Kiai Haji Syam’un, Pahlawan Nasional dari Pesantren di Banten

oleh -0 views

ANTERO BANTEN – Pemerintah berencana memberikan gelar pahlawan nasional kepada beberapa tokoh dari berbagai daerah di Indonesia pada Hari Pahlawan, 10 November 2018. “Direncanakan penganugerahan gelar pahlawan nasional untuk enam orang,” kata Direktur Jenderal Pemberdayaan Sosial Kementerian Sosial Pepen Nazaruddin, Rabu, 7 November 2018.

Baca: Nama nama pahlawan nasional beserta gambarnya

Dari enam tokoh tersebut, salah satu yang akan diganjar gelar pahlawan nasional adalah Kiai Haji Syam’un. Syam’un merupakan seorang sosok pejuang kemerdekaan dalam menentang pemerintah Hindia Belanda di Cilegon, Banten.

Saat memperjuangkan kemerdekaan, Syam’un bergabung dengan Tentara Pembela Tanah Air (PETA). Selama di PETA, Syam’un adalah Dai Dan Tyo–setingkat koordinator komandan–yang membawahi seluruh Dai Dan I PETA wilayah Serang. Selama menjadi Dai Dan Tyo, dia bersama anak buahnya memberontak dan mengambil alih wilayah kekuasaan Jepang.

Karier militer Syam’un selama di PETA membuatnya menjadi pimpinan Brigade I Tirtayasa Badan Keamanan Rakyat (BKR) yang akhirnya berubah menjadi Tentara Keamanan Rakyat (TKR). Brigade I Tirtayasa ini kemudian juga berubah dan dikenal menjadi Tentara Nasional Indonesia (TNI) Divisi Siliwangi.

Puncak karier militer Syam’un membawanya mendapat pangkat Jenderal Bintang Satu alias Brigadir Jenderal. Selama berpangkat Birgjen, Syam’un juga merangkap jabatan sebagai Bupati Kabupaten Serang, Banten.

Kisah hidup Kiai Syam’un sebagai pendiri salah satu pesantren di Banten

Selain sebagai tokoh perjuangan, Syam’un turut dikenal sebagai pemuka agama di Banten. Sejak umur 11 tahun, dia sudah menimba ilmu di Mekah dan Mesir selama 10 tahun. Dia merupakan lulusan sekolah Al-Alzhar di negeri piramid itu.

Setelah kembali ke Indonesia, dia mendirikan pondok pesantren yang diberi nama Perguruan Tinggi Islam Al-Khairiyah Citangkil. Nama pesantren ini diambil dari nama bendungan di Sungai Nil, Mesir, yang bernama Al-Khairiyah.

Pada awal kemerdekaan, Syam’un yang diusulkan menjadi pahlawan nasional pun kembali berjuang dalam perang saat meletusnya Agresi Militer Belanda II. Pria kelahiran 5 April 1894 di Serang, Banten, ini bergeriliya dari Gunung Karang, Pandeglang hingga kampung Kamasan, Cinangka, Serang. Syam’un wafat di kampung Kamasan pada tahun 1949. Dia meninggal karena sakit saat memimpin perang gerilya di hutan sekitar Kamasan.

Print Friendly, PDF & Email

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *