Hukum Perceraian Suami Istri dalam Islam beserta Dalilnya

oleh -0 views
Hukum Perceraian dalam Islam beserta Dalilnya
Hukum Perceraian dalam Islam beserta Dalilnya

Hukum Perceraian dalam Islam beserta Dalilnya – Biduk rumah tangga tidak selalu berjalan tenang dan nyaman. Gelombang pertengkaran antara suami dan istri kadang menghiasi di dalamnya. Di antara mereka ada yang bisa melewati gelombang dengan baik dan lancar. Tetapi ada juga beberapa ikatan rumah tangga yang tenggelam ke dalam ombak. Ini berarti perjalanan rumah tangga hancur di tengah jalan. Entah suami atau istri yang meminta cerai.

Siapapun yang merupakan pasangan suami-istri tentu tidak ingin bercerai. Selain dibenci oleh Tuhan, perceraian juga tidak jarang untuk memutuskan hubungan antara dua keluarga yang telah mapan ketika suami dan istri masih menjalani rumah tangga mereka. Tetapi perceraian juga bisa menjadi solusi ketika seorang suami, misalnya, menghancurkan cinta suci yang terikat dengan tali perkawinan dengan berselingkuh, melakukan kekerasan, berjudi dan minum.

Sebaliknya, jika perceraian terjadi hanya karena masalahnya tidak begitu besar di mata masyarakat umum, maka bisa jadi yang pertama meminta cerai yang dibenci oleh Tuhan, baik suami maupun istri.

Baca juga:

Ancaman Nabi pada Istri yang Minta Cerai karena Hal Sepele

Perlu dicatat bahwa di sekolah Syafi’i yang diadopsi oleh mayoritas umat Islam di Indonesia, kata-kata “Aku menceraikanmu” yang dikatakan suaminya dimasukkan dalam perceraian dalam hukum Islam, meskipun mereka belum memasuki perceraian jaksa. percobaan. Artinya, ketika sudah dikatakan bahwa, fiqh, suami tidak diperbolehkan memiliki hubungan suami-istri, kecuali sudah dirujuk lebih dulu. Karena itu, untuk berhati-hati, suami jangan sembarangan mengatakan kata cerai kepada istri mereka.

Begitu juga sang istri, jangan mudah meminta cerai dari sang suami karena masalah sepele dalam rumah tangga. Dalam hal ini Rasulullah. pernah berkata, “Seorang istri yang dengan mudah meminta perceraian suaminya hanya karena masalah sepele, jadi dia tidak akan mencium surga” (HR Abu Daud, Tirmidzi, dan Ibn Majah). Artinya, seorang istri yang dengan mudah meminta cerai dari suaminya dikhawatirkan bahwa dia tidak akan pergi ke surga dengan suaminya yang saleh.

Oleh karena itu, ulama menggolongkan setiap masalah yang memungkinkan istri untuk menuntut atau meminta cerai dengan suaminya. Pertama, suami sering melakukan kekerasan fisik dan s3k5u4l terhadap istri mereka, membuat mereka cacat. Kedua, suami sering meninggalkan sholat, berjudi, mabuk, bermain per3mpu4n. Ketiga, suami tidak memenuhi kebutuhan pakaian dan makanan si anak dan istri dengan baik, meskipun ia mampu. Keempat, suami enggan memenuhi kebutuhan biol0gis istrinya meskipun ia mampu.

Karena itu, alangkah baiknya jika suami atau istri tidak mudah mengucapkan kata talak. Terutama jika Anda dapat berkomunikasi dengan baik di antara keduanya. Jika perlu, keduanya membawa orang lain untuk merekonsiliasi perseteruan rumah tangga mereka.

Karena 6 Alasan Ini, Istri Boleh Meminta Cerai

Hukum Perceraian dalam Islam beserta Dalilnya

Perceraian adalah hal yang sangat dibenci oleh Allah. Bahkan Allah mengancamnya dengan tidak memberikan surga pada wanita yang meminta cerai pada suaminya. Ini selaras dengan hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Rasulullah SAW bersabda, “Wanita mana saja yang minta cerai pada suaminya tanpa sebab, maka haram baginya bau surga.” (HR. Abu Dawud: 2226, Darimi: 2270, Ibnu Majah 2055, Amad: 5/283, dengan sanad hasan)

Jika kondisi rumah tangga berubah, maka seorang wanita diperbolehkan bercerai dengan beberapa syarat dan ketentuan. Para ulama telah menyebutkan hal-hal yang memungkinkan seorang wanita bercerai dari suaminya. Berikut penjelasannya.

1. Suami Membenci istri

Jika suami dengan sengaja dan jelas dalam tindakan dan tingkah lakunya telah membenci istrinya, tetapi sang suami sengaja tidak mau menceraikan istrinya.

2. Suami Sering Menghina dan berbuat kasar kepada Istri

Perilaku atau sikap seorang suami yang suka merayu istrinya, misalnya suami suka menghina istrinya, suka menganiaya, menyalahgunakan kata-katanya yang kotor.

3. Suami Tidak adil atau lemah

Seorang suami yang tidak dapat berhubungan baik dengan istrinya, seperti suami yang cacat, tidak dapat memberikan dukungan batin (jim4k), atau jika dia adalah orang p0ligami dia tidak adil kepada istri-istrinya di mabit (jatah menginap), atau tidak mau, jarang, enggan memenuhi keinginan seorang istri karena dia lebih suka kepada orang lain.

4. Suami Selingkuh

Seorang suami yang tidak melaksanakan kewajiban agamanya, seperti contoh seorang suami yang suka berbuat dosa, suka minum (kh0mr), suka b3rjudi, suka melakukan p3rzin4han (s3lingkuh), suka meninggalkan shalat, dan sebagainya.

5. Suami Tidak bertanggung jawab

Seorang suami yang tidak melaksanakan hak atau kewajibannya kepada istrinya. Sebagai contoh, suami tidak mau menyediakan nafkah untuk istrinya, tidak mau membeli kebutuhannya (primer) seperti pakaian, makan, dll. Meskipun suami mampu

6. Suami Menghilang tidak ada kabar Meninggalkan istri Selama empat tahun

Hilangnya berita tentang keberadaan suami, apakah suami telah meninggal atau masih hidup, dan pecahnya berita telah berlangsung selama beberapa tahun. Dalam salah satu riwayat dari Umar Radhiallahu’anhu, periode itu kira-kira 4 tahun. wallahu a’lam.

  • alasan suami boleh menceraikan istri
  • hukum suami menceraikan istri tanpa sebab
  • hukum menceraikan istri yang tidak patuh
  • cara menceraikan istri dengan baik
  • menceraikan istri karena tidak cinta
  • cara menceraikan istri yg tidak mau diceraikan
  • hadits tentang istri yg boleh diceraikan
  • istri yang pantas dicerai menurut islam

Suami boleh menceraikan istri apabila

Hukum Perceraian dalam Islam beserta Dalilnya

Penyebab perceraian (diijinkan) banyak, termasuk ketidak cocokan antara suami dan istri sehingga tidak ada mahabbah (cinta) di antara mereka berdua, istri memiliki karakter buruk, istri tidak lagi patuh pada suaminya, istri tidak mampu melakukan tugasnya, istri melakukan perbuatan am0ral (dosa besar) yang menyebabkan mereka berdua mengalami situasi yang buruk, hingga kemudian terjadi perceraian. Karena orang lain seperti suami atau istri m4buk atau n4rk0ba, termasuk r0k0k.

Hal lain yang dapat menyebabkan perceraian adalah hubungan yang sangat buruk antara suami dan orang tua istrinya (mertua suami), yang disebabkan oleh kondisi istri yang buruk. Perceraian juga dapat disebabkan oleh kondisi fisik istri yang sangat buruk, misalnya, seorang istri tidak dapat menjaga kebersihannya dan tidak pernah berpakaian rapi dan tidak ingin menggunakan wewangian di depan suaminya, atau tidak bisa mengucapkan kata-kata yang baik dan selalu bermuka masam (cemberut) saat bertemu dan berkumpul dengan suami atau keluarga Anda.

Talak Ketika Hamil

Masalah ini banyak dibicarakan masyarakat. Sebagian orang awam beranggapan bahwa talak untuk istri yang sedang hamil, tidak sah. Saya tidak tahu, dari mana datangnya anggapan semacam ini. Sementara tidak ada satupun keterangan dari ulama.

Namun, keterangan yang ada dari para ulama bahwa talak untuk istri yang sedang hamil adalah sah. Ini adalah kesepakatan ulama, tidak ada perselisihan. Terdapat hadits yang shahih dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa tatkala Ibnu Umar mentalak istrinya ketika haid, kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan Ibnu Umar untuk mempertahankan istrinya sampai selesai haidnya dan bersuci.

Kemudian beliau bersabda,

ثم ليطلقها طاهرا أو حاملا

“Silahkan talak istrimu, dalam kondisi suci atau ketika sedang hamil.” (HR. Ahmad dan Muslim)

Hadits ini menunjukkan bahwa talak untuk wanita hamil statusnya sama dengan talak untuk wanita suci yang belum disetubuhi. Ringkasnya, mentalak wanita ketika hamil hukumnya boleh. Bahkan termasuk talak sunnah, menurut pendapat yang kuat. Talak yang dilarang adalah talak sebagaimana yang disebutkan dalam hadits, yaitu talak ketika haid atau nifas. Selama wanita sedang haid atau nifas maka tidak boleh seorang suami yang muslim mentalaknya.

Menyuruh Orang Lain untuk Menikahi Isteri yang di Talak Tiga

Hukum Perceraian dalam Islam beserta Dalilnya

Pertanyaan:

Assalamu ‘alaikum. Kepada para ulama, mohon tuntunan Ustadz. Saya telah menceraikan istri saya dengan talak tiga; dan pertanyaan saya ialah: apakah boleh saya menyuruh orang ‘tuk menikahi istriku dan menyuruh menceraikannya agar saya bisa rujuk kembali? Apakah rujukan itu sah dalam hukum Islam?

Jawaban:

Wa’alaikumus salam warahmatullah wabarakatuh.

Jika seorang suami menceraikan istrinya dengan cerai satu atau dua maka sang suami berhak untuk melakukan rujuk dengan istri, selama masih masa iddah, baik istri ridha maupun tidak ridha. Namun, jika talak tiga sudah jatuh maka suami tidak memiliki hak untuk rujuk kepada istrinya, sampai sang istri dinikahi oleh lelaki lain. Allah berfirman,

فَإِنْ طَلَّقَهَا فَلَا تَحِلُّ لَهُ مِنْ بَعْدُ حَتَّى تَنْكِحَ زَوْجًا غَيْرَهُ

“Jika dia mentalak istrinya (talak tiga) maka tidak halal baginya setelah itu, sampai dia menikah dengan lelaki yang lain ….” (Q.S. Al-Baqarah:230)

Pernikahan wanita ini dengan lelaki kedua bisa menjadi syarat agar bisa rujuk kepada suami pertama, dengan syarat:

Pertama: Dalam pernikahan yang dilakukan harus terjadi hubun9an b4dan, antara sang wanita dengan suami kedua. Berdasarkan hadis dari Aisyah, bahwa ada seorang sahabat yang bernama Rifa’ah, yang menikah dengan seorang wanita. Kemudian, dia menceraikan istrinya sampai ketiga kalinya. Wanita ini, kemudian menikah dengan lelaki lain, namun lelaki itu imp0ten dan kurang semangat dalam melakukan hubun9an b4dan.

Dia pun melaporkan hal ini kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, dengan harapan bisa bercerai dan bisa kembali dengan Rifa’ah. Namun, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Kamu ingin agar bisa kembali kepada Rifa’ah? Tidak boleh! Sampai kamu merasakan madunya dan dia (suami kedua) merasakan madumu.” (H.R. Bukhari, Muslim, An-Nasa’i, dan At-Turmudzi)

Yang dimaksud “kamu merasakan madunya dan dia merasakan madumu” adalah melakukan hubun9an b4dan.

Kedua: Pernikahan ini dilakukan secara alami, tanpa ada rekayasa dari mantan suami maupun suami kedua. Jika ada rekayasa maka pernikahan semacam ini disebut sebagai “nikah tahlil“; lelaki kedua yang menikahi sang wanita, karena rekayasa, disebut “muhallil“; suami pertama disebut “muhallal lahu“. Hukum nikah tahlil adalah haram, dan pernikahannya dianggap batal.

Ibnu Qudamah mengatakan, “Nikah muhallil adalah haram, batal, menurut pendapat umumnya ulama. Di antaranya: Hasan Al-Bashri, Ibrahim An-Nakha’i, Qatadah, Imam Malik, Sufyan Ats-Tsauri, Ibnu Mubarak, dan Imam Asy-Syafi’i.” (Al-Mughni, 7:574)

Bahkan, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengancam orang yang menjadi muhallil dan muhallal lahu. Dari Ali bin Abi Thalib, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Allah melaknat muhallil dan muhallal lahu.” (H.R. Abu Daud; dinilai sahih oleh Al-Albani)

Bahkan, telah termasuk tindakan “merekayasa” ketika ada seorang lelaki yang menikahi wanita yang dicerai dengan talak tiga, dengan niat untuk dicerai agar bisa kembali kepada suami pertama, meskipun suami pertama tidak mengetahui.

Ini berdasarkan riwayat dari Ibnu Umar, bahwa ada seseorang datang kepada beliau dan bertanya tentang seseorang yang menikahi seorang wanita. Kemudian, lelaki tersebut menceraikan istrinya sebanyak tiga kali. Lalu, saudara lelaki tersebut menikahi sang wanita, tanpa diketahui suami pertama, agar sang wanita bisa kembali kepada saudaranya yang menjadi suami pertama. Apakah setelah dicerai maka wanita ini halal bagi suami pertama? Ibnu Umar memberi jawaban, “Tidak halal. Kecuali nikah karena cinta (bukan karena niat tahlil). Dahulu, kami menganggap perbuatan semacam ini sebagai perbuatan zin4 di zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (H.R. Hakim dan Al-Baihaqi; dinilai sahih oleh Al-Albani)

Allahu a’lam.

  • hukum menceraikan istri yang tidak patuh
  • menceraikan istri karena tidak cinta
  • alasan suami boleh menceraikan istri
  • cara menceraikan istri dengan baik
  • cara menceraikan istri yg tidak mau diceraikan
  • adab menceraikan istri
  • hukum suami menceraikan istri tanpa sebab
  • istri yang pantas dicerai menurut islam

Menceraikan Istri yang Selingkuh

Assalamu ’alaikum, Ustadz.

Hukum Perceraian dalam Islam beserta Dalilnya

Sekadar share aja, Ustadz. Saya menikah sudah hampir 4 tahun. Di tahun ke-2 pernikahan kami, saya mendapat tugas di luar pulau, yang mengakibatkan kami jarang bertemu. Mungkin, dengan kurangnya intensitas pertemuan kami, (itu) mengakibatkan istri (saya) selingkuh. Hal ini saya ketahui sekitar setahun yang lalu (dikuatkan oleh kedua belah pihak). Malah, saat itu, istri (saya) mengungkapkan (bahwa dia) ingin bercerai karena laki-laki itu.

Yang ingin saya tanyakan: Apa saran Ustadz dengan rumah tangga kami? Di satu sisi, saya tidak bisa menerima perselingkuhan istri saya itu karena (dia) sampai berbuat zin4, tetapi di sisi lain, saya kasihan dengan buah hati kami yang baru menginjak dua tahun.

Apa yang harus saya lakukan, Uztadz? Karena sampai saat ini, saya sudah mengucapkan talak (sebanyak) dua kali ke dia, dan sampai sekarang (status pernikahan kami) masih saya gantung karena istri (saya) tidak mau (jika) saya ceraikan (dia).

Mohon bimbingan dalam kebimbangan hati ini. Wassalamu ‘alaikum warahmatullah wabarakatuh.

Jawaban:

Wa’alaikumussalam warahmatullah wabarakatuh.

Bismillah. Semoga Allah memperbaiki kondisi Anda sekeluarga.

Pertama:

Sesungguhnya, talak itu halal, namun sangat disukai iblis.

Dia merasa bangga ketika ada anak buahnya yang mampu menggoda pasangan suami-istri sehingga pasangan suami-istri itu mengalami perceraian.

Karena itu, kami sarankan, hendaknya perceraian menjadi solusi terakhir bagi permasalahan Anda. Bahkan, kalau bisa, jangan sampai terjadi perceraian.

Kedua:

Suami memiliki hak sepenuhnya untuk menceraikan istrinya. Anda sudah menjatuhkan cerai sebanyak dua kali; tinggal satu kesempatan lagi. Jika kesempatan terakhir ini dijatuhkan maka konsekuensinya: Anda harus berpisah dengan istri Anda, sampai dia menikah lagi. Jika hal itu sampai terjadi, harapan untuk bisa kembali menjadi keluarga akan sangat kecil. Karena itu, jagalah lisan baik-baik.

Ketiga:

Terkait kasus perselingkuhan. Seorang suami yang telah memaafkan istrinya yang berselingkuh diperbolehkan untuk tetap mempertahankan istrinya tersebut.

Di antara dalilnya adalah hadis yang diriwayatkan dari Ibnu Abbas, bahwa ada seorang lelaki datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan menceritakan keadaan istrinya,

“Sesungguhnya, istriku tidak pernah menolak setiap laki-laki yang ingin menyentuhnya.” Kemudian, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyarankan, “Ceraikan dia!” Namun, orang tadi masih berkeinginan untuk hidup bersamanya,

“Saya tidak bisa sabar menahan diri untuk mendekatinya.” Akhirnya, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyarankan, “Pertahankan dia (tetap jadikan dia sebaga istri).” (HR. An-Nasa’i, Abu Daud, Turmudzi, dan Al-Bazzar; disebutkan oleh Ibnu Hajar dalam Bulughul Maram dan beliau menyatakan, “Perawi-perawinya tsiqah.”)

Hadis di atas hanya menyebutkan salah satu latar belakang orang untuk tetap mempertahankan keluarga. Tidak menutup kemungkinan adanya latar belakang lain. Memerhatikan kondisi anak merupakan salah satu alasan yang bisa dijadikan latar belakang untuk tetap mempertahankan keluarga.

Keempat:

Ajak istri Anda untuk bertobat dan menyesali perbuatannya, ingatkan dia dengan bahaya ancaman berbuat zina, dan carikan teman bergaul yang baik. Mudah-mudahan, itu semua bisa memengaruhi kepribadiannya

Kelima:

Jika istri Anda sudah bertobat, jangan ungkit-ungkit lagi masalahnya, karena orang yang sudah bertobat dari suatu dosa itu seolah sudah tidak lagi memiliki dosa tersebut. Karena itu, dosanya tidak boleh disebut-sebut.

Semoga Allah memudahkan langkah kita menuju jalan-Nya yang lurus. Allahu a’lam.

Dijawab oleh Tim Dakwah Konsultasi Syariah

Rujuk Kembali setelah Cerai Satu Tahun

Hukum Perceraian dalam Islam beserta Dalilnya

Oleh Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz

Pertanyaan

Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz ditanya : Ada laki-laki yang mentalak istrinya dengan talak satu kemudian pindah dari negeri yang mana ia tinggal dan tinggal di negeri asing selama satu tahun, kemudian ia pulang dan menjumpai istrinya dalam keadaan belum menikah, kemudian ia ingin mengadakan akad nikah dengannya, sedangkan istrinya bersedia kembali kepadanya, padahal laki-laki tersebut belum merujuknya selama masa iddah?’

Jawaban

Apabila yang terjadi seperti yang disebutkan oleh penanya, maka pernikahannya sah dengan syarat ada wali dan dua orang saksi yang adil serta adanya kerelaan mempelai wanita karena talak satu tidak mengharamkan pernikahannya dengan suaminya. Demikian juga dengan talak dua. Pernikahan keduanya hanya dilarang dengan adanya talak tiga hingga istri tersebut menikah dengan suami baru dan suami barunya menyeb4daninya, berdasarkan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala.

الطَّلَاقُ مَرَّتَانِ ۖ فَإِمْسَاكٌ بِمَعْرُوفٍ أَوْ تَسْرِيحٌ بِإِحْسَانٍ ۗ وَلَا يَحِلُّ لَكُمْ أَنْ تَأْخُذُوا مِمَّا آتَيْتُمُوهُنَّ شَيْئًا إِلَّا أَنْ يَخَافَا أَلَّا يُقِيمَا حُدُودَ اللَّهِ ۖ فَإِنْ خِفْتُمْ أَلَّا يُقِيمَا حُدُودَ اللَّهِ فَلَا جُنَاحَ عَلَيْهِمَا فِيمَا افْتَدَتْ بِهِ ۗ تِلْكَ حُدُودُ اللَّهِ فَلَا تَعْتَدُوهَا ۚ وَمَنْ يَتَعَدَّ حُدُودَ اللَّهِ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ فَإِنْ طَلَّقَهَا فَلَا تَحِلُّ لَهُ مِنْ بَعْدُ حَتَّىٰ تَنْكِحَ زَوْجًا غَيْرَهُ ۗ فَإِنْ طَلَّقَهَا فَلَا جُنَاحَ عَلَيْهِمَا أَنْ يَتَرَاجَعَا إِنْ ظَنَّا أَنْ يُقِيمَا حُدُودَ اللَّهِ ۗ وَتِلْكَ حُدُودُ اللَّهِ يُبَيِّنُهَا لِقَوْمٍ يَعْلَمُونَ

“Talak (yang dapat dirujuk) dua kali. Setelah itu boleh rujuk lagi dengan cara yang ma’ruf atau menceraikan dengan cara yang baik. Tidak halal bagi kamu mengambil kembali sesuatu dari yang telah kamu berikan kepada mereka, kecuali kalau keduanya khawatir tidak akan dapat menjalankan hukum-hukum Allah.

Jika kamu khawatir bahwa keduanya (suami-istri) tidak dapat menjalankan hukum-hukum Allah, maka tidak ada dosa atas keduanya tentang bayaran yang diberikan oleh istri untuk menebus dirinya. Itulah hukum-hukum Allah, maka janganlah kamu melanggarnya. Barangsiapa yang melanggar hukum-hukum Allah mereka itulah orang-orang yang zhalim.

Kemudian jika suami mentalaknya (sesudah talak yang kedua), maka perempuan itu tidak halal lagi baginya hingga dia kawin dengan suami yang lain. Kemudian jika suami yang lain itu menceraikannya, maka tidak ada dosa bagi keduanya (bekas suami pertama dan istri) untuk kawin kembali jika keduanya berpendapat akan dapat menjalankan hukum-hukum Allah. Itulah hukum-hukum Allah diterangkanNya kepada kamu yang (mau) mengetahui” [Al-Baqarah : 229-230]

Talak yang terakhir inilah yang dimaksud dengan talak tiga menurut semua ulama-ulama.

[Kitab Fatawad Da’wah, Syaikh Abdul Aziz bin Baz, juz 2 hal. 239]

Print Friendly, PDF & Email

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *