Arti sebuah perbedaan, Makna Perbedaan Dalam Islam

oleh -2 views
Arti sebuah perbedaan, Makna Perbedaan Dalam Islam
Arti sebuah perbedaan, Makna Perbedaan Dalam Islam

Definisi: perbedaan, Arti Kata: perbedaan, Arti Kata Perbedaan Menurut KBBI. Dengan perbedaan, kita mampu merasakan makna kebersamaan, sehingga kita bisa memahami bahwa perbedaan adalah alasan untuk sebuah pengertian.Perbedaan merupakan keadaan, sifat dan karakter yang diciptakan Tuhan dengan tujuan agar manusia saling mengenal, berinteraksi, saling memahami dan memberi manfaat satu sama lain.

Apa Perbedaan itu?

Perbedaan adalah sebuah homonim karena arti-artinya memiliki ejaan dan pelafalan yang sama tetapi maknanya berbeda. Perbedaan memiliki arti dalam kelas nomina atau kata benda sehingga perbedaan dapat menyatakan nama dari seseorang, tempat, atau semua benda dan segala yang dibendakan.

Apa yang dimaksud dengan memahami?

Memahami adalah sebuah homonim karena arti-artinya memiliki ejaan dan pelafalan yang sama tetapi maknanya berbeda. Memahami memiliki arti dalam kelas verba atau kata kerja sehingga memahami dapat menyatakan suatu tindakan, keberadaan, pengalaman, atau pengertian dinamis lainnya.

Apa perbedaan antara kata dan kalimat?

Kata adalah yang memiliki satu,dua atau tiga kata ,namun tetap mengandung satu kesatuan arti.contohnya .rumah,buku dll. sedangkan kalimat adalah gabungan dari beberapa kata yang paling tidak terdiri dari subjek,predikat dan objek.

Perbedaan yang mempersatukan

perbedaan harus kita jadikan titik-titik untuk mencapai persatuan dan kesatuan, faktor yang mempersatukan masyarakat di lingkungan tempat tinggal, identifikasilah faktor faktor yang membedakan dan mempersatukan masyarakat, identifikasikan perbedaan yang ada di kalangan masyarakat tempat tinggal anda, Tradisi yang Masih Berlaku di Indonesia

Sadarkah anda semua bila mendengar dan mencerna lebih baik lagi bahwa kalimat diatas adalah realita yang menjadi sebuah pertanyaan besar terkait situasi maupun kondisi di negara tercinta kita ini, Indonesia. Situasi yang seperti apa ?

“Situasi kemanusiaan dimana terjadi sebuah bifurkasi persatuan yang mengacu terciptanya sebuah siklus perpecahan.”

Bila kita mendengar dan merenungkan kata “cinta”, sekilas pastilah terlintas dalam pikiran kita semua bahwa kata tersebut memiliki arti yang teramat banyak serta terkandung perasaan yang bervariasi pula seperti kesal, sedih, senang, bingung, bimbang, resah, dan berbagai macam suasana hati lainnya. Cinta = satu kata penuh makna, lantas bagaimana dengan kata “INDONESIA” ?

Sama halnya atau bahkan lebih dari kata cinta, Indonesia juga pasti memiliki banyak makna maupun keanekaragaman yang terselubung didalamnya. Tentu kita sebagai warganya sendiri sudah layak dan sepantasnya mengakui serta mengagumi keanekaragaman yang negara kita sendiri miliki. Julukan “Negara Pluralisme” sangatlah tepat disematkan untuk Indonesia dimana Indonesia merupakan kepulauan yang memilki 33 provinsi, 6 agama yang diakui, serta sekitar kurang lebih 150 suku bangsa yang tersebar di seluruh pelosok daerah nusantara ini.

“Lantas dari keberagaman tersebut, bagaimanakah awal kisah terciptanya persatuan di Indonesia dalam keberagaman serta pluralisme yang ada ?”

17 Agustus 1945, bung karno mengumandangkan naskah proklamasi, Indonesia akhirnya merdeka, dimana semua cita cita pahlawan pejuang kemerdekaan untuk mempersatukan Indonesia akan terwujud. Lebih dari 3 abad lamanya mereka berjuang dengan tumpah darah serta keringat yang tak kunjung hentinya berjatuhan, dengan satu tujuan yaitu indonesia merdeka, indonesia bersatu, semua rakyat bersatu melawan penjajah, dan pada akhirnya lepas dari penjajahan yang memporak porandakan persatuan bangsa kita.

Para pahlawan mempunyai cita cita luhur untuk mempersatukan negara kita yang terdiri dari berbagai bangsa, suku, bahasa, serta keanekaragaman launnya. Pancasila sebagai dasar negara dicanangkan dan terdapat salah satu silanya yang menjunjung tinggi persatuan yaitu sila ke 3 yang berbunyi “Persatuan Indonesia”. Bhinneka Tunggal Ika disuarakan yang artinya berbeda beda tetapi tetap satu. Tanda persatuan pun semakin nyata dirasakan beserta dengan semangat persatuan para pahlawan yang memiliki cita cita luhur untuk memerdekakan dan mempersatukan tanah air ini pun semakin terbentuk realisasinya.

Sudah begitu banyak pondasi awal yang telah dibangun sejak indonesia memerdekakan diri dari penjajah, pondasi untuk mempersatukan segala aspek kebangsaan yang ada di negara ini. Tetapi apakah pondasi tersebut tetap berdiri kokoh sampai zaman globalisasi sekarang ini ? Apakah cita – cita luhur dari pahlawan kita sendiri terwujud sampai saat ini ? Apakah realisasi dari persatuan tercipta pada masa kini ? Jawabannya “Tidak !”. Alasan yang dapat saya sampaikan yaitu cobalah kita sebagai warga indonesia merenungkan diri sejenak dan berkaca akan realita sosial yang terjadi pada bangsa kita saat ini.

“Maraknya demo atas nama keagamaan.”

“Pertentangan atas dasar suku budaya.”

“Politik rasa agama serta budaya setempat.”

“Realita ironis dimana hak hak kaum minoritas terbatasi akibat dominasi kaum mayoritas.”

“Pertentangan ideologi keagamaan.”

Sampai dengan struktur utama dari negara kita yaitu pemerintahan kita sendiri sudah ternodai dengan adanya konflik perbedaan baik ideologi maupun pandangan budaya serta agama. Kondisi negara kita saat ini bagaikan katak dalam tempurung yang tak kunjung mengerti betul apa arti persatuan itu sebenarnya. Negara ini ibarat sebuah persatuan yang membeda bedakan, dimana meskipun kita telah bersatu sebagai sebuah warga negara indonesia tetapi kita masih tidak mengerti apa arti persatuan yang sebenarnya sehingga “persatuan” ini pada akhirnya membawa kita pada perpecahan.

“Lantas bagaimanakah bentuk nyata dari perbedaan yang mempersatukan ?”

Singkat cerita saja,

Saya merupakan seorang siswa dari salah satu sekolah swasta (katolik) di jakarta. Mungkin banyak dari kita berfikir bahwa sebagai sebuah sekolah swasta yang beraliran katolik, tentu murid muridnya merupakan seorang yang beragama katolik sesuai dengan aliran agama yang dianut sekolah ini. Tetapi perlu diketahui bahwa sekolah swasta yang beraliran katolik ini terbuka akan siswa dengan berbagai macam agama yang dianutnya. Buktinya, di sekolah ini banyak terdapat murid yang beragama islam, buddha, sampai dengan hindhu. Selain berbeda agama, murid – murid di sekolah ini juga terdiri dari berbagai suku bangsa maupun ras yang berbeda beda. Lalu pertanyaan besar dari situasi sekolah ini adalah “Akankah tercipta persatuan dalam perbedaan?”

Saya dapat tegaskan bahwa jawabanya adalah “IYA !” Mengapa ?

Kami berasal dari berbagai macam latar belakang yang berbeda beda, ada yang dari etnis tionghoa, suku batak, suku flores, keturunan keraton, etnis Jawa, agama Katolik, agama Muslim, agama Kristen, agama Buddha, agama Hindhu, dan masih banyak keragaman lainnya yang kami miliki. Tetapi dibalik semua keragaman itu, terciptalah suasana persatuan diantara kami semua. Kami senantiasa menghargai satu sama lain, menghargai perbedaan yang dimiliki, dan kami semua berteman bagaikan sebuah keluarga yang penuh dan kaya akan keberagaman.

Setiap harinya kami selalu bertemu dan bertegur sapa tanpa suatu hambatan apapun. Setiap kegiatan maupun kewajiban agama yang dimiliki oleh setiap pribadi dari kami selalu dihargai dan diberikan kebebasan untuk melakukan ibadah maupun perayaan wajib lainnya ( Contoh konkritnya : setiap hari Jumat, semua guru, murid, maupun staff sekolah yang beragama muslim diijinkan untuk meninggalkan area sekolah untuk melakukan Sholat Jumat di Mushola ataupun Masjid terdekat ).

Tidak ada rasa cemburu maupun dengki dari dalam diri kami akan kebergaman maupun perbedaan yang kami miliki masing masing. Tidak pernah ada kasus pencelaan suku ataupun agama yang muncul di wilayah sekolah kami. Bahkan kami sangat menikmati hidup dalam perbedaan seperti ini, karena kami mengerti dan tahu betul bahwa sebenarnya keberagaman (perbedaan) merupakan pemicu terciptanya persatuan, dan rasa persatuan itu sendiri telah kami rasakan bahkan rasa persatuan itupun berkembang menjadi rasa persaudaraan yang erat antar sesama manusia yang beragam.

“Akankah suasana sekolah yang berisikan murid murid dengan latar belakang budaya serta suku bangsa yang berbeda beda tidak terpengaruh dengan runtuhnya persatuan di kalangan masyarakat umum jaman sekarang ini, mengingat bahwa semakin maraknya isu isu mulai retaknya persatuan akibat perbedaan yang ada di negara ini ?”

Kerapkali kami merasakan bahwa kehidupan tanpa perbedaan dan keberagaman adalah kehidupan yang hampa dan kurang berwarna. Kami tidak terpengaruh akan isu isu perpecahan berbau agama, suku bangsa, maupun budaya setempat yang muncul di kalangan masyarakat tetapi kami malah menjadikan isu tersebut sebagai bahan refleksi kami akan pentingnya tercipta persatuan ditengah – tengah keberagaman serta perbedaan yang tersebar di masyarkat luas ini. Mengapa kami merasa demikian ?

Karena kami tahu betul bahwa runtuhnya persatuan dapat membawa perpecahan di negara ini, kami tahu betul bahwa keanekaragaman yang kami miliki merupakan cikal bakal kekayaan negara pluralisme seperti Indonesia ini, dan kami tahu betul bahwa persatuan merupakan asal mula ( dasar pemikiran ) terbentuknya masyarakat yang maju. Kami merasakan bahwa hidup ini semakin berwarna akibat adanya pluralisme di negara ini.

Dari contoh nyata yang telah dijelaskan diatas, dapat kita ambil kesimpulan bahwa dari lingkungan sekolah maupun pertemanan ( masyarakat kecil ) sudah mulai dibentuk dan dibina sebuah rasa persatuan dalam pribadi setiap generasi penerus bangsa ini. Karena seperti yang kita ketahui bahwa nasib serta masa depan negara kita ini berada di tangan para generasi penerus bangsa yang tak lain merupakan para kaum pelajar.

Dimana dengan mengetahui makna utama dan pentingnya persatuan, maka generasi penerus bangsa kita ini akan bersatu tanpa memandang perbedaan yang mereka miliki dan pada akhirnya akan saling bahu membahu dalam membangun dan memajukan tanah air ini. Tanpa adanya persatuan, tanpa adanya rasa kebersamaan dalam keberagaman yang ada, secara tidak langsung situasi inilah akan menjadi pemicu munculnya egoisme individual, dimana mereka akan merasakan bahwa persatuan adalah hal yang tidak penting tetapi yang terpenting adalah kehebatan serta kemampuan yang dimiliki diri sendiri tanpa adanya rasa persaudaraan sebagai warga negara.

Marilah sejenak kita korelasikan peristiwa diatas yang bisa kita sebut pula sebagai proses penanaman moral bangsa dengan situasi persatuan yang sekarang terjadi di negara ini. Seperti yang kita ketahui bahwa masyarakat merupakan agen sosialisasi terbesar dan paling luas bagi seluruh individu ( manusia ) yang ada di dunia ini, jika kondisi masyarakatnya saja sudah menunjukan dan menggambarkan situasi perpecahan akibat perbedaan / pluralisme yang ada di negara ini, akan seperti apakah nasib negara kita ini untuk kedepannya. Ibarat prinsip kerja akar tumbuhan yang berada didalam tanah dimana akar yang bercabang cabang tersebut mengambil dan menyerap unsur hara serta mineral yang terkandung di dalam tanah sebagai nutrisi untuk pertumbuhan tanaman tersebut.

Sama halnya seperti prinsip kerja akar tersebut, situasi persatuan di Indonesia sekarang pun seperti demikian, seluruh masyarakat di negara ini diibaratkan sebagai tanah, masyarakat yang telah terpengaruh oleh perpecahan yang sudah terjadi diibaratkan sebagai akar yang bercabang cabang lalu masyarakat yang masih percaya akan persatuan dan belum terpengaruh akan perpecahan diibaratkan sebagai unsur hara dan mineral di dalam tanah, serta tumbuhan itu sendiri merupakan perpecahannya yang muncul akibat adanya keberagaman.

Dimana sesuai dengan prinsip kerja akar bahwa masyarakat yang sudah terpengaruh oleh perpecahan semakin banyak jumlahnya dan semakin mendominasi mayoritas masyarakat di negara ini lalu dengan perlahan lahan menghasut dan mempengaruhi masyarakat masyarakat lainnya ( akar tanaman menghisap unsur hara dan mineral ) sehingga pada akhirnya perpecahan menjadi gaya hidup yang utama di negara ini ( tumbuhan semakin tumbuh dan berkembang akibat nutrisi dari unsur hara dan mineral yang diserap oleh akar ).

Sanggupkah kita membayangkan situasi negara kita kedepannya nanti bukannya semakin erat akan rasa persatuan tetapi malah semakin erat akan rasa perpecahan ditengah tengah keberagaman yang hadir dari setiap pribadi masyarakat di negara ini ? Coba bayangkan masa depan negara kita ini jika situasi perpecahan seperti sekarang ini terus terjadi secara berkelanjutan, dimana sifat kehidupan individual sesama suku bangsa maupun budaya akan semakin merajalela, tidak ada rasa persaudaraan yang muncul antar sesama masyarakat yang beragam, julukan negara pluralisme seakan akan tidak cocok lagi untuk disematkan kepada tanah air tercinta ini.

Cobalah kita renungkan sejenak akan situasi perpecahan yang sedang marak terjadi di negara ini, untuk apa kita sebagai seorang warga negara yang memiliki latar belakang budaya, suku bangsa, maupun agama yang berbeda beda hidup di negara yang justru masyarakatnya tidak memiliki rasa toleransi dan saling menghargai antar umat manusia yang beragam.

Untuk kedepannya akan seperti akan bentuk persatuan dari tanah air tercinta ini ? Retorika sesaat atau Ideologi yang tepat ? Eksistensi sesaat atau Peraturan yang mengikat ? Persepsi atau Omongan basi ? Kesenjangan atau Keberagaman ? Kebiasaan yang sesat atau Kebiasaan yang tepat ? Perbedaan yang mempersatukan atau Persatuan yang membeda – bedakan ?

Sungguh resah hatiku menyaksikan kondisi hiruk pikuk tanah air tercinta ini penuh dengan keberagaman yang memecahkan bukan untuk mempersatukan, akan seperti apa nasib persatuan negara ini untuk kedepannya ?

Maka dengan itu, bukalah mata hati serta mata batin dari setiap pribadi diri kita masing masing. Lihatlah kondisi seperti apa yang sudah merajalela dan meracuni moral bangsa di negara ini. Sadarilah akan situasi buruk tak menentu yang sedang beredar di negara ini. Bangunlah tanah air tercinta ini sebagai suatu negara yang cinta akan keberagaman. Buktikan kepada dunia Internasional bahwa Indonesia layak dan pantas dijunjung tinggi sebagai negara pluralisme. Bangkitkanlah semangat persatuan ! Revolusi intelektual ! Revolusi moral ! Buanglah ideologi yang menganggap bahwa keberagaman baik suku bangsa maupun budaya yang dimiliki adalah yang paling benar dan harus dijunjung tinggi di negara ini sekalipun budaya tersebut merupakan mayoritas negara ini.

Janganlah kita secara cuma cuma membuang tenaga dan pikiran hanya dengan tujuan untuk meracuni moral maupun ideologi bangsa kita ini. Cintailah keberagaman yang ada di negara ini, bangunlah persatuan untuk negara ini. Keberagaman merupakan anugerah dari Tuhan Yang Maha Esa yang ditujukan bagi seluruh umat manusia di bumi ini. Persatuan merupakan wujud dari penghargaan terhadap keberagaman yang ada di dunia ini. Janganlah sia siakan keberagaman ini sebagai ajang kompetisi, tetapi jadikanlah keberagaman ini sebagai ajang sosialisasi dimana semua masyarakat saling mengenal dan bersatu untuk membangun negara yang lebih baik lagi. Merah Putih justru lahir dari keberagaman. Indonesia tidak akan berdiri sampai sekarang ini tanpa adanya perbedaan dan keberagaman. Maka Rawatlah keberagaman tersebut ! Karena perbedaan maupun keberagaman merupakan jiwa dari Indonesia tercinta ini.

“KEBERAGAMAN ADALAH KEKAYAAN YANG HARUS DIRAYAKAN”

– IR. SOEKARNO –

Arti sebuah perbedaan, Makna Perbedaan Dalam Islam

Dalam pandangan Islam, kebangsaan adalah sebuah keniscayaan yang mutlak dan menjadi sunnatullah di muka bumi ini. Allah menciptakan manusia dalam bentuk yang berbeda-beda, dilahirkan dalam konteks budaya dan iklim berbeda pula, sehingga tipe dan karakter manusia tidak akan sama. Namun semua perbedaan itu dimaksudkan tidak lain agar manusia dapat saling belajar dan melengkapi.

Dalam alquran Allah menjelaskan, “Sesungguhnya Allah SWT telah menciptakan kalian berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kalian saling mengenal dan sesungguhnya yang paling mulia diantara kalian di sisi Allah Swt adalah yang paling bertaqwa.”

Penciptaan yang demikian adalah sebuah ketentuan tuhan yang harus diterima, karena yang demikian itu memiliki makna dan hikmah yang tersembunyi, dan hanya Allah saja yang maha mengetahuinya.

Dalam ayat di atas Allah juga menekankan bahwa perbedaan merupakan pra-kondisi agar manusia dapat saling mengenal, dan itu semua untuk kebaikan manusia. Karena bagi Allah, bukan rupa dan bentuk fisik yang membedakan satu umat dengan umat yang lain, di mata Allah semua hambanya sama, yang membedakan hanyalah tingkat keimanan, dan yang paling mulia di sisi Allah adalah mereka yang paling bertaqwa.

Saling mengenal antara satu dengan yang lain merupakan sebuah kebaikan yang harus dilakukan, agar antara satu dengan yang lain dapat mengerti dan memahami kelebihan dan kekurangan masing-masing, sehingga dengannya manusia dapat saling melengkapi. Lebih dari itu, hikmah dan pelajaran yang dapat diperoleh dari penciptaan tersebut adalah lahirnya identitas di setiap suku dan bangsa dengan ciri khasnya masing-masing, sehingga hidup akan terasa lebih berwarna dan tidak terpojok pada yang ‘itu-itu saja’.

Seturut dengan ketentuan Allah di atas, maka menghargai perbedaan merupakan sebuah kewajiban, sementara mengangungkan keseragaman dengan membabat habis keberagaman merupakan tindakan yang tidak berdasar dan melawan ketetapan Allah.

Seruan-seruan untuk membangkitkan khilafah dari kubur misalnya, merupakan salah satu contoh sederhana tentang upaya melawan ketetapan Allah. Melalui khilafah, para pemimpi itu ingin meleburkan segala bentuk perbedaan kedalam satu wadah tunggal utopis bernama khilafah.

Mensikapi perbedaan dengan pemberedelan tentu tidak bansa dibenarkan, karena yang lebih penting untuk dilakukan adalah bagaimana menjadikan keanekaragaman itu sebagai sebuah potensi untuk memperkokoh persatuan dan kesatuan bangsa, sebagaimana dilakukan oleh Rasulullah pada saat di Madinah Al Munawwarah, di mana beliau menghimpun semua kekuatan dari berbagai suku dan agama dalam satu negara yang dikomandoi oleh Rasulullah, bukan menghapus dan menghilangkan suku dan agama agama yang ada pada saat itu.

Perwujudan Khilafa di tanah air bukanlah solusi untuk membangun dan membangkitkan Islam sebagai agama. Khilafah justru akan meluluhlantahkan tatanan kebangsaan dan kenegaraan yang telah dibangun selama ini, yang pada gilirannya bukan saja akan mencoreng Islam sebagai agama yang rahmatan lil-alamin, tetapi juga akan melemahkan sendi-sendi keagamaan yang telah dibangun oleh semua komponen bangsa selama ini.

Print Friendly, PDF & Email

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *