Kisah Miris Pencari Kerja di Banten dengan Puluhan Ribu Industri

oleh -0 views
Kisah Miris Pencari Kerja di Banten dengan Puluhan Ribu Industri
Ribuan orang antri mencari kerja di job fair Kabupaten Tangerang, Foto Istimewa

ANTERO SERANG – 14 Ribu industri di Banten rupanya belum menyerap banyak pekerja untuk masyarakat Banten. Akibatnya, Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) adalah 7,77 persen pada Februari 2018 atau terbesar kedua di Indonesia.

Di sisi lain, pencari kerja di Banten juga harus berurusan dengan calo. Di kawasan industri seperti Tangerang dan Kabupaten Serang, istilah ‘membayar pekerjaan di industri’ telah menjadi rahasia umum.

Seperti dikisahkan oleh warga Balaraja, Tangerang berinisial SS. Dia menyogok untuk calo dan harus membayar sekitar Rp 2,5 untuk masuk ke salah satu pabrik.

SS mengatakan, pada bulan April, dia bertemu dengan calo yang juga mengaku sebagai pegawai desa yang dapat memfasilitasi pencari kerja. Surat lamaran yang ia siapkan bersama uang suap pertama sebesar Rp 100 ribu.

“Pertama disuruh bawa lamaran sama uang Rp 100 ribu. Ketemu sama dia, katanya nanti sore bawa uang Rp 500 ribu buat pelicin,” ujar SS saat bercerita kepada wartawan, Serang, Banten, Rabu (9/5/2018).

Sore itu, dia langsung mengambil uang dan berjanji untuk bekerja pada 5 April. Namun sebelum bekerja, ia diminta membayar sisa Rp 1,5 juta.

Pada tanggal 5 April, dia kembali untuk menemui calo di kantor desa. Uang yang tersisa dia bawa. Tapi, kata SS, para calo malah mengulur waktu hingga 16 April. Begitu saatnya tiba, janji itu tidak diterima oleh SS.

“Saya ke sana lagi, tapi ya nihil hasilnya. Diundur lagi, hampir satu bulan sampai sekarang nggak kerja-kerja,” ujarnya.

SS mengatakan, praktik makelar untuk mencari pekerjaan adalah hal biasa di daerah Balaraja. Bahkan, sebelum dia ditipu, dia pernah bekerja di pabrik karton menggunakan pialang. Ia mengaku membayar Rp 2 juta untuk bekerja di mesin pembantu.

Baca juga: Tingkat Pengangguran di Banten Tertinggi Kedua di Indonesia

Hal yang sama juga diceritakan oleh warga imigran di Kabupaten Serang, berinisial SI. Dia pernah bekerja di pabrik kawasan industri Serang Timur.

Ceritanya, pada 2015, SI bertemu dengan calo yang menawarkan pekerjaan. Dia diminta menyiapkan Rp 3,5 juta serta lamaran. Setelah kesepakatan itu, dia dipanggil oleh perusahaan untuk melakukan wawancara.

Keesokan harinya, dia mendapatkan kartu ID karyawan. Tapi, setelah diperiksa oleh personel, kartu ditarik karena usianya tidak cukup untuk bekerja di pabrik. Dia juga gagal, meminta calo mengembalikan uangnya.

“Terus saya hubungi calonya itu. Saya sempat bayar Rp 3,5 juta. Mereka tangung jawab, dibayarnya nyicil sampe berbulan-bulan tapi ada potongan Rp 500 ribu,” ujarnya

Baca juga: Tingkat Pengangguran Tinggi di Banten, Inilah Penjelasan Gubernur

Gagal melalui calo, SI berusaha melamar melalui saluran resmi perusahaan. Akhirnya, dia diterima bekerja selama 3 tahun. Tapi, karena kontraknya tidak diperbarui, dia saat ini menganggur.

Beberapa waktu lalu, SI ditawari untuk bekerja lagi di perusahaan. Namun menurutnya, tingkat pialang kerja sekarang naik. Untuk wanita, mereka mendapat Rp 6 juta dan pria Rp 10 juta.

“Makanya saya masuk kerja mikir-mikir. Yang kerja kita, ngapain pakai calo begitu. Kasihan orang-orang yang nggak punya duit mau gimana. Saya tahunya dari teman, kan ada teman yang sering WA bilang ada lowongan nih tapi Rp 6 juta,” katanya lagi. (FH)

Print Friendly, PDF & Email

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *