan yang demokratis dan profesional
  4. Tim kerja yang kompak dan transparan

Tujuan KTSP

Secara umum tujuan diterapkannya KTSP adalah untuk memandirikan dan memberdayakan satuan pendidikan melalui pemberian kewenangan (otonom) kepada lembaga pendidikan dan mendorong sekolah untuk melakukan pengambilan keputusan secara partisipatif dalam pengembangan kurikulum.

Sedangkan secara khusus KTSP bertujuan untuk:

  1. Meningkatkan mutu pendidikan melalui kemandirian dan inisiatif sekolah dalam mengembangkan kurikulum, mengelola dan memberdayakan sumberdaya yang tersedia.
  2. Meningkatkan kepedulian warga sekolah dan masyarakat dalam pengembangan kurikulum melalui keputusan bersama.
  3. Meningkatkan kompetisi yang sehat antar satuan pendidikan tentang kualitas pendidikan yang akan dicapai.

Perkembangan Kurikulum di Indonesia

Kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggara kegiatan belajar mengajar untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu (Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional no. 20 Tahun 2003)

Dalam sejarah pendidikan di Indonesia yang dimulai sejak diproklamirkannya kemerdekaan pada tanggal 17 Agustus 1945, tercatat sudah 8 kali kurikulum pendidikan nasional mengalami pengembangan, yaitu sebagai berikut:

  1. Kurikulum pertama tahun 1947. Kurikulum ini disebut sebagai rencana pelajaran 1947.
  2. Tahun 1964. Kurikulum ini disebut rencana pendidikan 1964.
  3. Tahun 1968.
  4. Tahun 1975. Dapat disebut kurikulum tahun 1975 lebih sistematik dari kurikulum-kurikulum sebelumnya.
  5. Tahun 1984. Kurikulum ini adalah penyempurnaan kurikulum tahun 1975.
  6. Tahun 1994 ditambah dengan suplemen tahun 1999.
  7. Tahun 2004. Kurikulum ini disebut Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK). Walaupun kurikulum ini belum memiliki landasan hukum pelaksanaan, menurut Pusat Kurikulum,Balitbang Depdiknas dalam buku berjudul Kurikulum Berbasis Kompetensi (2002:19) bahwa kurikulum ini telah diuji-cobakan terhadap beberapa sekolah rintisan dan perluasan rintisan dari bulan Juli 2001 sampai dengan Juni 2004. Kurikulum inilah yang menjadi cikal-bakal munculnya Peraturan menteri Pendidikan Nasional (Permen Diknas) nomor 22 tahun 2006 tentang Standar Isi, nomor 23 tahun 2006 tentang Standar Kompetensi Lulusan (SKL) dan nomor 24 tahun 2006 tentang pelaksanaan Permen Diknas nomor 22 dan 23.
  8. Tahun 2006. Kurikukum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP)

Pengaruh Lingkungan Terhadap Keberhasilan Pendidikan

 

Lembaga pendidikan sebagai salah satu bentuk sistem sosial, senantiasa bersifat terbuka. Artinya pendidikan tersebut selalu menerima masukan (input) dari lingkungan dan memberikan hasil berupa output pada lingkungan. Keberhasilan suatu lembaga pendidikan dalam mencapai tujuannya dipengaruhi oleh kondisi dan situasi yang ada di sekelilingnya.

Konsep dan Jenis Lingkungan Pendidikan

Dalam kehidupannya sebagai makhluk sosial, manusia akan berhadapan dan berinteraksi dengan segala sesuatu yang berada di sekelilingnya, baik yang hidup (biotik) berupa manusia maupun bukan manusia seperti hewan dan tumbuh-tumbuhan serta yang tidak hidup (abiotik) misalnya lingkungan alam.

Segala sesuatu yang berada di sekeliling manusia disebut lingkungan. Dengan demikian yang tergolong pada lingkungan adalah makhluk yang berada di alam (dunia) ini, yang hidup (biotik) maupun yang tidak hidup (abiotik) yang mempengaruhi perilaku, pertumbuhan dan perkembangan kehidupan manusia, termasuk kegiatan pendidikan.

Lingkungan hidup manusia dapat dibedakan menjadi lingkungan alam dan lingkungan sosial.

  1. Lingkungan alam ialah segala sesuatu atau benda di luar manusia yang berada di alam dunia ini seperti batu, rumah, tumbuh-tumbuhan, hewan, iklim, siang dan malam dan sebagainya.
  2. Lingkungan sosial ialah semua manusia atau orang lain yang berinteraksi dengan diri kita baik langsung maupun tidak langsung yang saling mempengaruhi antara manusia yang satu dan yang lainnya. Sebagai makhluk sosial, manusia akan saling mempengaruhi dan dipengaruhi orang lain.

Sebagai sebuah sistem, keberhasilan pendidikan tidak hanya ditentukan oleh salah satu komponen yang ada di dalamnya, tetapi juga oleh seluruh komponen dari sistem pendidikan tersebut yang masing-masing mempunyai andil dalam mencapai tujuan yang diinginkan.

Salah satu komponen penting yang turut mempengaruhi keberhasilan pendidikan adalah situasi dan kondisi tempat berlangsungnya kegiatan pendidikan tersebut. Oleh karena itu baik lingkungan sosial maupun lingkungan fisik dan alam sebagai tempat berlangsungnya pendidikan dengan segala situasi dan kondisinya akan turut berpengaruh pada keberhasilan proses pendidikan.

Lingkungan pendidikan merupakan suatu keadaan atau berupa tempat yang memungkinkan terjadinya pendidikan. Karena pendidikan merupakan interaksi antar manusia, maka yang dimaksud dengan lingkungan pendidikan adalah suatu tempat dimana memungkinkan terjadinya suatu interaksi manusia dalam proses pendidikan dan untuk mencapai tujuan pendidikan.

Keberhasilan pendidikan tidak terlepas dari kondisi lingkungan dimana pendidikan itu berlangsung. Semakin kondusif suatu lingkungan tempat berlangsungnya pendidikan, maka semakin mendukung terhadap keberhasilan pendidikan dalam mencapai tujuannya.

Print Friendly, PDF & Email

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *