Apakah Jin Bisa Mati? – Mengungkap Kehidupan Jin

oleh -17 views
Apakah Jin Bisa Mati? - Mengungkap Kehidupan Jin
gambar ilustrasi

Apakah Jin Bisa Mati – Wujud fisik Jin dikatakan memiliki tanduk, berukuran kecil dalam kisah lain dikatakan kecil seperti lalat memiliki sayap.

Menurut ajaran Islam, jin dapat melihat manusia, namun sebaliknya manusia tidak dapat melihat mereka dalam wujud aslinya. Jikalau ada manusia yang dapat melihat jin, maka jin yang dilihatnya itu adalah jin yang sedang menjelma dalam wujud makhluk yang dapat dilihat mata manusia biasa.

“ “Sesungguhnya ia dan pengikut-pengikutnya melihat kamu dan suatu tempat yang kamu tidak bisa melihat mereka. Sesungguhnya Kami telah menjadikan syaitan-syaitan itu pemimpin-pemimpin bagi orang-orang yang tidak beriman.” (Al-A’rof 7:27) ”Kemudian tidak seorangpun mampu melihat jin, kecuali bila mereka mengubah diri (menjelma) dalam berbagai bentuk. Hanya nabi dan rasul saja yang sanggup melihat wujud aslinya.

Ada beberapa riwayat yang menjelaskan bahwasanya mereka mengubah diri ke dalam berbagai bentuk seperti di antaranya:

  • Menjadi seorang lelaki miskin,
  • Menjadi seorang Syaikh dari Najd,
  • Berbentuk ular,
  • Berbentuk tikus.

Jin bisa berwujud seperti manusia siapapun kecuali sosok Nabi Muhammad, mereka dapat mengubah wujud mereka menjadi hewan apapun. Serta bisa berujud Bani Adam seperti waktu setan mendatangi kaum musyrikin dalam bentuk Suraqah bin Malik kala mereka hendak pergi menuju Badr. Mereka dapat berubah-ubah dalam bentuk yang banyak, seperti anjing hitam atau juga kucing hitam. Karena warna hitam itu lebih signifikan bagi kekuatan jin dan mempunyai kekuatan panas.

Beberapa hewan dianugerahi bisa melihat jin, seperti keledai dan anjing

 

SETIAP makhluk ciptaan Allah SWT akan mengalami kematian. Tak peduli seorang pengacara, pedagang, selebriti, hewan dan tumbuhan suatu hari nanti pasti akan menemui ajalnya. Satu pertanyaan yang menyeruak; apakah jin juga mati layaknya manusia? Mengingat jin adalah makhluk ciptaan Allah juga.

Keterangan dari beberapa riwayat menunjukkan bahwa jin seperti manusia, yaitu bisa meninggal dunia juga. Perlu kita garis bawahi bahwa jin itu berbeda dengan iblis yang secara khusus telah diberikan ajal sampai kiamat tiba.

Ketika Allah SWT mengutuk iblis lantaran tidak taat kepada-Nya untuk bersujud kepada Nabi Adam as, iblis masih memohon untuk ditangguhkan masa hidupnya hingga akhir zaman. Permintaan terakhir itu pun dikabulkan Allah SWT.

Iblis menjawab, “Beri tangguhlah aku sampai waktu mereka dibangkitkan!”

Allah SWT berfirman, “Sesungguhnya kamu termasuk mereka yang diberi tangguh.”

Sedangkan jin adalah jenis makhluk halus. Seperti halnya manusia, jin hidup berkelompok-kelompok, bersuku-sku dan berbangsa-bangsa. Mereka terdiri dari laki-laki dan perempuan. Mereka menikah, beranak, tumbuh dewasa hingga besar dan mereka pun masing-masing mengalami kematian. Meski ukuran usianya sedikit berbeda dengan ukuran usia manusia.

Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir dari Wahb bin Munabbih bahwa ia ditanya tentang jin, Apakah jin itu makan, minum, mati dan menikah? Dijawab, “Mereka bermacam-macam. ada yang tidak makan, minum, mati dan beranak, mereka adalah jin asli. Ada lagi jenis yang bisa makan, minum, mati dan menikah.” (Wiqoyatul Insan Minal Jinni Wasy-Syaithan, Syeikh Abds Salam Bali).

Dan kesimpulan yang pasti tentang matinya jin tentunya adalah firman Allah SWT: “Semua yang ada di atas bumi akan binasa. Dan kekal wajah Rabmu Dzat pemilik keagungan dan kemuliaan karena itu. Nikmat Tuhan yang mana lagi yang kalian dustakan.” (QS. Ar-Rahman: 26 – 28). []

Apakah jin beranak seperti manusia?

Cara Jin Berkembang-biak – TENTUNYA kita sering mendengar pembahasan mengenai jin. Bahkan tak sedikit dari kita yang bersekutu dengan pasukan jin untuk mendapatkan dunia. Namun tak banyak orang yang tau mengenai keturunan makhluk halus tersebut.

Ada beberapa nash dari Al-Quran maupun Sunnah Nabi SAW yang menunjukan bahwa jin juga merupakan makhluk yang mempunyai sy4hwat. Mereka juga mempunyai keinginan terhadap lawan jenisnya sebagaimana seorang laki-laki dari manusia yang mencitai wanitanya dan begitu sebaliknya.

Ayat Al-Quran yang menjelaskan adanya jenis kelamin di kalangan mereka adalah, “Dan bahwasanya ada beberapa laki-laki di antara manusia meminta perlindungan kepada beberapa laki-laki di antara jin…” (QS. Al-Jin : 6)

“Patutkah kamu mengambil dia dan turunan-turunannya sebagai pemimpin selain dari-Ku…” (QS. Al-Kahfi: 50)

Hadits Rasulullah SAW tentang doa masuk kamar mandi, “Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari setan laki-laki dan setan perempuan,” (HR. Bukhari).

Nash ini cukup menjadi rujukan untuk membenarkan adanya hubungan perkawinan dan pernikahan yang melahirkan keturunan-keturunan yang menjadi generasi penerus sepeninggal pendahulu-pendahulu mereka. []

Sumber : Kesaksian Raja Jin/Abu Aqila/Senayan Abadi Publishing

Baca juga: Kisah Nyata ! Pengalaman Tukang Gali Kubur Dititipi Anak Jin

Ini Cara Reproduksi Jin

JIKA manusia membutuhkan waktu mengandung selama sembilan bulan sepuluh hari untuk melahirkan, jin justru berbeda.

Bila disentuhkan alat kelamin laki-laki dengan alat kelamin perempuan, maka jin perempuan akan mengandung dan melahirkan.

Anak jin yang baru lahir ini terus mukallaf. Begitulah keadaannya sampai hari kiamat.

Iblis juga bila disentuhkan paha kanan dengan paha kiri akan mengeluarkan 33 biji telur.

Dalam setiap biji telur itu ada 33 pasang benih. Setiap pasang benih itu apabila menyentuh paha kanan dengan paha kiri akan keluar seperti yang terdahulu.

Begitulah reproduksi jin dan iblis sampai pada hari kiamat.

Bunian atau biasanya disebut juga orang ghaib ialah hasil campuran laki-laki atau perempuan jin dengan laki-laki atau perempuan dari kalangan manusia.

Perangai dan tingkah laku serta bentuk rupa orang Bunian ini dalam beberapa hal mirip manusia dan juga mirip jin.

Jika nenek moyang manusia adalah Nabi Adam as, maka nenek moyang jin adalah “Jaan” yang asalnya adalah beriman kepada Allah dan melahirkan keturunan yang beriman.

Setelah itu terdapat juga keturunan Jaan yang kufur.

Anak cucu Jaan yang asalnya beriman itu ada yang kuat imannya, ada pula yang kufur dan ada juga yang berimn kembali kepada Allah SWT.

Pada dasarnya bentuk rupa jin tidak banyak berbeda dari bentuk rupa manusia, yaitu mereka memiliki jenis kelamin, memiliki hidung mata, tangan, kaki, telinga dan sebagainya. Jadi 80 hingga 90 persen jin menyerupai manusia.

Hanya perbedaan fisik jin adalah lebih kecil dan halus dari manusia.

Bentuk tubuh mereka ada yang pendek, juga ada yang tinggi dan bermacam-macam warnanya, yaitu putih, merah, biru, hitam dan sebagainya.

Jin kafir dan jin Islam yang fasik itu memiliki rupa yang buruk dan menakutkan. Sedangkan jin Islam yang saleh memiliki rupa yang elok.

Tinggi jin sekitar tiga hasta. Pengetahuan mereka lebih luas dan berumur sangat panjang sampai beribu-ribu tahun.

Kecepatan jin bergerak melebihi cahaya dalam suatu waktu.

Karena jin terdiri dari makhluk yang seni dan tersembunyi, maka ruang yang kecil pun bisa diduduki oleh jutaan jin dan juga dapat merasuki dan menghuni tubuh manusia.

Jumlah jin amat banyak. Jika dikalikan dengan jumlah manusia dari Nabi Adam as sampai hari kiamat dikalikan dengan hewan-hewan, dikalikan dengan batu-batu, dikalikan dengan pasir-pasir dan semua tumbuh-tumbuhan.

Itu pun hanya sepersepuluh dari total jin. Sedangkan total jin adalah sepersepuluh dari total malaikat. Total malaikat hanya Allah dan Rasul-Nya saja yang mengetahuinya.

Alam tempat berdiamnya jin adalah di lautan, daratan, udara dan di alam mithal yaitu suatu alam manusia dan alam malaikat.

Jika kita diberikan oleh Allah kemampuan untuk melihat jin, sudah tentu kita akan melihat jarum yang jatuh dari atas tidak akan jatuh ke bumi, tetapi jatuh di belakang jin, karena sangat banyaknya jumlah mereka.

Jin dan setan tidur di kala siang dan menjelang petang mereka keluar untuk mencari rezeki dan makanan, baik laki-laki maupun perempuan, baik yang dewasa atau anak-anak.

Makanan dan minuman Jin

Dikisahkan jin makan-makanan berasal dari kotoran manusia dan hewan, tulang, sari makanan dan minuman yang tidak disebutkan nama Allah, mereka menyukai aroma kemenyan, dan minuman yang memabukkan.

Habitat Tempat tinggal Jin

Menurut beberapa hadist setan dari golongan jin tinggal dibeberapa tempat, golongan jin kafir suka tinggal ditempat yang kotor, dan mereka juga ada yang berdiam di masjid, atau mengganggu manusia ketika salat. Tempat berdiam di antaranya adalah:

  1. WC (tempat yang bernajis dan kotor),
  2. Rumah,
  3. Pekuburan,
  4. Pasar,
  5. Dekat unta dan kandangnya,
  6. Lembah,
  7. Lautan,
  8. Padang pasir,
  9. Lubang yang berada ditanah,
  10. Tempat maksiat.
  11. Tempat antara panas dan teduh,
  12. Tempat atau benda yang dianggap keramat,
  13. Tempat sunyi,

Manusia Meninggal Dibunuh Jin, Bisakah?

Di dunia ini, manusia bukan satu-satunya makhluk yang diciptakan Allah SWT. Ada juga kaum jin yang mendapat kewajiban sama dengan manusia yang menyembah Allah SWT.

Meski tidak terlihat, jin hidup di sekitar kita. Bahkan ada sebagian jin yang juga menghuni rumah manusia.

Mungkin ada sebagian dari saudara kita yang meyakini jin bisa membunuh manusia. Meskipun memang jin bisa mendatangkan bahaya.

Tetapi, benarkah pendapat ini dan bagaimana menurut Islam?

Terkait hal ini, terdapat riwayat mengisahkan meninggalnya sahabat Sa’ad bin Ubadah RA dalam keadaan yang tidak wajar. Menurut riwayat tersebut, Sa’ad meninggal karena dipanas jin. Riwayat ini diperselisihkan kebenarannya.

Ibnu Abdil Bar menceritakan kisah ini dan mengatakan para ahli sejarah sepakat menyimpulkan Sa’ad meninggal di tempat mandinya dalam keadaan jasad telah menghijau. Dia melanjutkan tidak ada yang tahu sebab kematian Sa’ad, sampai terdengar ada sosok tak terlihat mengucapkan syair ini.

“Kami telah membunuh pemuka Khazraj, Sa’d bin Ubadah. Kami lempar dia dengan tombak, dan tidak meleset dari jantungnya.”

Kisah ini tertulis dalam Al Isti’ab fi Ma’rifah Al Ashab.

Tetapi, sejumlah ulama hadis menyatakan riwayat di atas dhaif atau lemah. Beberapa ulama tersebut seperti Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam Minhajus Sunah dan Imam Al Albani.

Dari garis sanad atau jalur periwayatan, Imam Al Albami dalam kitab Irwa’ Al Ghalil menyatakan lemah. Imam Al Albani mengomentari keterangan Ibnu Abdil Bar.

“Aku tidak menjumpai sanad yang shahih sesuai dengan metode para ahli hadis. Disebutkan oleh Ibnu Asakir dari Ibnu Sirin secara Mursal, dan rijalnya tsiqah.”

Jin Membunuh Manusia

Pertanyaan:

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh. apakah jin bisa membunuh manusia?

Dari sdr. Muhamad W

Jawaban:

Wa alaikumus salam warahmatullahi wabarakatuh

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala rasulillah, amma ba’du,

Terdapat riwayat, bahwa sahabat Sa’d bin Ubadah radhiyallahu ‘anhu meninggal karena dipanah oleh jin. Namun riwayat ini diperselisihkan kebenarannya. Ibnu Abdil Bar menceritakan kisah kematian sahabat Sa’d bin Ubadah,

ولم يختلفوا أنه وجد ميتا في مغتسله وقد اخضر جسده

Para ahli sejarah bersepakat bahwa beliau ditemukan telah meninggal di tempat mandinya, dan jasadnya telah menghijau.

Kemudian, Ibnu Abdil Bar mengatakan,

ولم يشعروا بموته حتى سمعوا قائلا يقول؛ ولا يرون أحدا

قتلنا سيد الخزرج سعد بن عبادة * رميناه بسهم فلم يخطئ فؤاده

Mereka tidak ada yang tahu tentang kematian Sa’d bin Ubadah, hingga mereka mendengar ada sosok tanpa jasad yang mengucapkan bait syair:

”Kami telah membunuh pemuka Khazraj, Sa’d bin Ubadah

Kami lempar dia dengan tombak, dan tidak meleset dari jantungnya.”

(al-Isti’ab fi Ma’rifah al-As-hab, hlm. 180).

Hanya saja, beberapa ulama ahli hadis menilai kisah ini statusnya. Diantaranya, Syaikhul Islam dalam Minhajus Sunah (8/581), dan Imam al-Albani. Alasan bahwa kisah ini lemah,

[1]. Secara sanad, keterangan ini lemah. Ketika menyebutkan keterangan Ibnu Abdil Bar, Imam al-Albani mengatakan,

ولكني لم أجد له إسناداً صحيحاً على طريقة المحدثين ؛ فقد أخرجه ابن عساكر عن ابن سيرين مرسلاً ، ورجاله ثقات

“Namun aku tidak menjumpai sanad yang shahih sesuai dengan metode para ahli hadis. Disebutkan oleh Ibnu Asakir dari Ibnu Sirin secara Mursal, dan Rijalnya tsiqah. (Irwa’ al-Ghalil, 1/95)

[2]. Andai info itu benar, dalam arti, suara itu benar-benar ada dan didengar oleh orang yang disekita Sa’d bin Ubadah, ini belum cukup untuk dijadikan dasar bahwa beliau meninggal karena dibunuh jin. Karena bisa saja, jin berdusta kemudian dia ngaku-ngaku telah membunuh Sa’d radhiyallahu ‘anhu. dan info dari jin tidak bisa diterima 100% kebenarannya.

Jin Bisa Bertindak Jahat Kepada Manusia

Terdapat beberapa riwayat shahih yang menunjukkan bahwa jin bisa bertindak jahat kepada manusia. Diantaranya, hadis dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menceritakan,

إِنَّ عِفْرِيتًا مِنَ الجِنِّ تَفَلَّتَ البَارِحَةَ لِيَقْطَعَ عَلَيَّ صَلاَتِي، فَأَمْكَنَنِي اللَّهُ مِنْهُ فَأَخَذْتُهُ، فَأَرَدْتُ أَنْ أَرْبُطَهُ عَلَى سَارِيَةٍ مِنْ سَوَارِي المَسْجِدِ حَتَّى تَنْظُرُوا إِلَيْهِ كُلُّكُمْ، فَذَكَرْتُ دَعْوَةَ أَخِي سُلَيْمَانَ رَبِّ هَبْ لِي مُلْكًا لاَ يَنْبَغِي لِأَحَدٍ مِنْ بَعْدِي فَرَدَدْتُهُ خَاسِئًا

Sesungguhnya jin Ifrit tiba-tiba menggangguku untuk memutus shalatku tadi malam. Kemudian Allah memberi kemampuan kepadaku untuk mengalahkannya, lalu akupun memegangnya. Kemudian aku ingin mengikatnya di salah satu tiang masjid, sehingga kalian semua bisa melihatnya. Namun aku teringat doa saudaraku Nabi Sulaiman: Wahai Rabku, anugerahkanlah kepadaku kerajaan yang tidak dimiliki oleh seorang juapun sesudahku. Kemudian akupun melepaskannya sementara dia dalam kondisi terhina. (HR. Bukhari 3423).

Dalam riwayat lain, jin Ifrir ini membawa obor api, untuk menyakiti Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Hadis ini menunjukkan bisa saja jin mengganggu manusia secara fisik, sehingga bisa dipegang oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika beliau shalat.

Kemudian, ketika jin berubah wujud menjadi benda lain yang bisa terlihat manusia, jin memungkinkan untuk menyakiti atau bahkan membunuh manusia.

Abu Said al-Khudri menceritakan,

Bahwa dulu ada seorang pemuda yang baru menikah. Ketika peristiwa Khandaq, siang hari, dia meminta izin Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk pulang. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun mengizinkannya dan berpesan agar dia membawa senjata, karena khawatir akan dibunuh orang Yahudi Quraidzah.

Ketika sampai di rumah, dia melihat istrinya berdiri di pintu. Pemuda inipun cemburu, hingga hendak memukul istrinya.

Istrinya segera mengatakan, ’Tahan dulu, masuklah ke dalam rumah, dan lihat apa yang menyebabkan aku keluar.’

Diapun masuk, ternyata di dalam rumah terdapat ular basar yang melingkar di atas kasur.

Hingga terjadilah perkelahian antara pemuda dan ular, dan keduanya mati. Tidak diketahui, siapa yang lebih dulu mati, ular ataukah pemuda.

Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengingatkan,

إِنَّ بِالْمَدِينَةِ جِنًّا قَدْ أَسْلَمُوا فَإِذَا رَأَيْتُمْ مِنْهُمْ شَيْئًا فَآذِنُوهُ ثَلَاثَةَ أَيَّامٍ فَإِنْ بَدَا لَكُمْ بَعْدَ ذَلِكَ فَاقْتُلُوهُ فَإِنَّمَا هُوَ شَيْطَانٌ

Sesungguhnya di Madinah ini ada segolongan jin yang telah masuk Islam. Jika kalian melihat satu dari mereka, maka mintalah kepada mereka untuk keluar (dalam jangka waktu) tiga hari. Jika ia tetap menampakkan diri kepada kalian setelah itu, maka bunuhlah ia, karena sesungguhnya dia itu setan”. (HR. Muslim 2236)

Selalu Tawakkal dan Jangan Takut

Allah menegaskan dalam al-Quran bahwa tipu daya setan, sangatlah lemah.

فَقَاتِلُوا أَوْلِيَاءَ الشَّيْطَانِ إِنَّ كَيْدَ الشَّيْطَانِ كَانَ ضَعِيفًا

”Perangilah para pasukan setan, sesungguhnya tipu daya setan itu lemah.” (QS. An-Nisa: 76)

Karena itu, selama seseorang berusaha menjaga imannya, dan bersandar kepada Allah, setan tidak akan memiliki kesempatan untuk bisa mengganggu manusia.

فَإِذَا قَرَأْتَ الْقُرْآنَ فَاسْتَعِذْ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ ( ) إِنَّهُ لَيْسَ لَهُ سُلْطَانٌ عَلَى الَّذِينَ آمَنُوا وَعَلَى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ

Apabila kamu membaca al-Quran hendaklah kamu meminta perlindungan kepada Allah dari setan yang terkutuk. ( ) Sesungguhnya setan itu tidak memiliki kekuasaan untuk mengganggu orang-orang yang beriman dan bertawakkal kepada Tuhannya.(QS. An-Nahl: 98 – 99) .

Karena itu, orang mukmin tidak perlu takut dengan jin, sebagaimana yang sering digambarkan di televisi. Jin sama sekali tidak memiliki kemampuan mencelakakan manusia selama dia menjaga imannya dan bertawakkal kepada Allah.

Sementara ketika ada orang yang dicelakakan oleh jin, itu bukan karena jin memiliki kekuatan yang hebat, namun karena orang ini membuka peluang bagi setan untuk mengendalikan dirinya. Sehingga jadilah dia budak setan, seperti yang terjadi pada dukun dan peramal.

Allah berfirman menceritakan keadaan orang munafik,

اسْتَحْوَذَ عَلَيْهِمُ الشَّيْطَانُ فَأَنْسَاهُمْ ذِكْرَ اللَّهِ أُولَئِكَ حِزْبُ الشَّيْطَانِ أَلَا إِنَّ حِزْبَ الشَّيْطَانِ هُمُ الْخَاسِرُونَ

Setan telah menguasai mereka lalu menjadikan mereka lupa mengingat Allah; mereka Itulah golongan setan. ketahuilah, bahwa sesungguhnya golongan setan itulah golongan yang merugi. (QS. Mujadilah: 19).

Kata As-Sudi – ahli tafsir zaman tabiin – (w. 127 H) menjelaskan ayat ini,

وهذا أيضًا تودد منهم إليهم، فإنهم كانوا يصانعون هؤلاء وهؤلاء؛ ليحظوا عندهم ويأمنوا كيدهم، وما ذاك إلا لضعف إيمانهم، وقلة إيقانهم

Ini karena mereka saling mencintai, karena satu sama lain melakukan hubungan saling menguntungkan, untuk saling mengambil manfaat dan menghindari tipu daya lawannya. Itu terjadi karena lemahnya iman mereka dan tipisnya keyakinan mereka. (Ibnu Katsir, 2/436)

Ternyata Jin Lebih Takut kepada Manusia

Imam Mujahid – ulama besar, ahli tafsir tabiin, muridnya Ibnu Abbas – (w. 104 H), beliau menceritakan,

بينا انا ذات ليلة أصلي إذ قام مثل الغلام بين يدي قال فشددت عليه لآخذه فقام فوثب فوقع خلف الحائط حتى سمعت وقعته فما عاد إلي بعد ذلك

“Suatu malam ketika saya sedang melaksanakan shalat, tiba-tiba muncul makhluk sebesar anak laki-laki di hadapan saya. Lalu saya desak dia untuk menangkapnya. Tiba-tiba dia bangun dan lompat ke belakang dinding sehingga saya mendengar jatuhnya. Setelah itu, dia tidak penah datang lagi.” (Riwayat Ibnu Abi Dunya).

Dalam riwayat lain, Imam Mujahid menegaskan,

الشيطان أشد فرقا من أحدكم منه فإن تعرض لكم فلا تفرقوا منه فيركبكم ولكن شدوا عليه فإنه يذهب

“Setan itu sebenarnya sangat takut terhadap kalian (manusia), melebihi ketakutan kalian kepadanya. Oleh karena itu, setan menampakkan diri kepada kalian, janganlah kalian lari ketakutan. Karena jika kalian takut, ia akan menunggangi kalian (mengganggu), akan tetapi bersikaplah keras kepadanya, pasti dia akan pergi”. (Riwayat Ibn Abi Dunya)

Semoga Allah melindungi kita dari tipuan setan.

Dijawab oleh ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina KonsultasiSyariah.com)

Apakah Jin Bisa Mati?

Kematian Jin

Pertanyaan:

Salam. Apakah Jin Bisa Mati? dan bagaimana dengan iblis? berapa usianya.

Dari: Bocah

Jawaban:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala rasulillah, wa ba’du,

Pertama, sesungguhnya semua makhluk bisa mati dan binasa. Dan itu keyakinan kita sebagaimana yang telah Allah firmankan:

كُلُّ مَنْ عَلَيْهَا فَانٍ (26) وَيَبْقَى وَجْهُ رَبِّكَ ذُو الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ (27) فَبِأَيِّ آلَاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ

“Semua yang ada di atas bumi akan binasa. Dan kekal wajah Rabmu Dzat pemilik keagungan dan kemuliaan karena itu. Nikmat Tuhan yang mana lagi yang kalian dustakan.” (QS. Ar-Rahman: 26 – 28)

Semua makhluk, apapun dan siapapun dia, bisa mati dan binasa, sesuai dengan apa yang Allah kehendaki.

Kedua, diantara golongan jin, ada yang bernama Iblis. Dalil bahwa iblis termasuk golongan jin dan bukan malaikat adalah firman Allah

وَإِذْ قُلْنَا لِلْمَلَائِكَةِ اسْجُدُوا لِآدَمَ فَسَجَدُوا إِلَّا إِبْلِيسَ كَانَ مِنَ الْجِنِّ فَفَسَقَ عَنْ أَمْرِ رَبِّهِ

“Ingatlah ketika Aku perintahkan kepada para malaikat, sujudlah kalian kepada Adam. Merekapun sujud, kecuali Iblis. Dia termasuk golongan jin, dan inkar kepada perintah Tuhannya.” (QS. Al-Kahfi: 50).

Untuk makhluk yang satu ini, telah Allah berikan jaminan, tidak akan mati sampai kiamat. Allah mengkisahkan dalam Alquran. Setelah Iblis diusir untuk turun ke bumi karena sikapnya yang sombong, Iblis minta syarat kepada Allah:

قَالَ رَبِّ فَأَنْظِرْنِي إِلَى يَوْمِ يُبْعَثُونَ

“Iblis berkata: Ya Tuhanku, berilah aku waktu sampai hari mereka (manusia) dibangkitkan.”

Allah merespon keinginan Iblis:

قَالَ فَإِنَّكَ مِنَ الْمُنْظَرِينَ ( ) إِلَى يَوْمِ الْوَقْتِ الْمَعْلُومِ

“Allah berfirman: “Sesungguhnya kamu termasuk orang yang diberi waktu. Sampai batas waktu yang telah ditentukan.” (QS. Al-Hijr: 37 – 38).

Dalam Tafsir al-Jalalain dinyatakan:

وقت النفخة الأولى

“Yaitu waktu tiupan sangkakala yang pertama.” (al-Jalalain, Al-Hijr: 38).

Berdasarkan firman Allah di atas, Iblis ditetapkan oleh Allah sebagai makhluk yang tidak akan mati sampai hari kiamat.

Ketiga, golongan jin selain Iblis, bisa mati sebelum kiamat. Karena jin termasuk keumuman firman Allah di surat Ar-Rahman di atas.

Sedangkan beberapa dalil sunah yang menunjukkan bahwa jin bisa mati sebelum kiamat,

1. Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma meriwayatkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam salah satu doanya, beliau melantunkan:

أَعُوذُ بِعِزَّتِكَ، الَّذِي لاَ إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ الَّذِي لاَ يَمُوتُ، وَالجِنُّ وَالإِنْسُ يَمُوتُونَ

“Aku berlindung dengan kemuliaan-Mu yang tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Engkau. Dzat yang tidak akan mati. Sementara jin dan manusia akan mati.” (HR. Bukhari no. 7383 dan Muslim no. 2717)

2. Khalid bin Walid radhiyallahu ‘anhu, pernah diperintahkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk menghancurkan Uzza. Pohon keramat yang disembah orang musyrik jahiliyah. Setelah khalid bin walid menebang ketiga pohon yang dikeramatkan di tempat itu, dan membantai setiap orang yang mencoba menghalangi, beliau menghadap Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau bersabda:

ارجع فإنك لم تصنع شيئا

“Kembali, kamu belum melakukan apapun.”

Khalid pun segera kembali. Tiba-tiba banyak orang naik ke bukit. Mereka memanggil-manggil; “Wahai Uzza, Wahai Uzza.” Khalid pun mendatanginya. Ternyata ada wanita telanjang, rambutnya terjuntai, di atas kepalanya ada pasirnya. Khalid dengan sigap menusukkan pedangnya, sampai dia mati. Setelah diceritakan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda:

تلك العزى

“Itulah Uzza.” (HR. Nasai dalam Sunan al-Kubro 11547, al-Mushili dalam Musnad-nya 866).

3. Kisah seorang sahabat muda yang membunuh ular jadi-jadian yang ada di rumahnya. Sebagaimana disebutkan dalam hadis riwayat Muslim.

Allahu a’lam

Referensi: ‘Alamul Jinni wa asy-Syayathiin, Dr. Umar Sulaiman Al-Asyqar.

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina KonsultasiSyariah.com)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *