GMNI Kritisi Pelaksanaan Debat Terbuka Pilkada Pandeglang

oleh -22 views

GMNI Kritisi Pelaksanaan Debat Terbuka Pilkada Pandeglang

 

ANTERO.CO PANDEGLANG – Dewan Pimpinan Cabang Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (DPC GMNI) Pandeglang memberikan kritik terhadap penyelenggaraan Pemilu Debat Terbuka yang digelar perdana pada Senin 23 November 2020, pukul 14.00 s.d 16.00 WIB oleh KPU pandeglang.

Tb Muhamad Apandi, Ketua DPC GMNI Pandeglang mengatakan, debat terbuka sebagai salah satu metode kampanye dalam rangka penyampaian informasi visi dan Misi Pasangan Calon (Paslon). Debat merupakan media kampanye yang difasilitasi oleh KPU kabupaten/Kota sebagai ajang eksplorasi visi misi pasangan calon pada warga masyarakat Pandeglang, untuk mengetahui secara jelas visi dan misi pasangan calon dengan parameter-parameternya.

“Sesuai yang termaktub dalam PKPU 4 tahun 2017, sebagaimana telah diubah dengan PKPU 11 tahun 2020 tentang kampanye pemilihan gubernur dan wakil gubernur, bupati dan wakil bupati dan/atau Walikota dan Wakil walikota,” jelas Tb Muhamad Apandi kepada awak media, Senin (23/11/2020).

Jadi, ujar dia, esensi dari materi debat terbuka pilkada adalah visi misi pasangan calon dalam rangka meningkatkan kesejahteraan rakyat, memajukan daerah, meningkatkan pelayanan kepada masyarakat, menyelesaikan persoalan daerah dan lain sebagainya.

“Maka, warga masyarakat pandeglang sebagai subyek pemilih, mutlak harus mengetehui visi-misi tersebut,” tandasnya.

Lanjut Apandi, wajib visi misi dan parameternya tersampaikan kepada masyarakat, dalam hal ini pasangan calon juga berkepentingan utk menarik simpati masyarakat melalui visi misinya tersebut.

“Tetapi, kalau kita melihat waktu pelaksanaan Debat Pilkada Pandeglang, dilaksanakan di jam yang “genting,” terangnya.

Dimana, kata dia, warga masyarakat pandeglang sedang menjalankan rutinitasnya sebagai petani, sebagai nelayan, sebagai buruh, sebagai pedagang, sebagai karyawan dan sebagai wirausaha lainnya.

“Harus diingat, bahwa pandeglang adalah daerah agraris yang sebagian besar warganya adalah wiraswasta atau wirausaha yang tidak mengenal ‘WFH,” tukasnya.

Menurut Apandi, sore atau malam hari adalah waktu yang santai bersama keluarga dirumah, dimana acara debat pasangan calon bisa dilihat, dipahami bahkan dinikmati dengan secangkir kopi dan Ubi.

“Mestinya KPU Pandeglang berpikir sampai sejauh itu, jangan sampai acara debat hanya jadi acara ceremonial tanpa makna hanya untuk menggugurkan kewajiban saja. Jangan lupa salah satu prinsip penyelenggaraan pemilu adalah asas efisiensi dan efektivitas, maka kalau acara debat tersebut tidak efektif maka penyelenggara telah melanggar prinsip penyelenggaraan pemilu itu sendiri,” paparnya.

Sebagai bagian dari elemen masyarakat yang peduli terhadap kemajauan pandeglang, pihaknya meminta agar acara debat terbuka ke depan dikemas dengan se efektif mungkin dengan mempertimbangkaan waktu tayangnya. Kalau mengacu pada PKPU 4 tahun 2017 sebagai mana diubah dengan PKPU 11 tahun 2020 pada pasal 20 ayat (4) disebutkan “debat publik atau debat terbuka dapat disiarkan ulang pada masa kampanye”.

“Maka, bisa juga debat yang digelar di jam kerja disiarkan ulang di sore atau malam hari yang lebih refresentatif,” imbuhnya.

Oleh karena itu, GMNI Pandeglang berharap hal ini agar informasi mengenai materi visi misi pasangan calon dapat secara kompreshensif tersampaikan dan terinternalisasi pada warga masyarakat Kabupaten Pandeglang.

“Jangan sampai kemudian kegiatannya debat terbuka malah menjadi debat tertutup untuk publik,” tegas Tb Muhamad Apandi. (Bud/Dan) 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *