Akses Menuju Laut Di Persempit Adanya Tanggul, Babinsa Koramil 0602-11/Tirtayasa Perjuangkan Normalisasi Kali

oleh -624 Dilihat
oleh

KAB, SERANG, antero.co – Warga nelayan desa Tenjo Ayu, kecamatan Tanara resah dengan adanya penanggulan muara Cikopo Lama yang terletak di desa Tengkurak, kecamatan Tirtayasa yang diduga dilakukan oleh orang-orang suruhan GT.

Babinsa Koramil 0602/tirtayasa, koptu Sujai putra daerah Tenjo ayu yang di mintai keterangan oleh media menjelaskan benar adanya pembuatan tanggul empang yang di lakukan Oleh GT.

Lanjut Babinsa menyayangkan tidak ada musyawarah dengan warga. Dengan di buatnya tanggagul akan berdampak kepada lingkungan jika musim penghujan dan petani tambak tidak akan mendapatkan air, tambak tambak jadi mengering, saya sebagai putra daerah sangat menyayangkan apa yang di lakukan oleh GT. Pungkasnya.

“Seharusnya GT adakan musyawarah dengan warga dan adakan normalisasi kali sebelum pembuatan tanggul ucap babinsa.

Ditemui di kediamannya, Aryana Ketua Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) kecamatan Tanara menyesalkan sikap GT yang melakukan penanggulan muara Cikopo Lama yang merupakan akses keluar masuknya perahu nelayan menuju laut.

“Kami sangat menyesalkan atas tindakan GT yang semena-mena membuat tanggul di muara tanpa mempertimbangkan kebutuhan nelayan, karena muara itu akses satu- satunya perahu nelayan menuju ke laut”, Tuturnya, minggu (11/06/2023).

Lanjut Aryana,”Tanggul yang dibuat oleh GT hanya menyisakan 11 meter untuk muka dan 13 meter untuk bagian dalamnya, sedangkan kami para nelayan menginginkan lebar minimal 20 meter dengan kedalaman air muara 3 meter “,Jelasnya.

“Bukan hanya untuk lalu lintas perahu nelayan saja, jika muara itu benar-benar ditanggul dengan menyisakan lebar 11 dan 13 meter saja, maka desa disekitaran bantaran sungai Ciujung, seperti Cerukcuk, Laban, Lempuyang, Tenjo Ayu dan Tengkurak dipastikan banjir saat musim penghujan tiba”,Tutur Aryana dengan mimik cemas.

Aryana membeberkan kronologis kegiatan pembuatan tanggul yang dilakukan oleh GT yang sudah berjalan sekitar 2 bulan.

“Konflik ini sudah 2 bulan, GT beralasan pembuatan tanggul untuk empang tersebut di lakukan karena Ia mengantongi AJB tahun 1992.

“Kami sudah lakukan langkah-langkah persuasif, dengan mendatangi Camat kecamatan Tirtayasa, kemudian bersama- sama meninjau lokasi muara yang ditanggul”, Jelas Ketua HNSI kecamatan Tanara ini.

“Kami juga mendatangi Polres Serang terkait aksi penolakan tanggul yang dilakukan oleh para nelayan, yang menyebabkan 3 orang dari nelayan,warga desa Tenjo Ayu mendapat panggilan untuk dimintai keterangannya di Polres Serang, saya bersama-sama nelayan hadir untuk memberikan dukungan moril kepada ke 3 nelayan yang dilaporkan oleh GT”, Beber Aryana.

Diakhir obrolan Aryana mengungkapkan, HNSI kecamatan Tanara dalam waktu dekat akan gelar aksi unjuk rasa di depan pendopo Bupati Serang.

“Kami sedang susun rencana untuk melakukan aksi unjuk rasa di depan Pendopo Bupati Serang, tujuannya tentu saja untuk mendapatkan rasa keadilan bagi para nelayan.Suara kami, aspirasi kami agar didengar oleh Ibu Bupati, Ungkapnya.

( Kamsar )

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.