Ini Alasan Kenapa Tenaga Asing China Banjiri Indonesia

Ini Alasan Kenapa Tenaga Asing China Banjiri Indonesia
Presiden Indonesia Joko Widodo (kiri) dan Presiden Cina Xi Jinping berjabat tangan pada akhir upacara penandatanganan di Balai Agung Rakyat di Beijing pada 14 Mei 2017. Foto AFP Kenzaburo Fukuhara

ANTERO NASIONAL – Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) mencatat bahwa aliran investasi China ke Indonesia. Pada 2016, China telah duduk di posisi ke-3 sebagai investor terbesar dengan nilai investasi USD 2,665 juta atau 9 persen dari total investasi di Indonesia. Naik dari 2015 USD 628 juta atau 2 persen dari total investasi asing di Indonesia.

Nilai investasi China yang kalah ke Singapura sebesar USD 9,179 juta (32 persen) dan Jepang USD 5,401 juta (19 persen). Peningkatan investasi oleh China dipengaruhi oleh meningkatnya jumlah pekerja dari negara Tirai Bambu yang pindah ke Indonesia.

Baca juga: Presiden Jokowi Serahkan 5.000 Sertifikat Hak Atas Tanah di Banten

“China meningkatkan investasinya bersama pengiriman tenaga kerja mereka ke proyek investasi mereka,” kata Peneliti P2K LIPI Devi Asiati di LIPI Complex, Jakarta, Selasa (8/5).

Dia menjelaskan, jika dibandingkan dengan dua negara lainnya di tiga besar investor asing di Indonesia, komposisi TKA Cina sangat besar, yaitu 21.300. TKA dari Singapura di Indonesia berjumlah 1.700 orang. Sementara itu, TKA dari Jepang berjumlah 12.500 orang.

Menurutnya, di sisi lain, meningkatnya investasi dari China akan menguntungkan Indonesia. Tetapi diakui, peningkatan investasi diikuti oleh masuknya pekerja asing dari Cina dalam skala besar tentu akan memberikan pandangan negatif.

Baca juga: Program Padat Karya Tunai Meningkatkan Ekonomi Penduduk Desa

“Dengan munculnya isu kedatangan pekerja asing di China, pada akhirnya, dapat mengaburkan arti sebenarnya dari nilai investasi RRC terutama di sektor pembangunan infrastruktur, yang sedang digulirkan saat ini,” katanya. kata.

Laboratorium Migrasi Tenaga Kerja Internasional LIPI, Rudolf Yuniarto, mengatakan mengirim tenaga kerja ke luar negeri memang merupakan kebijakan Pemerintah China untuk mengatasi semakin banyaknya pekerja di China.

“Sekarang di puncaknya 200 hingga 300 juta (pekerja di China), Cina bisa dibilang sebagai negara penduduk yang berlebihan, sehingga semua kebijakan investasinya harus mendukung penyediaan pekerjaan untuk rakyatnya,” katanya.

Sebelumnya, Menteri Tenaga Kerja M. Hanif Dhakiri menyatakan bahwa jumlah atau jumlah Pekerja Asing (TKA) di Indonesia masih cukup proporsional. Hal ini diikuti oleh kekhawatiran atas banjir pekerja asing ke Indonesia setelah dikeluarkannya Peraturan Presiden (Perpres) No. 20 tahun 2018 tentang pekerja asing.

Jadi tidak perlu khawatir, bahwa pekerjaan yang tersedia jauh lebih banyak daripada yang dimasuki oleh pekerja asing, “katanya.

Baca juga: Jokowi meluncurkan Bank Wakaf Mikro Tanara

Menteri Hanif meminta semua pihak untuk tidak khawatir tentang masalah maraknya pekerja asing. Penerbitan Peraturan Presiden tidak akan mempengaruhi peningkatan jumlah tenaga kerja asing di Indonesia karena peraturan tersebut hanya mempercepat proses izin penggunaan tenaga kerja asing menjadi lebih cepat dan efisien.

Menteri Hanif mengatakan jumlah pekerja asing di Indonesia masih relatif rendah, sekitar 85.947 pekerja hingga akhir 2017. Sedangkan pada 2016 sebanyak 80.375 orang dan 77.149 orang pada 2015. Angka ini tidak sebanding dengan jumlah tenaga kerja Indonesia di luar negeri. .

“Pekerja migran di negara lain, besar, pekerja migran dalam survei Bank Dunia, ada 9 juta pekerja di luar negeri, 55 persen di Malaysia, 13 persen di Arab Saudi, 10 persen China-Taipei, Hong Kong 6 persen, Singapura 5 persen, “katanya. (HNR)

Loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here