Inilah Curhatan Ahok di Penjara soal Korban Politik hingga Jokowi

oleh -0 views
Inilah Curhatan Ahok di Penjara soal Korban Politik hingga Jokowi
Inilah Curhatan Ahok di Penjara soal Korban Politik hingga Jokowi

ANTERO DEPOK – Mantan Gubernur Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok selalu menarik perhatian publik.

Termasuk kondisinya saat ini yang berada di penjara setelah beberapa waktu lalu bercerai dari istrinya, Veronica Tan.

Tepatnya, seperti yang diungkapkan oleh akun Facebook baru-baru ini.

Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok sering dikunjungi oleh para pendukungnya sejak menjadi tahanan di Mako Brimob.

Baru-baru ini, Ahok dikunjungi aktivis media sosial Denny Siregar, Permadi Arya atau Abu Janda, Eko Kuntadhi, Birgaldo Sinaga, dan perancang sepatu Niluh Djelantik

Kelima Ahokers mengunjungi Ahok pada hari Jumat (4/5).

Obrolan Ahok dengan lima pendukungnya ini sedikit banyak terungkap dari postingan Eko Kuntadhi.

Dalam posting tersebut, Eko Kuntadhi menjelaskan kondisi terakhir Ahok yang kini terlihat lebih gendut dan kulitnya mulai memerah.

“Sekarang udah hitaman lagi. Kalau musim hujan, gue putihan. Karena jarang olahraga di luar,” kata Ahok, dilansir tribun-timur.com dari postingan Eko Kuntadhi.

Pada kesempatan yang sama, kelima orang itu juga menanyakan pendapat Ahok terkait dengan kondisi politik di Indonesia saat ini, termasuk tentang Jokowi.

Di akhir pertemuan, Ahok menulis pesan kepada Ahokes di selembar kertas.

Dalam tulisannya, Ahok memanggil Ahokers untuk tidak menjadi golput.

“TIDAK BOLEH GOLPUT, TETAP PILIH AHOK & Sahabatnya,” tulis Ahok seraya membubuhkan tanda tangan.

Jadi siapa teman Ahok?

Pertanyaan ini dijawab dari beberapa kalimat dalam posting Eko Kuntadhi berikut:

“Jika gue ditanya siapa sahabat gue, gue akan jawab : Jokowi. Gue yakin Jokowi juga akan menyebut nama gue ketika ditanya hal yang sama,” kata Ahok.

“Pak Jokowi itu pemimpin yang bagus. Dia gak pernah menyalahgunakan kekuasaanya untuk kepentingan sendiri. Makanya gue juga ikhlas,” lanjutnya.

Berikut postingan Eko Kuntadhi selengkapnya:

Benar saja, pertemuan dengan Ahok sore ini dihiasi dengan banyak lelucon. Obrolan ringan dan tajam, saling ledek dan menertawakan keadaan. Seperti bertemu teman lama.

Sebelum pertemuan, kami semua sepakat nanti tidak pernah menyebutkan masalah pribadi Ahok. Kami pikir itu akan membuat obrolan sangat buruk.

“Gimana kabarnya, Pak Ahok? Semakin sehat keliatannya,” ujar Permadi Arya, membuka pembicaraan.

“Lu gak liat gue seger begini? Duda kan harus selalu ceria” jawab Ahok spontan. Kami semua tertawa mendengar jawaban itu.

“Pak Ahok, tadi kami sepakat gak mau omongin soal masalah pribadi. Eh, malah Pak Ahok yang bicara duluan. Hahahahhaha…,” Denny Siregar gak tahan untuk diam

Melihat Ahok sore itu, ada sedikit perubahan dari beberapa bulan yang lalu. Tubuhnya lebih gemuk, mungkin naik sekitar 5 kilogram. Kulitnya mulai memerah lagi karena sengatan matahari. “Sekarang udah hitaman lagi. Kalau musim hujan, gue putihan. Karena jarang olahraga di luar.”

“Lha, kerjaan gue disini ngapain? Makan, baca buku, nulis, tidur. Gimana gak gemuk?”

Lalu obrolan mengalir. Ahok berulang kali berbicara ketika dia kembali ke masyarakat nanti, dia lebih suka menggunakan nama Basuki. “Ahok akan jadi brand aja. Misalnya, jadi mata acara Ahok Show,” ujarnya.

Birgaldo Sinaga mulai membuka pembicaraan politiknya. Bahkan bertanya tentang perasaan Ahok tentang Jokowi. “Kita ingin tahu perasaan terdalam Pak Ahok tentang Pak Jokowi,” tanyanya. Kami semua seperti menunggu apa reaksi mantan Gubernur DKI Jakarta ini.

“Jika gue ditanya siapa sahabat gue, gue akan jawab : Jokowi. Gue yakin Jokowi juga akan menyebut nama gue ketika ditanya hal yang sama,” katanya yakin.

Kata-kata itu disampaikan dengan cepat. Tadinya mungkin kita menyangka ada nada kekecewaan dalam jawaban Ahok. Nyata sama sekali gak tergambar.

“Pak Jokowi itu pemimpin yang bagus. Dia gak pernah menyalahgunakan kekuasaanya untuk kepentingan sendiri. Makanya gue juga ikhlas,” lanjutnya.

“Maksudnya, pak?”

“Dalam politik susah mencari sahabat sehati, kebanyakan hanya berorientasi kepentingan. Bagi gue, Jokowi itu seorang sahabat. Dia tulus. Makanya kita harus memahami posisi masing-masing. Itulah arti sahabat”

Di mata saya, Ahok seperti ingin mengatakan, meskipun sedang menghadapi suasana yang tidak menyenangkan, dia sama sekali tidak kehilangan kepercayaan dengan sahabatnya.

Iya, apa yang dialami Ahok, akibat dari kedegilan politik memang telah merusak sendi-sendi keadilan negeri ini. Meski telah ditetapkan bersalah oleh pengadilan, di mata saya Ahok hanyalah korban dari kedegilan itu. Keadaan memang tidak berpihak kepadanya.

“Kalaupun gue gak ngomong di Pulau Seribu, akan dicari juga masalah lain. Gue akan diobok-obok terus.”

Ahok selalu meyakini persahabatannya dengan Jokowi tidak pernah terganggu dengan hingar bingar suasana politik. Meski keduanya kini ada dalam posisi berbeda, tapi mereka jalani semua dengan perasaan yang jembar. “Kalau sahabat kita sedang menjalankan amanah buat bangsa, kita jangan ngegerecokin.”

Aku melirik Mbok Niluh Djelantik yang duduk di sebelah Ahok. Matanya sedikit memerah. Rupanya kata-kata Ahok tentang arti persahabatan sangat menyentuhnya. Isu komitmen ramah dikonfirmasi oleh seorang tahanan kepada sahabatnya yang duduk di posisi tertinggi pemerintahan. Dan itu tidak membuat Ahok kehilangan kepercayaan.

“Saya makin respek pada keduanya. Pak Ahok dan Pak Jokowi. Betapa indah persahabatan mereka. Betapa beratnya ujiannya. Tapi mereka tetap yakin satu sama lainnya.” bisiknya pelan.

Setelah beberapa teman meminta orkestra kecil Ahok sebagai kenang-kenangan, kami pulang ke rumah. Ahok bangkit, berdiri di dekat pintu menyapa kami satu lawan satu.

Pada sore hari, ketika berjalan kembali dari Mako Brimob, kami mendengar berita tentang SP3 Rizieq yang dikeluarkan oleh Polda Jawa Barat. Setelah berita itu, Ahoker marah dan kecewa. Mereka menganggap kondisi ini sebagai bentuk ketidakadilan. Ahok di penjara. Sedangkan Rizieq bisa SP3.

Sayangnya, ada beberapa orang yang menyalahkan Jokowi. Pada akhirnya malah disebut Golput karena kekecewaannya. Bagi saya itu adalah cara berpikir yang tidak masuk akal.

Asumsi bahwa kasus SP3 Rizieq dapat dikaitkan dengan Jokowi, sama dengan asumsi bahwa Presiden dapat dengan ceroboh memasuki wilayah hukum pertanda mereka tidak mengerti berapa lama Jokowi menjalankan kekuasaan.

Kekecewaan terhadap Jokowi karena membiarkan SP3 Rizieq keluar, sebenarnya juga semacam pemikiran bahwa presiden dapat campur tangan dalam kasus hukum.

Sebenarnya, jika Jokowi melakukan itu dalam kekuasaannya, saya adalah yang pertama kecewa. Kekuatan yang berdiri di atas hukum, bagi saya sangat tidak menarik untuk dipertahankan.

Saya merasa penting untuk tetap berdiri di belakang Jokowi, tepatnya ketika dia tidak menggunakan kekuatannya untuk mencari keuntungan politik.

Jokowi secara konsisten melakukan fungsi-fungsi kekuasaan. Dia berjalan di jalur eksekutif. Sementara jalan kehakiman ditinggalkan untuk memiliki otoritasnya sendiri.

Jadi, bahkan jika polisi mengeluarkan SP3 ke Rizieq dalam salah satu kasusnya, saya melihatnya sebagai investigasi teknis dan legal murni. Itu tidak ada hubungannya dengan kekuatan Presiden.

Kita bisa membangun pemikiran seperti itu. Kasus Pencemaran Pancasila terjadi pada tahun 2011 dan baru dilaporkan pada tahun 2016. Bukti laporan yang dibawa hanyalah sepotong video ceramah Rizieq. Padahal semua tahu, sebagai bukti ditkukan video asli. Jika tidak ada, potongan video itu tidak bernilai di mata hukum.

