5 Hal yang Membuat Tsunami Banyak Menelan Korban Jiwa di Indonesia

Hal yang Membuat Tsunami Banyak Menelan Korban Jiwa di Indonesia

ANTERO.CO – Rangkaian bencana tsunami yang melanda beberapa daerah di Indonesia memang telah menyebabkan banyak korban dan kerugian material yang signifikan. Dilansir dari regional.kompas.com, setidaknya ada tujuh tsunami besar yang melanda negara ini. Beberapa yang terburuk adalah wilayah Aceh (2004) dan Palu (2018).

Baca juga: 7 Hari Mengapung di Laut, Nelayan Korban Tsunami Selamat

Tentu saja, banyaknya jumlah korban jiwa adalah pekerjaan rumah yang harus segera diselesaikan. Tidak hanya dari sisi pemerintah, masyarakat sipil juga harus mewaspadai kekurangan yang ada saat terjadi bencana. Seperti beberapa hal penting di bawah ini yang kerap menjadi masalah setelah tsunami melanda.

RUSAKNYA DETEKTOR TSUNAMI

Rusak dan hilangnya detektor tsunami, menjadi salah satu faktor yang membuat tsunami menjadi pencabut nyawa di Indonesia. Dilansir dari cnnindonesia.com, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyebut Indonesia tidak lagi memiliki buoy untuk mendeteksi tsunami sejak 2012 silam. Selain itu, total 22 buoy yang tersebar di perairan nusantara berada dalam kondisi rusak total. Alhasil, peringatan dini yang semestinya bisa menjadi alarm tanda bahaya, terlewatkan dan membunuh banyak nyawa saat tsunami menerjang.

Baca juga: Tiga Petugas RSDP Serang Tersangka Pungli Jenazah Korban Tsunami

MINIMNYA PENGETAHUAN MITIGASI BENCANA MASYARAKAT

Selain tak berfungsinya alat detektor tsunami, kesadaran masyarakat Indonesia tentang mitigasi bencana juga sangat rendah. Hal inilah yang juga menjadi salah satu faktor terbesar banyaknya korban saat tsunami datang menerjang. Laman nationalgeographic.id menuliskan, hasil kajian Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), sampai di tahun 2012, tingkat kesiapsiagaan masyarakat dan pemerintah daerah dalam menghadapi bencana di 33 kabupaten/kota di Indonesia, masih tergolong rendah. Sikap abai inilah yang membuat jatuh banyak korban kala bencana datang.

KURANG AKURATNYA PREDIKSI DAN INFORMASI YANG DITERIMA

Persebaran informasi yang simpang siur dan salah persepsi tentang adanya bencana, juga menjadi salah satu kelemahan yang harus segera diatasi. Seperti yang diberitakan pada laman tirto.id, BMKG dan BNPB seolah berlomba-lomba melakukan klarifikasi soal adanya bencana tsunami di media sosial. Alhasil, masyarakat pun terlanjur terbelah dengan informasi yang disampaikan. Seperti kasus tsunami yang menerjang Palu dan Banten, hampir semua himbauan yang disampaikan oleh lembaga negara itu tidak akurat. Jika sebelumnya disebutkan tidak ada tsunami, apa daya air laut ternyata meluap naik dan menimbulkan korban jiwa di dua wilayah tersebut.

Baca juga: Gubernur Sumsel Doakan Korban Tsunami Banten dan Lampung

DANA PENANGGULANGAN BENCANA DI TIAP DAERAH TERGOLONG MINIM

Bencana di Indonesia yang banyak terjadi belakangan ini, cukup banyak menelan biaya besar karena banyaknya korban dan hancurnya berbagai infrastrukur bernilai miliaran rupiah. Mirisnya, hal ini diikuti oleh minimnya anggaran penanggulangan bencana yang dimiliki oleh BNPB. Laman nasional.kontan.com menuliskan, NPB menganggarkan dana untuk penanggulangan bencana sebesar Rp 4 triliun pada 2018, namun masih kurang karena banyaknya peristiwa yang terjadi. Saking kurangnya, dana untuk bencana lain belum bisa tercover secara maksimal.

KURANGANYA SHELTER PERLINDUNGAN YANG LAYAK

Keberadaan shelter atau hunian darurat saat tsunami menerjang, menjadi salah satu bagian penting agar bisa mengevakuasi warga sebanyak-banyaknya. Namun sayang, beberapa wilayah di Indonesia tampaknya belum siap dengan hal tersebut. Salah satunya seperti yang ada di Labuan, Banten. Dilansir dari regional.kompas.com, bangunan tersebut tidak berfungsi saat tsunami menerjang pada Sabtu lalu. Selain tak adanya sosialisasi tentang penggunaan shelter tersebut pada warga, pembangunannya juga terhenti lantaran kasus korupsi. Alhasil, masyarakat pun pontang-panting mencari tempat perlindungan kala tsunami menggulung tempat tinggal mereka.

Baca juga: Warga Selfie Berlatar Tsunami Anyer Demi Mendapatkan Like Di Medsos Disorot Media Asing

Datangnya bencana seperti dan gelombang tsunami memang tidak bisa diprediksi secara akurat. Namun, bukan berarti hal tersebut tak bisa dicermati. Agar tak banyak jatuh korban, sarana dan prasarana pendukung dan pengetahuan mitigasi becana yang cukup di masyarakat, perlu segera dibenahi. Semoga bisa cepat terlaksana.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here