Nah, jika bukti yang disajikan tidak kuat, apakah polisi terus bersikeras melanjutkan kasus ini bahkan tidak berbahaya oleh hukum? Bukankah di tangan kepolisian sekarang ada 8 kasus lain berkaitan dengan Rizieq?

Beberapa teman bertanya, “Apakah ada ketidakadilan terhadap Ahok, dia dihukum sementara orang yang membencinya bisa SP3? Buni Yani juga tidak di penjara.”

Jawaban saya jelas, hukum memang tidak berlaku adil kepada Ahok. Sebagaimana hukum kita belum bisa berbuat adil ke rakyat.

Tetapi ketidakadilan itu jauh dari kekuatan seorang Prasiden. Undang-undang berjalan di atas relnya sendiri, politik berjalan dengan tol yang berbeda.

Suatu keanehan jika kekecewaan kita dalam keadilan hukum, dilemparkan ke dalam panggilan politik. Sok terhubung dengan kekuatan. Apalagi, sampai Golput.

Jika orang-orang yang menjadi pendukung Ahok kemudian menginginkan Golput. Atau beralih untuk mendukung Anies Baswedan, itu bagus. Ini adalah demokrasi. Atau Anda beralih menjadi aktivis PKS atau FPI, monggo. Tidak ada yang terlarang.

Tetapi menggunakan alasan SP3 Rizieq sebagai dasar, itu sama dengan menunjukkan kekonyolan. Apalagi membual di medsos, menumpahkan kekecewaan yang berlebihan. Bahkan mengkait-kaitkan dengan Jokowi segala.

Anda suka menghadapi dua orang sebagai teman. Padahal masa jabatan mereka sudah teruji. Dan begitu juga bukan anak kemarin sore dalam politik. Tidak juga orang naif yang memanfaatkan satu sama lain. Sahabat jauh dari sikap seperti itu.

“Jika saya ditanya siapa sahabat saya dalam politik. Jawabnya : Jokowi!,” ujar Ahok siang itu.

Sama kalau orang bertanya ke saya, siapa sahabat yang menyebalkan tapi bikin kangen? Jawabnya juga jelas : Abu Kumkum!

“Kalau Rizieq dapat SP3, saya juga dulu waktu sekolah sering nunggak SPP, mas. Biasa aja. Gak ada yang ngajak Golput, tuh,” ujar Abu Kumkum.,”

Kapan sih Ahok bakal keluar dari penjara?


 

Dilansir bbc pada berita yang terbit 19 Desember 2017 berjudul ‘Ahok bisa bebas pertengahan tahun depan’, mantan Gubernur DKI Jakarta itu bisa bebas pertengahan 2018, ini karena Ahok mendapatkan remisi Natal dan 17 Agustus, plus ketentuan menjalani dua pertiga hukuman, kata pengacaranya, I Wayan Sudirta.

Ia menjelaskan, dalam Keppres itu, remisi khusus, minimum 15 hari diberikan kepada narapidana yang merayakan hari besar keagamaan dan sudah menjalankan hukuman setidaknya selama enam bulan.

Remisi umum ini syaratnya, sudah menjalani satu tahun penjara. Karenanya, pada 17 Agustus lalu, kendati sebagian terpidana kasus korupsi dan terorisme mendapat pengurangan hukuman, Ahok tidak mendapatkannya.

Karena Ahok baru masuk penjara pada 9 Mei, 2017, pada hari ia divonis dua tahun penjara untuk dakwaan penodaan agama.

“Nanti 17 Agustus 2018, kalau untuk satu dan lain hal pak Ahok masih dipenjara, ia akan mendapat remisi, kemungkinan dua bulan, lagi-lagi berdasar Keppres tahun 1999 itu,” kata I Wayan Sidarta pula.

Selain itu, menurutnya Ahok masih bisa mendapat remisi lain.

“Misalnya karena di penjara berkelakuan baik, berjasa bagi negara, melakukan hal-hal yang berguna bagi sesama napi, dll.”

Terlepas dari itu, ada pula ketentuan tentang pembebasan bersyarat setelah menjalani dua pertiga masa hukuman.

Dalam hitungan kasar, di luar remisi, Ahok akan sudah menjalani dua pertiga masa hukuman pada September 2018 nanti.

Namun dengan remisi Natal 15 hari, plus remisi umum hari kemerdekaan, maka Ahok bisa bebas setidaknya pada 17 Agustus nanti.

Ahok dijatuhi hukuman dua tahun penjara setelah dinayatakan terbukti bersalah untuk dakwaan penodaan agama terkait sebuah pidatonya di Pulau Seribu, yang menyebut bahwa jika ada yang “dibohongi pakai Al Maidah” memutuskan untuk tidak memilihnya dalam Pilkada, ia tak keberatan.(*)

Artikel ini telah tayang di pos-kupang.com dengan judul Basuki Tjaha Purnama : Duda Kan Harus Ceria, 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *